Tabooo.id: Deep – Pagi itu, ruang diskusi serikat buruh di Jakarta terasa lebih berat dari biasanya. Bukan hanya karena isu upah atau jam kerja, tetapi karena satu hal yang terus menghantui masa depan pekerjaan itu sendiri.
Di satu sisi, konflik geopolitik dunia terus meningkat. Di sisi lain, dampaknya perlahan masuk ke Indonesia. Karena itu, buruh mulai merasakan tekanan yang tidak lagi bersifat lokal, melainkan global.
Selain itu, harga energi naik, rantai pasok terganggu, dan perusahaan mulai menghitung ulang biaya operasional mereka. Akibatnya, tenaga kerja kembali menjadi variabel paling mudah dipangkas.
Buruh Menarik Garis: Ini Bukan Lagi Soal Internal Perusahaan
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN), Ristadi, menegaskan bahwa buruh tidak lagi hanya membicarakan upah. Sebaliknya, mereka kini menuntut kepastian lapangan kerja.
“Kami mengangkat tuntutan dari sisi hulu ketenagakerjaan, yaitu penciptaan lapangan pekerjaan,” ujar Ristadi di Jakarta.
Menurutnya, konflik global yang terus berlanjut telah mengganggu stabilitas industri padat karya. Oleh karena itu, sektor seperti garmen, tekstil, dan alas kaki menjadi yang paling rentan.
Selain itu, ia menyoroti ketergantungan Indonesia pada bahan baku impor. Jika kondisi ini tidak berubah, maka industri dalam negeri akan terus berada dalam posisi rapuh.
“Kalau kita tidak mampu mandiri bahan baku, maka efeknya langsung terasa ke tenaga kerja,” tegasnya.
Geopolitik Dunia, Efeknya Masuk ke Dompet Pekerja
Sementara itu, konflik internasional seperti ketegangan Iran, Israel, dan Amerika Serikat ikut memicu kenaikan harga energi global. Kondisi ini kemudian merambat ke biaya produksi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Presiden KSPI, Said Iqbal, menilai situasi ini sudah masuk fase serius. Bahkan, ia menyebut perusahaan mulai bersiap melakukan efisiensi.
“PHK itu bukan lagi ancaman, tetapi sudah di depan mata,” ujarnya.
Selain itu, ia menjelaskan bahwa kebijakan impor juga mempersempit ruang industri lokal. Ketika barang jadi lebih banyak masuk dari luar negeri, maka produksi dalam negeri otomatis melemah.
Akibatnya, peluang kerja ikut menyusut secara perlahan namun pasti.
Data PHK Menunjukkan Tekanan yang Nyata
Di tengah kondisi tersebut, data Kementerian Ketenagakerjaan memperkuat gambaran yang terjadi di lapangan. Sepanjang Januari hingga Desember 2025, sebanyak 88.519 pekerja kehilangan pekerjaan.
Selain itu, pada Januari 2026, tercatat 359 pekerja tambahan mengalami PHK.
Walaupun angka ini terlihat statistik, namun di baliknya terdapat keluarga yang harus menata ulang kehidupan mereka. Karena itu, isu ini tidak lagi bisa dipandang sebagai angka semata.
Janji Politik yang Kembali Diuji
Di sisi lain, perhatian publik kembali tertuju pada janji pemerintah. Analis Labor Institute, Rekson Silaban, mengingatkan bahwa sebagian komitmen Presiden Prabowo pada May Day 2025 belum berjalan optimal.
Ia menyebutkan beberapa program seperti Dewan Kesejahteraan Buruh dan Satgas PHK masih belum terlihat implementasinya secara penuh.
“Tuntutan buruh akan tetap sama karena janji itu belum diwujudkan secara nyata,” kata Rekson.
Selain itu, ia menilai pemerintah masih menggunakan pendekatan jangka pendek dalam menangani isu ketenagakerjaan. Padahal, situasi global terus berubah dan membutuhkan strategi yang lebih struktural.
May Day 2026: Dari Seremoni Menjadi Tekanan Politik
KSPI memperkirakan ratusan ribu buruh akan turun ke jalan pada 1 Mei 2026. Aksi ini akan tersebar di 38 provinsi di Indonesia.
Di Jabodetabek, sekitar 50.000 buruh akan memusatkan aksi di depan Gedung DPR. Sementara itu, daerah lain akan menggelar aksi di kantor gubernur maupun DPRD masing-masing.
Adapun tuntutan yang mereka bawa tidak hanya soal upah. Lebih jauh lagi, mereka menuntut:
- Pengesahan RUU Ketenagakerjaan
- Pengesahan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga
- Penghapusan sistem alih daya
- Reformasi pajak buruh
- Dan yang paling utama, kepastian pekerjaan
Ketua KSBI, Sunarno, menegaskan bahwa inti perjuangan buruh tetap sama: kerja yang layak, upah yang adil, dan kehidupan yang manusiawi.
Dunia Berubah Cepat, Tapi Rasa Aman Tetap Tertinggal
Di tengah kemajuan teknologi dan perubahan ekonomi global, satu hal justru tertinggal: rasa aman bagi pekerja.
Selain itu, sistem ekonomi global kini bergerak lebih cepat dari perlindungan sosial yang ada. Akibatnya, buruh menjadi kelompok yang paling mudah terdampak setiap kali krisis muncul.
Dengan kata lain, perang mungkin terjadi jauh dari Indonesia, tetapi dampaknya tetap sampai ke ruang kerja, pabrik, bahkan meja makan keluarga pekerja.
Ketika Efisiensi Berarti Kehilangan Hidup
PHK bukan sekadar keputusan perusahaan. Sebaliknya, ia mengubah seluruh struktur kehidupan seseorang.
Misalnya, cicilan yang tertunda, pendidikan anak yang terganggu, hingga tekanan mental dalam keluarga.
Karena itu, setiap angka PHK sebenarnya menyimpan cerita yang jauh lebih dalam daripada sekadar statistik.
Pertanyaan yang Belum Dijawab Sistem
May Day 2026 tidak hanya menjadi peringatan tahunan. Lebih dari itu, ia berubah menjadi pengingat bahwa sistem ketenagakerjaan masih menyisakan banyak pekerjaan rumah.
Pada akhirnya, pertanyaannya tetap sama: jika dunia terus bergerak cepat, siapa yang memastikan pekerja tetap bisa bertahan?
Kalau dunia makin efisien, kenapa hidup pekerja justru makin tidak pasti? @dimas






