Pagi itu, di sebuah ruang kelas sederhana pada masa awal kemerdekaan, seorang guru berdiri tanpa seragam resmi, tanpa tunjangan, bahkan tanpa kepastian gaji. Namun ia tetap mengajar.
Tabooo: Life – Hari ini, puluhan tahun setelahnya, ruang kelas berubah. Sistem berubah. Tapi satu hal tetap sama: guru masih berdiri di garis depan dengan beban yang kini tak lagi sekadar mengajar, tapi juga memenuhi standar.
Tanggal 2 Mei, yang diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), seolah menjadi cermin sudah sejauh mana kita benar-benar memahami perjuangan guru?
Fakta & Realita Hari Ini
Pemerintah kini mendorong profesionalisme guru melalui sertifikasi. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, pada Kamis (30/04/2026) menyatakan:
“Sebelumnya, jumlah guru yang tersertifikasi hanya 65 persen Tahun 2026 ini meningkat menjadi 92 persen atau sekitar 2,7 juta guru.”
Instruksi ini datang langsung dari Presiden Prabowo Subianto, dengan harapan sederhana semakin banyak guru tersertifikasi, semakin sejahtera dan profesional mereka.
Secara sistem, ini terlihat seperti kemajuan. Tapi di level manusia, ceritanya tidak sesederhana angka.
Konflik: Idealism vs Realita Profesi
Dulu, guru mengajar karena panggilan.
Ki Hadjar Dewantara tokoh pendidikan yang menjadi alasan 2 Mei diperingati sebagai Hardiknas. pernah menegaskan:
“Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.”
Seorang guru bukan sekadar pengajar. Ia teladan, penggerak, dan pendorong.
Namun hari ini, guru juga harus:
- memenuhi 24 jam mengajar per minggu
- mengejar penilaian kinerja “baik”
- memastikan data masuk ke sistem Dapodik
- menjaga status administratif tetap valid
Idealism bertemu realita. Dan sering kali, yang kalah adalah waktu untuk benar-benar “mengajar dengan hati.”
Dampak Nyata (Human Impact)
1. Guru: Antara Dedikasi dan Tekanan
Guru kini tidak hanya mengajar, tapi juga mengurus administrasi yang kompleks.
Menurut pengamat pendidikan, Prof. H.A.R. Tilaar, pendidikan modern sering terjebak pada “industrialisasi sistem,” di mana manusia diukur lewat standar, bukan makna.
Guru akhirnya berada di posisi sulit mengajar sebagai panggilan, tapi dinilai sebagai angka.
2. Murid: Kehilangan Kehangatan
Ketika guru sibuk mengejar target administratif, relasi dengan murid perlahan berubah.
Belajar jadi formal. Bukan lagi ruang tumbuh, tapi ruang memenuhi kurikulum.
Padahal, seperti kata filsuf pendidikan Paulo Freire (1970):
“Pendidikan seharusnya membebaskan, bukan sekadar mentransfer pengetahuan.”
3. Orang Tua: Harapan vs Kenyataan
Orang tua berharap sekolah membentuk karakter anak. Namun di sisi lain, sistem mendorong guru fokus pada capaian formal. Akhirnya, muncul jarak antara ekspektasi dan realita.
Twist (Tabooo Insight)
Ini bukan sekadar program sertifikasi.
Ini adalah perubahan cara kita memandang guru. Dari “figur manusia” menjadi “bagian dari sistem.”
Dan pertanyaannya sederhana, tapi mengganggu ketika guru terlalu sibuk menjadi profesional, apakah mereka masih punya ruang untuk menjadi manusia?
Refleksi Hardiknas: Pesan Tersurat & Tersirat
Tersurat:
Negara ingin meningkatkan kualitas dan kesejahteraan guru.
Tersirat:
Ada ketakutan bahwa tanpa standar, pendidikan akan tertinggal.
Namun sejarah mengajarkan hal lain. Pada masa kemerdekaan, guru mengajar tanpa sertifikasi. Tapi mereka berhasil membentuk generasi yang berani melawan penjajahan.
Sejarawan Ong Hok Ham pernah menyinggung bahwa kekuatan pendidikan Indonesia di awal bukan pada sistemnya, tapi pada “semangat manusia di dalamnya.”
Inspirasi untuk Generasi Sekarang
Dari perjalanan ini, ada tiga pelajaran penting:
- Menjadi guru bukan sekadar profesi, tapi peran sosial
- Sistem penting, tapi tidak boleh mematikan sisi manusia
- Pendidikan terbaik lahir dari relasi, bukan regulasi
Closing (Reflektif)
Hardiknas bukan hanya tentang mengenang masa lalu atau merayakan program baru.
Ini tentang bertanya ulang kita ingin mencetak guru seperti apa?, Yang memenuhi standar? Atau yang mampu mengubah hidup manusia?
Karena pada akhirnya, pendidikan tidak pernah benar-benar tentang angka. Ia selalu tentang manusia.
Kalimat Nyentil
Kalau guru terus diukur dengan angka, jangan kaget kalau pendidikan kehilangan rasa. @teguh




