Selasa, Oktober 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Roro Mendut dan Warisan Kuasa yang Belum Mati

by teguh
April 27, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Banyak orang menganggap Roro Mendut hanya legenda cinta dari tanah Jawa. Padahal, kisah itu menyimpan cerita tentang tubuh perempuan, ambisi kuasa, dan sistem lama yang masih bernapas sampai hari ini.
Di tengah banjir konten cepat dan debat soal kesetaraan, unggahan Historia.id pada Minggu, 27/04/2026, kembali membawa nama Roro Mendut ke ruang publik. Sosok ini terkenal bukan hanya karena parasnya, tetapi juga karena keberaniannya menolak kehendak penguasa. Saat seorang perempuan berani berkata tidak, kekuasaan sering kehilangan tenang.

Tabooo.id: Deep – Tradisi Jawa mengenal Roro Mendut sebagai perempuan pesisir yang masuk ke lingkungan Mataram pada abad ke-17, terutama saat masa Sultan Agung. Kemudian, seorang pejabat kerajaan, Tumenggung Wiraguna, jatuh hati dan ingin menjadikannya milik pribadi. Namun, Roro Mendut menolak keinginan itu.

Karena penolakan tersebut, Wiraguna memberi tekanan ekonomi dengan membebankan pajak tinggi. Akibatnya, untuk bertahan hidup, Roro Mendut menjual rokok.

Tindakan itu terlihat sederhana. Namun, maknanya jauh lebih besar. Ia menolak tunduk, lalu mengubah kesulitan menjadi strategi.

Budayawan Y.B. Mangunwijaya, lewat trilogi Rara Mendut, menempatkan tokoh ini sebagai simbol harga diri manusia kecil saat berhadapan dengan kuasa besar.

Saat Kuasa Ingin Mengatur Tubuh

Masalah utama dalam banyak zaman bukan sekadar siapa yang memimpin. Masalahnya, kuasa sering merasa berhak mengatur tubuh dan pilihan orang lain.

Ini Belum Selesai

BBM Tersendat, ASN WFH Jadi Jawaban: Bagaimana dengan Akar Masalahnya?

Prabowo Bertemu Guterres di Hambalang: Diplomasi Akrab, Hasilnya Harus Terukur

Sosiolog Pierre Bourdieu pernah menulis:

“Dominasi paling kuat adalah dominasi yang dianggap wajar.”

Kalimat itu terasa dekat dengan kisah ini. Dalam sistem feodal, banyak orang menganggap perempuan pantas dipilih, diarahkan, bahkan dimiliki. Karena itu, penolakan sering dianggap ancaman.

Roro Mendut mematahkan anggapan tersebut.

Sejarawan Denys Lombard juga menunjukkan bahwa perempuan Nusantara punya peran ekonomi dan sosial yang penting sejak masa lalu. Sayangnya, banyak catatan resmi lebih suka menyorot raja, perang, dan elite laki-laki.

Feodalisme Ganti Nama

Zaman berubah, tetapi pola lama sering bertahan. Dulu tekanan datang dari istana. Sekarang, tekanan bisa datang dari kantor, panggung politik, industri hiburan, atau media sosial.

Dulu perempuan dihukum karena menolak pejabat. Kini, banyak perempuan menerima stigma saat menolak standar palsu, relasi toksik, atau pelecehan.

Wajahnya memang berubah. Namun, logikanya tetap sama: siapa yang menolak tunduk akan ditekan.

Penulis feminis bell hooks pernah berkata:

“Patriarki tidak punya gender.”

Artinya, siapa pun bisa menjaga sistem timpang selama orang menganggap ketimpangan sebagai hal biasa.

Rokok Menjadi Bahasa Perlawanan

Dalam kisah populer, Roro Mendut menjual rokok sambil menyebarkan cerita bahwa dagangannya telah menyentuh bibir manisnya. Lalu, banyak lelaki berebut membeli.

Sebagian orang membaca bagian ini sebagai kisah sensual. Padahal, pembacaan itu terlalu dangkal.

Dengan kecerdikan, Roro Mendut membalik keadaan. Ia mengubah tatapan laki-laki menjadi sumber penghidupan. Selain itu, ia merebut ruang yang coba diambil penguasa.

Ia tidak punya tentara. Di sisinya juga tidak ada jabatan. Yang ia miliki hanyalah akal, keberanian, dan harga diri. Sering kali tiga hal itu justru lebih menakutkan bagi penguasa.

Pelajaran untuk Hari Ini

1. Harga diri kadang lebih mahal dari kenyamanan

Roro Mendut bisa memilih aman. Namun, ia justru memilih merdeka.

2. Perlawanan tidak selalu gaduh

Orang bisa melawan lewat keputusan kecil: menolak, pergi, bicara, atau bertahan.

3. Sejarah bukan milik elite saja

Perubahan besar sering lahir dari orang biasa yang berani berkata cukup.

4. Kuasa selalu mencari cara baru

Jika dulu memakai jabatan, maka sekarang kuasa bisa memakai opini publik, tekanan sosial, atau algoritma.

Ini Dampaknya Buat Kamu

Saat kamu dipaksa ikut arus, diminta diam, atau ditekan agar menyenangkan orang lain, kisah ini menjadi relevan.

Keberanian jarang lahir dari pidato panjang. Sebaliknya, keberanian sering lahir dari satu kata pendek yaitu, Tidak.

Tidak pada pemaksaan dan Jangan beri ruang bagi penghinaan. Tolak relasi yang merendahkan martabat.

Penutup

Roro Mendut mungkin hadir sebagai legenda. Namun, setiap zaman selalu melahirkan sosok serupa perempuan yang menolak bungkam, rakyat kecil yang menolak diinjak, dan manusia yang menjaga harga diri meski harus menanggung risiko.

Ini bukan sekadar cerita masa lalu. Sebaliknya, ini cermin tentang sistem lama yang terus mencari bentuk baru. Lalu, kalau kuasa datang menekan hari ini, kamu memilih diam atau melawan?. @teguh

Tags: IndustrikuasaLegendaperempuanPolitik IndonesiaRokokRoro Mendut

Kamu Melewatkan Ini

Jokowi Tak Lagi Bicara Dua Periode: Sinyal Politik atau Sekadar Menahan Diri?

Jokowi Tak Lagi Bicara Dua Periode: Sinyal Politik atau Sekadar Menahan Diri?

by dimas
Oktober 10, 2026

Jokowi tak lagi menegaskan dukungan dua periode untuk Prabowo-Gibran. Sinyal politik menuju Pilpres 2029 atau sekadar sikap hati-hati? Tabooo.id -...

Panggung Politik: Ketika Perhatian Mengalahkan Pertanggungjawaban

Panggung Politik: Ketika Perhatian Mengalahkan Pertanggungjawaban

by dimas
Oktober 8, 2026

Panggung politik kerap mengejar perhatian publik. Namun, di balik sorotan, pertanggungjawaban, kebijakan, dan suara warga tetap harus diuji. Tabooo.id -...

Reshuffle Ketujuh: Prabowo Lepas dari Bayang-Bayang Jokowi?

Reshuffle Ketujuh: Prabowo Lepas dari Bayang-Bayang Jokowi?

by dimas
Oktober 4, 2026

Reshuffle ketujuh Prabowo memunculkan pertanyaan: apakah ia mulai lepas dari bayang-bayang Jokowi dan menata orbit kekuasaannya sendiri? Tabooo.id - Pada...

Next Post
47.000 Kejahatan, 468 Terdakwa: El Salvador Hajar MS-13

47.000 Kejahatan, 468 Terdakwa: El Salvador Hajar MS-13

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id