Harga PlayStation 5 kini tembus Rp11 juta. Karena itu, banyak orang mulai ragu untuk membeli. Dulu gaming terasa ringan. Namun sekarang, hobi ini mulai terasa mahal.
Tabooo.id: Life – Di kamar kecil dengan lampu redup, seseorang menatap layar. Bukan karena kalah game, tapi karena angka harga.
Kini, PlayStation 5 tembus Rp11 juta. Karena itu, satu pertanyaan muncul: masih bisa beli, atau harus mengalah?
Dulu, Gaming Itu Pelarian
Dulu, game jadi cara paling murah untuk kabur dari dunia nyata.
Setelah kerja, orang cukup menyalakan konsol, lalu masuk ke dunia lain. Tanpa banyak biaya, tanpa banyak beban.
Karena itu, gaming terasa seperti tempat aman yang selalu tersedia.
Sekarang, Gaming Butuh Modal
Namun sekarang, situasinya berubah.
Harga konsol naik. Selain itu, harga game juga ikut naik. Akibatnya, akses jadi makin sempit.
Bukan hanya soal membeli PlayStation 5. Lebih dari itu, seluruh ekosistemnya ikut terasa mahal.
Akhirnya, hobi yang dulu ringan mulai terasa berat.
Hobi vs Kebutuhan
Di titik ini, banyak orang mulai berhitung.
Pertama, bayar kos.
Lalu, kebutuhan makan.
Setelah itu, kebutuhan harian lain.
Baru kemudian, di bagian akhir, muncul keinginan membeli konsol.
Masalahnya, urutan itu tidak bisa dibalik.
Yang Pelan-Pelan Tersingkir
Memang, tidak semua orang akan berhenti gaming.
Namun, tidak semua orang juga bisa tetap ikut.
Di sinilah perubahan terasa. Gaming yang dulu terbuka untuk banyak orang, kini jadi lebih terbatas.
Sebagian masih bermain. Sementara itu, yang lain hanya bisa menonton.
Ini Bukan Sekadar Harga
Kenaikan ini bukan hanya soal angka.
Sebaliknya, ini soal akses. Siapa yang bisa menikmati hiburan, dan siapa yang harus menunda.
Ketika harga naik, batas antara “ingin” dan “mampu” jadi semakin jelas.
Realita yang Diam-Diam Terjadi
Tidak ada larangan untuk bermain game.
Namun, realita bekerja dengan caranya sendiri.
Perubahan ini terjadi perlahan. Tanpa suara. Tanpa peringatan.
Lalu, tanpa sadar, tidak semua orang masih ada di dalamnya.@eko





