Senin, Juni 15, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Melahirkan Di Balik Jeruji: Saat Perempuan Melawan Dengan Tulisan

by teguh
April 23, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Tahun 1943–1944, di Penjara Bulu, seorang perempuan tidak hanya bertahan ia melahirkan di balik jeruji. Namanya S.K. Trimurti. Ia melawan bukan dengan senjata, melainkan dengan kata-kata yang dianggap berbahaya oleh kekuasaan.

Tabooo.id: Deep – Pada awal 1930-an, Hindia Belanda masih tampak kuat. Namun, retakan mulai muncul dari sesuatu yang sering diremehkan yaitu tulisan.

Melalui media seperti Pikiran Rakyat dan Pesat, Trimurti menyuarakan kritik tajam terhadap kolonialisme. Ia tidak sekadar melaporkan peristiwa. Sebaliknya, ia menggugat sistem yang menindas rakyat kecil.

Akibatnya, tekanan pun datang. Pemerintah kolonial mulai mengawasi, lalu menangkap, dan berusaha membungkam suara seperti dirinya.

Sejarawan pers Ahmad Adam menjelaskan:

“Pada 1930-an, pers berfungsi sebagai alat agitasi politik yang sangat efektif.”

Dengan kata lain, tulisan bukan lagi sekadar informasi. Ia berubah menjadi alat perlawanan.

Ini Belum Selesai

Aksi Mahasiswa 12 Juni: Saat Generasi Membaca Kegelisahan Rakyat

Plain Packaging dan Perang Baru Industri Rokok

1942–1945: Ketika Tubuh Perempuan Jadi Medan Kuasa

Kemudian, Maret 1942 mengubah segalanya. Jepang datang dengan janji pembebasan, tetapi realitas berkata lain.

Penangkapan terhadap aktivis meningkat. Trimurti termasuk di antaranya.

Dalam kondisi serba terbatas, sekitar 1943–1944, ia melahirkan di dalam penjara. Situasi ini bukan hanya soal penderitaan fisik. Lebih dari itu, ini menunjukkan bagaimana kekuasaan bisa menekan hingga ke tubuh manusia.

Menurut sosiolog Julia Suryakusuma:

“Tubuh perempuan sering menjadi arena kontrol dalam sistem kekuasaan.”

Di titik ini, pengalaman Trimurti melampaui kisah individu. Ia menjadi simbol ketahanan perempuan di tengah tekanan ekstrem.

1945–1947: Dari Jeruji ke Panggung Negara

Setelah Proklamasi 17/08/1945, situasi berubah drastis. Indonesia memasuki fase baru membangun negara.

Tidak berhenti di sana, Trimurti justru melangkah lebih jauh. Pada 03/07/1947, Presiden Soekarno menunjuknya sebagai Menteri Perburuhan dalam kabinet Amir Sjarifuddin.

Sebagai menteri perempuan pertama, ia membawa perspektif berbeda. Ia fokus pada isu buruh kelompok yang selama ini terpinggirkan.

Sejarawan Ong Hok Ham mencatat:

“Pendekatan Trimurti mencerminkan keberpihakan pada rakyat kecil.”

Dengan demikian, perjalanan dari penjara ke kursi kekuasaan bukan sekadar perubahan status. Ini adalah transformasi peran dalam perjuangan.

1950-an: Perlawanan yang Tidak Lagi Publik

Memasuki 1950-an, konflik tidak lagi datang dari negara. Justru, tantangan muncul dari ruang paling personal: keluarga.

Ketika Sayuti Melik memilih berpoligami, Trimurti mengambil keputusan tegas untuk berpisah.

Di tengah budaya patriarki, langkah ini jelas tidak mudah. Namun demikian, ia menunjukkan bahwa prinsip tidak bisa dinegosiasikan, bahkan dalam kehidupan pribadi.

Budayawan Goenawan Mohamad menulis:

“Perlawanan paling sunyi sering terjadi dalam keputusan personal.”

Karena itu, perjuangan tidak selalu terlihat di ruang publik. Kadang, ia terjadi dalam pilihan hidup sehari-hari.

Ini Bukan Sekadar Sejarah. Ini Pola. (Tabooo Twist)

Jika ditarik lebih jauh, kisah ini tidak berhenti di masa lalu.

Sebaliknya, pola yang sama terus berulang:

  • Kekuasaan mencoba mengontrol suara
  • Sistem membatasi ruang perempuan
  • Kritik sering kali ditekan, secara langsung maupun halus

Dulu, kontrol dilakukan lewat penjara. Kini, bentuknya bisa berupa tekanan sosial, stigma, atau bahkan pembungkaman digital. Artinya, zaman berubah. Namun, pola kekuasaan tetap bertahan.

Human Impact: Kenapa Ini Relevan Buat Kamu

Hari ini, mungkin kamu tidak dipenjara karena menulis. Akan tetapi, tekanan tetap ada. Misalnya:

  • rasa takut berbeda pendapat
  • kekhawatiran terhadap penilaian sosial
  • atau keraguan untuk bersuara

Jika itu terjadi, maka sistem pembatasan masih bekerja hanya dengan cara yang lebih halus.

Makna yang Tersisa

Dari perjalanan 1930-an hingga 1950-an, ada beberapa hal yang tidak bisa diabaikan:

  • Kata-kata bisa melampaui zaman
  • Perempuan memiliki peran sentral dalam sejarah
  • Penderitaan tidak selalu menghentikan perjuangan
  • Integritas diuji dalam semua aspek kehidupan

Penutup: Sebuah Pertanyaan Terbuka

S.K. Trimurti pernah melawan dengan tulisan. Ia pernah dipenjara. Ia juga pernah memimpin dari dalam pemerintahan.

Namun yang paling penting, ia tidak pernah berhenti memilih jalannya sendiri.

Sekarang, pertanyaannya sederhana tapi tidak nyaman kalau kesempatan untuk bersuara masih ada hari ini apakah kita cukup berani menggunakannya?. @teguh

Tags: AktivisBudayaBudayawanFisikKabinetKolonialismeMaknaMediaMelahirkanMenteriPatriarkiPenjaraperempuanPeristiwaPolitik IndonesiapresidenSejarahsejarawanSosiolog

Kamu Melewatkan Ini

Bersih Desa: Tradisi Jawa yang Lahir dari Wabah, Kehilangan, dan Harapan

Bersih Desa: Tradisi Jawa yang Lahir dari Wabah, Kehilangan, dan Harapan

by dimas
Juni 14, 2026

Tradisi Bersih Desa ternyata berakar dari legenda wabah Kerajaan Gilingaya, kisah kehilangan seorang ibu, dan harapan yang menyatukan masyarakat Jawa....

Malam 1 Suro dan Jejak Sultan Agung Menyatukan Peradaban Jawa

Malam 1 Suro dan Jejak Sultan Agung Menyatukan Peradaban Jawa

by dimas
Juni 13, 2026

Malam 1 Suro bukan sekadar kisah mistis. Di baliknya tersimpan sejarah Sultan Agung menyatukan Jawa melalui budaya, tradisi, dan kalender...

Orang Kaya Menikmati Separuh Subsidi BBM, Siapa Sebenarnya Dibantu Negara?

Orang Kaya Menikmati Separuh Subsidi BBM, Siapa Sebenarnya Dibantu Negara?

by teguh
Juni 13, 2026

Bagi banyak orang, subsidi BBM terlihat sebagai bentuk kehadiran negara. Selama harga bahan bakar tetap terjangkau, masyarakat merasa pemerintah masih...

Next Post
Aku Ingin Hidup 1000 Tahun Lagi: Harapan atau Ketakutan Chairil Anwar?

Aku Ingin Hidup Seribu Tahun Lagi: Harapan atau Ketakutan Chairil Anwar?

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id