Mereka datang membawa ransel, kamera, dan mungkin satu harapan sederhana pulang dengan cerita indah dari Indonesia. Tapi Minggu siang itu, perjalanan Jurgen (54) dan Astrid (56), dua wisatawan asal Austria, justru berhenti di dasar bebatuan Air Terjun Cunca Wulang, Manggarai Barat.
Tabooo.id: Sebuah jembatan gantung kayu Air terjun Cunca Wulang yang mereka pijak mendadak ambruk. Liburan berubah menjadi tragedi. “Keduanya langsung terjatuh ke bawah. Tepat di bebatuan,” ujar Kepala Kantor SAR Maumere, Fathur Rahman, saat dikonfirmasi pada Minggu (24/05/2026).
Jembatan itu berdiri sekitar 10 meter di atas dasar sungai. Menurut informasi awal tim SAR, papan kayu di lintasan mendadak hancur ketika kedua korban melintas menuju kawasan air terjun.
Saat tim SAR gabungan tiba sekitar pukul 13.17 WITA, Jurgen dan Astrid sudah tidak bernyawa. Petugas lalu mengevakuasi jasad korban secara manual. Mereka berjalan kaki sekitar 30 menit menuju area parkir ambulans sebelum membawa keduanya ke RSUD Merombok.
Namun pertanyaannya tidak berhenti di lokasi kejadian bagaimana tempat wisata yang dijual sebagai surga justru menyimpan risiko yang nyaris tak terlihat?
Liburan Aman, Tapi Seberapa Aman?
Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Labuan Bajo, Charles Christian Mathaus, memastikan kedua korban masuk ke Indonesia secara legal menggunakan visa wisata.
Mereka tiba melalui Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, pada 14 Mei 2026. Tujuannya sederhana: berwisata.
“Kami sudah menghubungi Direktorat Imigrasi NTT, pihak pusat, serta konsuler Kementerian Luar Negeri. Nanti akan diterbitkan notifikasi kepada pihak kedutaan,” jelas Charles.
Di atas kertas, semuanya tampak normal. Korban masuk legal. Jalur wisata resmi. Tiket masuk tercatat. Bahkan menurut Wakil Bupati Manggarai Barat, dr. Yulianus Weng, keduanya melewati jalur trekking yang semestinya.
“Soal kondisi jembatan sebelumnya, belum ditahu pasti kondisinya,” kata Yulianus.
Kalimat itu sederhana, tapi terasa berat. Sebab ketika fasilitas wisata gagal diuji sebelum tragedi datang, pertanyaan tentang tanggung jawab menjadi sulit dihindari.
Surga Alam, Tapi Infrastruktur Rapuh?
Pengamat pariwisata dari Universitas Udayana, I Putu Anom (dalam berbagai kajian keamanan destinasi wisata Indonesia), pernah mengingatkan bahwa wisata alam Indonesia sering unggul pada panorama, tetapi tertinggal dalam manajemen risiko.
“Keamanan destinasi bukan tambahan. Itu bagian utama dari pengalaman wisata,” ujarnya dalam sejumlah diskusi akademik soal pengelolaan destinasi.
Sosiolog pariwisata dari Universitas Gadjah Mada, Prof. Sunyoto Usman, juga pernah menilai bahwa banyak daerah terlalu fokus menjual keindahan tanpa audit keselamatan yang rutin.
Masalahnya, wisata bukan hanya soal foto indah di Instagram. Wisata adalah soal rasa aman.
Ketika wisatawan asing kehilangan nyawa akibat fasilitas yang diduga rapuh, yang ikut jatuh bukan cuma jembatan. Kepercayaan juga ikut retak.
Evaluasi atau Sekadar Respons Sesaat?
Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat kini menjanjikan evaluasi besar-besaran.
“Langkah pemerintah kabupaten akan melakukan evaluasi. Tidak hanya yang ada di Cunca Wulang, tetapi di semua destinasi,” kata Wakil Bupati Manggarai Barat, dr. Yulianus Weng.
Janji evaluasi tentu penting. Tapi publik juga berhak bertanya kenapa evaluasi sering datang setelah nyawa melayang? Ini bukan sekadar kecelakaan wisata.
Ini alarm keras tentang cara kita memperlakukan keselamatan di tempat-tempat yang kita promosikan sebagai surga dunia.
Indonesia ingin menjadi destinasi wisata kelas global. Labuan Bajo bahkan menjadi etalase pariwisata premium. Tapi standar keamanan tak bisa berhenti di brosur indah dan pemandangan eksotis.
Karena pada akhirnya, wisatawan datang membawa kepercayaan. Dan sekali rasa aman runtuh, memperbaikinya jauh lebih sulit dibanding membangun jembatan baru. @teguh





