Pagi belum sepenuhnya terang ketika sejumlah siswa sekolah dasar di wilayah kepulauan bersiap menaiki perahu kecil menuju laut terbuka. Mereka bukan nelayan kecil yang mengikuti orang tuanya melaut, melainkan murid-murid yang sedang mengejar satu hal yang sama dengan jutaan siswa lain di Indonesia: mengikuti ujian sekolah. Bedanya, untuk sampai ke ruang ujian, mereka harus menyeberangi lautan selama berjam-jam dari Kabupaten Kepulauan Yapen menuju SD Integral Lukman Al Hakim Serui.
Tabooo.id: Deep – Kisah perjalanan siswa dari SD Negeri Awado yang harus mengarungi laut hingga enam jam demi mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) membuka kembali kenyataan lama pendidikan Indonesia: akses belajar belum sepenuhnya setara. Di satu sisi, sistem evaluasi pendidikan bergerak menuju digitalisasi dan standar nasional. Di sisi lain, sebagian anak masih harus menempuh perjalanan panjang, meminjam perangkat, dan bergantung pada solidaritas sekolah lain hanya untuk bisa duduk di depan layar komputer dan mengerjakan soal yang sama dengan siswa di kota.
Perjalanan menuju tempat ujian bukan sekadar rute sekolah biasa. Para siswa harus menaiki perahu kecil dan mengarungi perairan menuju kota Serui. Dalam kondisi laut tenang, perjalanan dapat ditempuh sekitar empat jam. Namun ketika ombak meninggi, waktu tempuh bisa mencapai enam jam.
Tujuan mereka adalah SD Integral Lukman Al Hakim Serui sekolah yang memiliki perangkat komputer dan akses internet yang memungkinkan pelaksanaan ujian berbasis digital.
Bagi anak-anak di wilayah kepulauan itu, mengikuti ujian berbasis teknologi berarti berhadapan langsung dengan tantangan geografis.
“Kami harus menyeberang laut. Jika ombak besar, perjalanan bisa sampai enam jam. Setelah tiba di Serui, kami juga harus mencari tempat menginap untuk anak-anak,” ujar Muhajir, kepala sekolah SD Negeri Awado, Selasa (28/4/2026).
Perjalanan tersebut menjadi gambaran ironi pendidikan Indonesia: ketika sistem pendidikan bergerak menuju digitalisasi, sebagian siswa masih harus berjuang keras hanya untuk mencapai ruang ujian.
Ketika Laut Menjadi Koridor Pendidikan
Di banyak kota besar, ujian digital hanya berarti masuk ke ruang laboratorium komputer dan mengakses sistem ujian. Namun di wilayah kepulauan seperti Kabupaten Kepulauan Yapen, keterbatasan perangkat dan jaringan internet membuat sekolah harus mencari cara agar murid tetap dapat mengikuti TKA.
Solusi yang muncul adalah kolaborasi.
Pihak SD Integral Lukman Al Hakim Serui berkoordinasi dengan dinas pendidikan setempat untuk memastikan listrik dan koneksi internet tersedia selama pelaksanaan ujian. Sementara kekurangan perangkat komputer diatasi melalui bantuan orang tua dan guru.
“Beberapa orang tua bahkan bersedia meminjamkan laptop pribadi agar anak-anak tetap bisa mengikuti ujian,” kata Mahfud Fauzi, kepala sekolah SD Integral Lukman Al Hakim.
Ruang laboratorium komputer pun berubah menjadi ruang solidaritas. Perangkat yang berbeda-beda dikumpulkan agar puluhan siswa dari sekolah lain tetap dapat mengakses sistem ujian yang sama.
Namun di balik semangat gotong royong itu, satu kenyataan tetap terlihat: akses pendidikan yang setara masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Perjuangan Serupa di Kota
Keterbatasan fasilitas ternyata tidak hanya terjadi di wilayah terpencil. Di SDN Cipayung 01 Ciputat di Tangerang Selatan, sekolah juga harus mencari cara agar 89 siswa kelas VI dapat mengikuti TKA.
Sekolah tersebut hanya memiliki 11 komputer di laboratorium.
Agar seluruh siswa dapat mengikuti ujian, pihak sekolah meminjam laptop dari SDN Cipayung 02 Ciputat serta menggunakan perangkat pribadi milik para guru.
“Kami benar-benar menjaga perangkat yang dipinjam agar tidak terjadi gangguan teknis. Ini menjadi pengalaman baru bagi kami, dan semuanya dipersiapkan dengan sangat serius,” ujar Lina Marlina, kepala sekolah SDN Cipayung 01 Ciputat.
Pelaksanaan ujian akhirnya dibagi ke dalam beberapa sesi. Dengan cara tersebut, seluruh siswa tetap dapat mengikuti TKA meskipun fasilitas sekolah terbatas.
Pendidikan yang Ditopang Banyak Tangan
Situasi serupa juga terjadi di SD Negeri 1 Bantul di Bantul. Sekolah tersebut harus membagi 113 siswa kelas VI ke dalam beberapa sesi ujian karena keterbatasan perangkat.
Laptop tambahan dari para guru digunakan untuk menutup kekurangan fasilitas.
Di balik keterbatasan tersebut, tampak satu hal yang sama pendidikan berjalan karena kerja kolektif. Guru, orang tua, dan sekolah saling menopang agar anak-anak tetap dapat mengikuti ujian.
Menurut Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, kondisi ini mencerminkan kolaborasi berbagai pihak dalam dunia pendidikan.
“TKA bertujuan mengukur kemampuan literasi murid Indonesia. Kolaborasi antarsekolah, dukungan orang tua, dan kegigihan murid menunjukkan bahwa pembangunan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Potret Dua Wajah Pendidikan
Pelaksanaan TKA jenjang SD berlangsung pada 20-30 April 2026. Secara nasional, sekitar 4.452.982 siswa atau 98 persen peserta mengikuti ujian di lebih dari 172 ribu satuan pendidikan di seluruh Indonesia.
Namun angka partisipasi yang tinggi itu menyimpan cerita berbeda di setiap daerah.
Di sebagian tempat, ujian berlangsung di ruang laboratorium modern dengan jaringan internet stabil. Di tempat lain, anak-anak harus menempuh perjalanan laut berjam-jam hanya untuk duduk di depan komputer.
Dua realitas itu memperlihatkan wajah pendidikan Indonesia yang masih timpang.
Di satu sisi, sistem pendidikan terus bergerak menuju digitalisasi dan standar evaluasi nasional. Di sisi lain, akses terhadap fasilitas dasar komputer, listrik, dan internet belum sepenuhnya merata.
Namun di tengah segala keterbatasan itu, satu hal tetap terlihat kuat: tekad anak-anak untuk belajar.
Bagi siswa di Kepulauan Yapen, ujian bukan sekadar soal matematika atau bahasa. Ia adalah perjalanan secara harfiah melintasi laut untuk membuktikan bahwa kesempatan belajar tidak boleh berhenti hanya karena jarak. @dimas





