Tabooo.id: Check – Di jagat maya, sebuah unggahan Facebook ramai dibagikan. Isinya tangkapan layar artikel dengan judul bombastis:
“Muhammad Qodari Usulkan Gibran Jadi Pahlawan Nasional, Jasanya Melebihi Soekarno dan Soeharto.”
Kalimatnya nendang banget, sampai bikin banyak netizen tepuk jidat.
Unggahan itu bahkan menampilkan logo media daring dan gaya penulisan berita sungguhan lengkap dengan foto dan tanggal publikasi.
Seolah-olah, Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Muhammad Qodari beneran mengusulkan Gibran Rakabuming Raka, sang Wakil Presiden muda, untuk jadi pahlawan nasional.
Lucunya lagi, dalam narasi yang menyebar, Qodari disebut menilai jasa Gibran lebih besar dari dua tokoh sejarah Indonesia: Soekarno dan Soeharto.
Warganet pun langsung terbagi dua kubu ada yang percaya mentah-mentah, dan ada yang nyengir sinis sambil bilang,
“Lah, baru juga jadi Wapres, udah mau disamain sama Proklamator?”
FAKTA ASLINYA NGGAK BEGITU
Setelah ditelusuri lebih dalam, klaim tersebut ternyata HOAKS alias konten hasil manipulasi.
Tim Cek Fakta Tabooo.id menggunakan metode reverse image search teknik buat melacak asal gambar atau tangkapan layar di internet.
Hasilnya cukup jelas: artikel yang beredar itu bukan berita asli tentang “usulan pahlawan nasional”, melainkan hasil editan judul dari berita Sindonews.
Berita aslinya berjudul:
“Hari Ini Sidang Gugatan Ijazah SMA Gibran Digelar di PN Jakarta Pusat.”
Isinya membahas soal sidang gugatan perdata terkait ijazah SMA Gibran yang diajukan oleh warga bernama Subhan, bukan tentang penghargaan atau gelar kepahlawanan.
Foto, nama penulis, bahkan waktu tayangnya sama persis yang diubah cuma judulnya agar terlihat sensasional dan mudah dipercaya.
Dengan kata lain, judulnya diganti, isinya disesatkan, niatnya biar viral.
KENAPA BANYAK YANG KETIPU?
Fenomena ini bukan hal baru.
Model hoaks seperti ini sering disebut “screenshot manipulatif” tangkapan layar yang diubah sedikit, tapi dampaknya besar.
Kenapa banyak yang tertipu?
Karena tampilannya terlihat meyakinkan. Font-nya mirip media nasional, logonya dicomot mentah-mentah, dan judulnya dibikin dramatis biar menggugah emosi.
Ditambah lagi, kebiasaan kita yang suka scroll dulu, mikir belakangan.
Padahal kalau dibaca teliti, gaya bahasanya aja udah aneh kadang tanpa tanda baca, kadang nyeleneh kayak status Facebook pribadi.
Tapi karena netizen sering cuma baca headline tanpa klik sumber aslinya, akhirnya banyak yang termakan.
Ingat, hoaks itu kayak mie instan: bikin kenyang cepat, tapi bisa bikin perut informasi jadi gak sehat.
STOP SEBELUM IKUT DOSA DIGITAL
Jadi, buat para pejuang scroll timeline, yuk belajar jadi warga digital yang cerdas.
Kalau nemu berita aneh tapi rame dibicarakan, cek dulu sebelum klik share.
Gunakan logika sederhana:
“Masuk akal gak sih kalau pejabat ngomong kayak gitu?”
Lihat tanggal, periksa sumber, dan kalau perlu, bandingkan dengan portal berita lain yang kredibel.
Karena sekali kamu bantu sebarin hoaks, sama aja kayak ngasih free promotion buat kebodohan kolektif di dunia maya.
Internet bisa jadi tempat mencari kebenaran, tapi juga bisa jadi ladang dosa digital kalau dipakai sembarangan.
Jadi sebelum jari gatal buat klik “bagikan,” ingat pesan bijak ini:
“Sebelum share, cek dulu biar gak ikut dosa digital.” @dimas




