Tabooo.id: Deep – Di saat kebanyakan anak seusianya sibuk main game dan scroll layar, Daffa Ardian Pratama justru memilih jalur berbeda. Bukan sekadar beda, tapi cukup untuk bikin orang dewasa ikut mikir ulang.
Bocah kelas tiga SD asal Desa Growok, Bojonegoro ini sudah akrab dengan dunia elektronik sejak kecil.
Dari Kipas Rusak Sampai Komputer
Buat Daffa, barang elektronik rusak bukan masalah. Itu tantangan.
Kipas angin rusak? Dia tahu cara memperbaikinya.
Komputer bermasalah? Dia bongkar, analisis, lalu jelaskan kembali dengan logika yang rapi.
Ayahnya, Andik Sujianto, awalnya menganggap ketertarikan anaknya pada mesin adalah hal biasa. Sekadar rasa penasaran anak kecil. Tapi lama-lama, pertanyaan Daffa makin kompleks. Bahkan, sering bikin orang tuanya kehabisan jawaban.
“Kalau soal kipas angin, dia sudah hafal. Bisa analisis kerusakan sekaligus jelasin cara memperbaikinya,” ujar Andik dikutip dari Liputan6.com, Sabtu (18/4/2026).
Bukan Sekadar Bisa, Tapi Paham
Yang membuat Daffa berbeda, dia tidak hanya praktik, dia juga paham teori.
Dari cara kerja perangkat elektronik hingga konsep berat seperti rudal balistik dan sistem pertahanan modern, semuanya ia pelajari sendiri.
Masalahnya bukan sekadar pintar. Cara berpikirnya juga tidak biasa.
Dia mampu mengaitkan ilmu sains dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, membandingkan struktur daun dengan organ tubuh manusia. Sederhana, tapi tetap ilmiah.
Sejak usia dua tahun, Daffa sudah terbiasa bertanya hal-hal kritis. Jawaban seadanya jelas tidak cukup.
Dari situlah kebiasaan belajar otodidak terbentuk, lewat video edukatif dan berbagai bacaan di internet.
Tetap Anak-Anak, Tapi dengan Cara Berbeda
Meski terlihat “di atas rata-rata”, Daffa tetap menjalani kehidupan seperti anak seusianya.
Dia masih bermain dengan teman-temannya. Bahkan, sering mengajak mereka belajar sambil bermain elektronik.
Di sekolah, ia dikenal unik. Sering merasa bosan di kelas, tapi aktif di perpustakaan dan gemar mengeksplorasi lingkungan.
Tak jarang, ia juga membantu memperbaiki alat elektronik di sekolah, tentu dengan pengawasan guru.
Menariknya, Daffa tidak tertarik pada game.
“Game itu buang waktu. Lebih asyik belajar elektronik,” katanya polos.
Dukungan yang Membuatnya Tumbuh
Di titik ini, ceritanya terasa lebih dalam.
Ini bukan sekadar kisah anak pintar. Ini tentang bagaimana lingkungan merespons potensi.
Ayahnya memilih memberi ruang, bukan membatasi. Internet tetap diawasi, tapi rasa ingin tahu Daffa tidak dipatahkan.
Perhatian pun datang dari luar. Kapolres Bojonegoro bahkan datang langsung dan memberikan laptop sebagai bentuk dukungan.
Bukan Sekadar Cerita Anak Jenius
Ini bukan cuma kisah “anak hebat”. Ini cermin.
Saat banyak anak tenggelam di hiburan digital, Daffa menunjukkan satu hal sederhana, yakni rasa ingin tahu bisa lebih kuat dari distraksi, kalau tidak dimatikan.
Sekarang, pertanyaannya bukan lagi soal Daffa. Tapi soal kita.
Apakah lingkungan hari ini benar-benar memberi ruang anak untuk berpikir? Atau justru lebih sibuk mengalihkan mereka dengan layar? @WaraS



![[Polling] Perempuan Sudah Merdeka atau Cuma Terlihat Merdeka?](https://tabooo.id/wp-content/uploads/2026/04/Polling-Perempuan-Sudah-Merdeka-atau-Cuma-Terlihat-Merdeka-75x75.jpg)


