Minggu, Agustus 23, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Sertifikasi Naik, Tekanan Ikut Naik: Kisah Sunyi di Balik Profesi Guru

by teguh
Mei 2, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on Facebook
Share on Twitter
Pagi itu, di sebuah ruang kelas sederhana pada masa awal kemerdekaan, seorang guru berdiri tanpa seragam resmi, tanpa tunjangan, bahkan tanpa kepastian gaji. Namun ia tetap mengajar.

Tabooo: Life – Hari ini, puluhan tahun setelahnya, ruang kelas berubah. Sistem berubah. Tapi satu hal tetap sama: guru masih berdiri di garis depan dengan beban yang kini tak lagi sekadar mengajar, tapi juga memenuhi standar.

Tanggal 2 Mei, yang diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), seolah menjadi cermin sudah sejauh mana kita benar-benar memahami perjuangan guru?

Fakta & Realita Hari Ini

Pemerintah kini mendorong profesionalisme guru melalui sertifikasi. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, pada Kamis (30/04/2026) menyatakan:

“Sebelumnya, jumlah guru yang tersertifikasi hanya 65 persen Tahun 2026 ini meningkat menjadi 92 persen atau sekitar 2,7 juta guru.”

Instruksi ini datang langsung dari Presiden Prabowo Subianto, dengan harapan sederhana semakin banyak guru tersertifikasi, semakin sejahtera dan profesional mereka.

Secara sistem, ini terlihat seperti kemajuan. Tapi di level manusia, ceritanya tidak sesederhana angka.

Ini Belum Selesai

Ketika Jadi Camat Berarti Harus Menjawab 21.171 Orang Sekaligus

30 Menit Anak-anak Najaten Melawan Jarak

Konflik: Idealism vs Realita Profesi

Dulu, guru mengajar karena panggilan.

Ki Hadjar Dewantara tokoh pendidikan yang menjadi alasan 2 Mei diperingati sebagai Hardiknas. pernah menegaskan:

“Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.”

Seorang guru bukan sekadar pengajar. Ia teladan, penggerak, dan pendorong.

Namun hari ini, guru juga harus:

  • memenuhi 24 jam mengajar per minggu
  • mengejar penilaian kinerja “baik”
  • memastikan data masuk ke sistem Dapodik
  • menjaga status administratif tetap valid

Idealism bertemu realita. Dan sering kali, yang kalah adalah waktu untuk benar-benar “mengajar dengan hati.”

Dampak Nyata (Human Impact)

1. Guru: Antara Dedikasi dan Tekanan

Guru kini tidak hanya mengajar, tapi juga mengurus administrasi yang kompleks.

Menurut pengamat pendidikan, Prof. H.A.R. Tilaar, pendidikan modern sering terjebak pada “industrialisasi sistem,” di mana manusia diukur lewat standar, bukan makna.

Guru akhirnya berada di posisi sulit mengajar sebagai panggilan, tapi dinilai sebagai angka.

2. Murid: Kehilangan Kehangatan

Ketika guru sibuk mengejar target administratif, relasi dengan murid perlahan berubah.

Belajar jadi formal. Bukan lagi ruang tumbuh, tapi ruang memenuhi kurikulum.

Padahal, seperti kata filsuf pendidikan Paulo Freire (1970):

“Pendidikan seharusnya membebaskan, bukan sekadar mentransfer pengetahuan.”

3. Orang Tua: Harapan vs Kenyataan

Orang tua berharap sekolah membentuk karakter anak. Namun di sisi lain, sistem mendorong guru fokus pada capaian formal. Akhirnya, muncul jarak antara ekspektasi dan realita.

Twist (Tabooo Insight)

Ini bukan sekadar program sertifikasi.

Ini adalah perubahan cara kita memandang guru. Dari “figur manusia” menjadi “bagian dari sistem.”

Dan pertanyaannya sederhana, tapi mengganggu ketika guru terlalu sibuk menjadi profesional, apakah mereka masih punya ruang untuk menjadi manusia?

Refleksi Hardiknas: Pesan Tersurat & Tersirat

Tersurat:
Negara ingin meningkatkan kualitas dan kesejahteraan guru.

Tersirat:
Ada ketakutan bahwa tanpa standar, pendidikan akan tertinggal.

Namun sejarah mengajarkan hal lain. Pada masa kemerdekaan, guru mengajar tanpa sertifikasi. Tapi mereka berhasil membentuk generasi yang berani melawan penjajahan.

Sejarawan Ong Hok Ham pernah menyinggung bahwa kekuatan pendidikan Indonesia di awal bukan pada sistemnya, tapi pada “semangat manusia di dalamnya.”

Inspirasi untuk Generasi Sekarang

Dari perjalanan ini, ada tiga pelajaran penting:

  • Menjadi guru bukan sekadar profesi, tapi peran sosial
  • Sistem penting, tapi tidak boleh mematikan sisi manusia
  • Pendidikan terbaik lahir dari relasi, bukan regulasi

Closing (Reflektif)

Hardiknas bukan hanya tentang mengenang masa lalu atau merayakan program baru.

Ini tentang bertanya ulang kita ingin mencetak guru seperti apa?, Yang memenuhi standar? Atau yang mampu mengubah hidup manusia?

Karena pada akhirnya, pendidikan tidak pernah benar-benar tentang angka. Ia selalu tentang manusia.

Kalimat Nyentil

Kalau guru terus diukur dengan angka, jangan kaget kalau pendidikan kehilangan rasa. @teguh

Tags: guruHardiknasKisahpresidenProgramRealitaSertifikasiSistemTekananWakil Menteri Pendidikan

Kamu Melewatkan Ini

MK Tutup Celah Relawan Laporkan Penghinaan Presiden

MK Tutup Celah Relawan Laporkan Penghinaan Presiden

by dimas
Agustus 12, 2026

MK menegaskan hanya Presiden atau Wakil Presiden yang dapat melaporkan dugaan penghinaan. Relawan dan simpatisan tak bisa mengadu. Tabooo.id -...

PGRI Kritik RUU Sisdiknas: Guru Butuh Kepastian, Bukan Janji

PGRI Kritik RUU Sisdiknas: Guru Butuh Kepastian, Bukan Janji

by dimas
Agustus 11, 2026

PGRI mengkritik RUU Sisdiknas yang dinilai belum menjamin kesejahteraan, kepastian profesi, dan tata kelola guru secara jelas. Tabooo.id: Jakarta -...

ASN Hadir Virtual, Negara Masuk Dimensi Metafisik?

ASN Hadir Virtual, Negara Masuk Dimensi Metafisik?

by teguh
Mei 8, 2026

Lampu kantor pemerintahan masih menyala. Fingerprint tetap hijau. Notifikasi “present” terus muncul. Masalahnya cuma satu orangnya tidak ada. Tabooo.id -...

Next Post
Hardiknas 2026: Saat Anak Dikenyangkan, Tapi Nalarnya Terabaikan?

Hardiknas 2026: Saat Anak Dikenyangkan, Tapi Nalarnya Terabaikan?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id