Selasa, April 28, 2026
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
tabooo.id

Melahirkan Di Balik Jeruji: Saat Perempuan Melawan Dengan Tulisan

by teguh
April 23, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Tahun 1943–1944, di Penjara Bulu, seorang perempuan tidak hanya bertahan ia melahirkan di balik jeruji. Namanya S.K. Trimurti. Ia melawan bukan dengan senjata, melainkan dengan kata-kata yang dianggap berbahaya oleh kekuasaan.

Tabooo.id: Deep – Pada awal 1930-an, Hindia Belanda masih tampak kuat. Namun, retakan mulai muncul dari sesuatu yang sering diremehkan yaitu tulisan.

Melalui media seperti Pikiran Rakyat dan Pesat, Trimurti menyuarakan kritik tajam terhadap kolonialisme. Ia tidak sekadar melaporkan peristiwa. Sebaliknya, ia menggugat sistem yang menindas rakyat kecil.

Akibatnya, tekanan pun datang. Pemerintah kolonial mulai mengawasi, lalu menangkap, dan berusaha membungkam suara seperti dirinya.

Sejarawan pers Ahmad Adam menjelaskan:

“Pada 1930-an, pers berfungsi sebagai alat agitasi politik yang sangat efektif.”

Dengan kata lain, tulisan bukan lagi sekadar informasi. Ia berubah menjadi alat perlawanan.

Ini Belum Selesai

Bukan Tekanan, Bukan Penyakit. Ini Pola Pikir!

Bupati Kaya, Rakyat Sengsara: Pola Lama yang Tak Pernah Mati

1942–1945: Ketika Tubuh Perempuan Jadi Medan Kuasa

Kemudian, Maret 1942 mengubah segalanya. Jepang datang dengan janji pembebasan, tetapi realitas berkata lain.

Penangkapan terhadap aktivis meningkat. Trimurti termasuk di antaranya.

Dalam kondisi serba terbatas, sekitar 1943–1944, ia melahirkan di dalam penjara. Situasi ini bukan hanya soal penderitaan fisik. Lebih dari itu, ini menunjukkan bagaimana kekuasaan bisa menekan hingga ke tubuh manusia.

Menurut sosiolog Julia Suryakusuma:

“Tubuh perempuan sering menjadi arena kontrol dalam sistem kekuasaan.”

Di titik ini, pengalaman Trimurti melampaui kisah individu. Ia menjadi simbol ketahanan perempuan di tengah tekanan ekstrem.

1945–1947: Dari Jeruji ke Panggung Negara

Setelah Proklamasi 17/08/1945, situasi berubah drastis. Indonesia memasuki fase baru membangun negara.

Tidak berhenti di sana, Trimurti justru melangkah lebih jauh. Pada 03/07/1947, Presiden Soekarno menunjuknya sebagai Menteri Perburuhan dalam kabinet Amir Sjarifuddin.

Sebagai menteri perempuan pertama, ia membawa perspektif berbeda. Ia fokus pada isu buruh kelompok yang selama ini terpinggirkan.

Sejarawan Ong Hok Ham mencatat:

“Pendekatan Trimurti mencerminkan keberpihakan pada rakyat kecil.”

Dengan demikian, perjalanan dari penjara ke kursi kekuasaan bukan sekadar perubahan status. Ini adalah transformasi peran dalam perjuangan.

1950-an: Perlawanan yang Tidak Lagi Publik

Memasuki 1950-an, konflik tidak lagi datang dari negara. Justru, tantangan muncul dari ruang paling personal: keluarga.

Ketika Sayuti Melik memilih berpoligami, Trimurti mengambil keputusan tegas untuk berpisah.

Di tengah budaya patriarki, langkah ini jelas tidak mudah. Namun demikian, ia menunjukkan bahwa prinsip tidak bisa dinegosiasikan, bahkan dalam kehidupan pribadi.

Budayawan Goenawan Mohamad menulis:

“Perlawanan paling sunyi sering terjadi dalam keputusan personal.”

Karena itu, perjuangan tidak selalu terlihat di ruang publik. Kadang, ia terjadi dalam pilihan hidup sehari-hari.

Ini Bukan Sekadar Sejarah. Ini Pola. (Tabooo Twist)

Jika ditarik lebih jauh, kisah ini tidak berhenti di masa lalu.

Sebaliknya, pola yang sama terus berulang:

  • Kekuasaan mencoba mengontrol suara
  • Sistem membatasi ruang perempuan
  • Kritik sering kali ditekan, secara langsung maupun halus

Dulu, kontrol dilakukan lewat penjara. Kini, bentuknya bisa berupa tekanan sosial, stigma, atau bahkan pembungkaman digital. Artinya, zaman berubah. Namun, pola kekuasaan tetap bertahan.

Human Impact: Kenapa Ini Relevan Buat Kamu

Hari ini, mungkin kamu tidak dipenjara karena menulis. Akan tetapi, tekanan tetap ada. Misalnya:

  • rasa takut berbeda pendapat
  • kekhawatiran terhadap penilaian sosial
  • atau keraguan untuk bersuara

Jika itu terjadi, maka sistem pembatasan masih bekerja hanya dengan cara yang lebih halus.

Makna yang Tersisa

Dari perjalanan 1930-an hingga 1950-an, ada beberapa hal yang tidak bisa diabaikan:

  • Kata-kata bisa melampaui zaman
  • Perempuan memiliki peran sentral dalam sejarah
  • Penderitaan tidak selalu menghentikan perjuangan
  • Integritas diuji dalam semua aspek kehidupan

Penutup: Sebuah Pertanyaan Terbuka

S.K. Trimurti pernah melawan dengan tulisan. Ia pernah dipenjara. Ia juga pernah memimpin dari dalam pemerintahan.

Namun yang paling penting, ia tidak pernah berhenti memilih jalannya sendiri.

Sekarang, pertanyaannya sederhana tapi tidak nyaman kalau kesempatan untuk bersuara masih ada hari ini apakah kita cukup berani menggunakannya?. @teguh

Tags: AktivisBudayaBudayawanFisikKabinetKolonialismeMaknaMediaMelahirkanMenteriPatriarkiPenjaraperempuanPeristiwaPolitikpresidenSejarahsejarawanSosiolog

Kamu Melewatkan Ini

Bupati Kaya, Rakyat Sengsara: Pola Lama yang Tak Pernah Mati

Bupati Kaya, Rakyat Sengsara: Pola Lama yang Tak Pernah Mati

by Naysa
April 27, 2026

Gaya hidup mewah pejabat di tengah rakyat yang kesulitan sering terasa seperti ironi modern. Namun, ini bukan cerita baru. Sejak...

Penjajah Selalu Menang Saat Elite Lokal Siap Dijual

Penjajah Selalu Menang Saat Elite Lokal Siap Dijual

by teguh
April 27, 2026

Aceh pernah membuat Belanda frustrasi. Meriam gagal, peluru mentok, kapal perang kelelahan. Namun kemudian penjajah memilih cara yang lebih licik...

Mereka Tidak Hidup Bebas. Mereka Hanya Belajar Tidak Mati

Mereka Tidak Hidup Bebas. Mereka Hanya Belajar Tidak Mati

by Waras
April 27, 2026

Pagi datang seperti biasa. Matahari naik, orang-orang keluar rumah, kehidupan berjalan. Tapi di beberapa sudut El Salvador, ada satu hal...

Next Post
Aku Ingin Hidup 1000 Tahun Lagi: Harapan atau Ketakutan Chairil Anwar?

Aku Ingin Hidup Seribu Tahun Lagi: Harapan atau Ketakutan Chairil Anwar?

Pilihan Tabooo

Dari Layar ke Realita: Film”Unseen, Unannounced” Bongkar Kejujuran yang Lama Disembunyikan

Dari Layar ke Realita: Screning Film “Unseen, Unannounced” Bongkar Kejujuran yang Lama Disembunyikan

April 22, 2026

Realita Hari Ini

Vote Buying Terancam Punah? KPK Dorong Larangan Uang Kartal di Pemilu

Vote Buying Terancam Punah? KPK Dorong Larangan Uang Kartal di Pemilu

April 27, 2026

47.000 Kejahatan, 468 Terdakwa: El Salvador Hajar MS-13

April 27, 2026

Prabowo Dikabarkan Rombak Kabinet Hari Ini, Siapa Kehilangan Kursi?

April 27, 2026

Kabinet Selalu Berubah: Prabowo Sedang Merapikan atau Mengacak Kekuasaan?

April 27, 2026
tabooo.id

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap

Stay in the Loop

  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id