Tahun 1943–1944, di Penjara Bulu, seorang perempuan tidak hanya bertahan ia melahirkan di balik jeruji. Namanya S.K. Trimurti. Ia melawan bukan dengan senjata, melainkan dengan kata-kata yang dianggap berbahaya oleh kekuasaan.
Tabooo.id: Deep – Pada awal 1930-an, Hindia Belanda masih tampak kuat. Namun, retakan mulai muncul dari sesuatu yang sering diremehkan yaitu tulisan.
Melalui media seperti Pikiran Rakyat dan Pesat, Trimurti menyuarakan kritik tajam terhadap kolonialisme. Ia tidak sekadar melaporkan peristiwa. Sebaliknya, ia menggugat sistem yang menindas rakyat kecil.
Akibatnya, tekanan pun datang. Pemerintah kolonial mulai mengawasi, lalu menangkap, dan berusaha membungkam suara seperti dirinya.
Sejarawan pers Ahmad Adam menjelaskan:
“Pada 1930-an, pers berfungsi sebagai alat agitasi politik yang sangat efektif.”
Dengan kata lain, tulisan bukan lagi sekadar informasi. Ia berubah menjadi alat perlawanan.
1942–1945: Ketika Tubuh Perempuan Jadi Medan Kuasa
Kemudian, Maret 1942 mengubah segalanya. Jepang datang dengan janji pembebasan, tetapi realitas berkata lain.
Penangkapan terhadap aktivis meningkat. Trimurti termasuk di antaranya.
Dalam kondisi serba terbatas, sekitar 1943–1944, ia melahirkan di dalam penjara. Situasi ini bukan hanya soal penderitaan fisik. Lebih dari itu, ini menunjukkan bagaimana kekuasaan bisa menekan hingga ke tubuh manusia.
Menurut sosiolog Julia Suryakusuma:
“Tubuh perempuan sering menjadi arena kontrol dalam sistem kekuasaan.”
Di titik ini, pengalaman Trimurti melampaui kisah individu. Ia menjadi simbol ketahanan perempuan di tengah tekanan ekstrem.
1945–1947: Dari Jeruji ke Panggung Negara
Setelah Proklamasi 17/08/1945, situasi berubah drastis. Indonesia memasuki fase baru membangun negara.
Tidak berhenti di sana, Trimurti justru melangkah lebih jauh. Pada 03/07/1947, Presiden Soekarno menunjuknya sebagai Menteri Perburuhan dalam kabinet Amir Sjarifuddin.
Sebagai menteri perempuan pertama, ia membawa perspektif berbeda. Ia fokus pada isu buruh kelompok yang selama ini terpinggirkan.
Sejarawan Ong Hok Ham mencatat:
“Pendekatan Trimurti mencerminkan keberpihakan pada rakyat kecil.”
Dengan demikian, perjalanan dari penjara ke kursi kekuasaan bukan sekadar perubahan status. Ini adalah transformasi peran dalam perjuangan.
1950-an: Perlawanan yang Tidak Lagi Publik
Memasuki 1950-an, konflik tidak lagi datang dari negara. Justru, tantangan muncul dari ruang paling personal: keluarga.
Ketika Sayuti Melik memilih berpoligami, Trimurti mengambil keputusan tegas untuk berpisah.
Di tengah budaya patriarki, langkah ini jelas tidak mudah. Namun demikian, ia menunjukkan bahwa prinsip tidak bisa dinegosiasikan, bahkan dalam kehidupan pribadi.
Budayawan Goenawan Mohamad menulis:
“Perlawanan paling sunyi sering terjadi dalam keputusan personal.”
Karena itu, perjuangan tidak selalu terlihat di ruang publik. Kadang, ia terjadi dalam pilihan hidup sehari-hari.
Ini Bukan Sekadar Sejarah. Ini Pola. (Tabooo Twist)
Jika ditarik lebih jauh, kisah ini tidak berhenti di masa lalu.
Sebaliknya, pola yang sama terus berulang:
- Kekuasaan mencoba mengontrol suara
- Sistem membatasi ruang perempuan
- Kritik sering kali ditekan, secara langsung maupun halus
Dulu, kontrol dilakukan lewat penjara. Kini, bentuknya bisa berupa tekanan sosial, stigma, atau bahkan pembungkaman digital. Artinya, zaman berubah. Namun, pola kekuasaan tetap bertahan.
Human Impact: Kenapa Ini Relevan Buat Kamu
Hari ini, mungkin kamu tidak dipenjara karena menulis. Akan tetapi, tekanan tetap ada. Misalnya:
- rasa takut berbeda pendapat
- kekhawatiran terhadap penilaian sosial
- atau keraguan untuk bersuara
Jika itu terjadi, maka sistem pembatasan masih bekerja hanya dengan cara yang lebih halus.
Makna yang Tersisa
Dari perjalanan 1930-an hingga 1950-an, ada beberapa hal yang tidak bisa diabaikan:
- Kata-kata bisa melampaui zaman
- Perempuan memiliki peran sentral dalam sejarah
- Penderitaan tidak selalu menghentikan perjuangan
- Integritas diuji dalam semua aspek kehidupan
Penutup: Sebuah Pertanyaan Terbuka
S.K. Trimurti pernah melawan dengan tulisan. Ia pernah dipenjara. Ia juga pernah memimpin dari dalam pemerintahan.
Namun yang paling penting, ia tidak pernah berhenti memilih jalannya sendiri.
Sekarang, pertanyaannya sederhana tapi tidak nyaman kalau kesempatan untuk bersuara masih ada hari ini apakah kita cukup berani menggunakannya?. @teguh





