Tabooo.id: Deep – Doom Spending bukan lagi sekadar istilah. Ia sudah jadi kebiasaan yang diam-diam hidup di keseharian banyak orang.
“Gue tahu ini gak penting, tapi tiap lagi stres rasanya pengen checkout aja. Kayak… ada yang bikin tenang walau sebentar,” kata Robby (26), pekerja kreatif asal Jakarta, yang ditemui Tabooo.id.
Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi di baliknya, ada pola yang jauh lebih dalam. Masalahnya bukan di barang yang dibeli. Masalahnya ada di alasan kenapa kita merasa perlu membeli.
Ketika Masa Depan Terasa Jauh
Dulu, orang menabung untuk masa depan. Namun sekarang, banyak orang merasa masa depan itu terlalu jauh, bahkan tidak realistis. Harga rumah naik, biaya hidup makin tinggi, dan stabilitas kerja makin rapuh.
Akhirnya, logika berubah tanpa kita sadari. Kalau masa depan tidak jelas, kenapa harus menunda bahagia? Dari sinilah Doom Spending muncul, bukan dari keinginan, tapi dari keputusasaan.
Self Reward: Kata Halus untuk Pelarian
Kita menyebutnya self reward, seolah-olah itu bentuk apresiasi diri. Namun di banyak kasus, itu hanyalah pembenaran.
Tanpa sadar, otak dilatih untuk mengasosiasikan emosi negatif dengan konsumsi. Setiap rasa tidak nyaman harus diatasi dengan membeli sesuatu. Masalahnya, yang terjadi bukan penyelesaian, melainkan penundaan dengan biaya yang terus bertambah.
Algoritma Tahu Kamu Lebih dari Dirimu Sendiri
Scroll sedikit, muncul barang yang terasa “kamu banget”. Lihat satu video, rekomendasi berikutnya terasa semakin personal. Ini bukan kebetulan.
Algoritma tidak hanya membaca minat, tapi juga emosi. Saat kamu lelah, ia memberi distraksi. Saat kamu merasa kurang, ia menawarkan standar. Saat kamu kosong, ia memberi sesuatu untuk dibeli.
Akhirnya, kamu merasa sedang memilih. Padahal sebenarnya kamu sedang diarahkan. Di titik ini, doom spending tidak lagi sekadar kebiasaan individu, tapi bagian dari sistem yang lebih besar.
Paylater: Kenyamanan yang Menjebak
Dulu, keterbatasan uang menjadi rem alami untuk berhenti belanja. Sekarang, batas itu hampir tidak ada.
Paylater mengubah cara orang mengambil keputusan. Tidak punya uang bukan lagi alasan untuk berhenti. Semua bisa dibayar nanti.
Masalahnya sederhana tapi sering diabaikan. Emosi datang cepat, tapi cicilan bertahan lama. Kebahagiaan yang dirasakan hanya beberapa menit, sementara konsekuensinya bisa berbulan-bulan. Fenomena ini bukan lagi kasus individu, tapi pola kolektif yang terus berkembang.
FOMO: Ketakutan yang Dijual Secara Massal
Melihat teman liburan, melihat influencer dengan barang baru, atau sekadar melihat orang lain terlihat “baik-baik saja” di media sosial, perlahan memicu rasa tertinggal.
Di titik itu, keputusan membeli tidak lagi didasarkan pada kebutuhan. Ia didorong oleh ketakutan. Fear of Missing Out menjadi bahan bakar utama Doom Spending.
Kamu tidak membeli karena ingin, tapi karena takut ketinggalan. Padahal, yang kamu kejar sering kali hanya ilusi yang dikurasi untuk terlihat sempurna.
Ini Bukan Soal Uang. Ini Soal Kontrol
Di tengah hidup yang terasa tidak pasti, Doom Spending memberikan ilusi kontrol. Kamu bisa memilih, kamu bisa membeli, dan kamu bisa merasakan kepuasan instan.
Untuk sesaat, semuanya terasa berada di tanganmu. Namun setelah itu, realita tidak berubah. Bahkan sering kali menjadi lebih berat karena beban finansial yang bertambah.
Bukan Sekadar Kebiasaan Buruk
Di sinilah letak masalah yang sebenarnya. Doom Spending bukan sekadar kebiasaan buruk atau kurangnya disiplin finansial. Ini adalah respons psikologis terhadap tekanan sistemik.
Ketika hidup terasa tidak stabil, orang mencari cara tercepat untuk merasa hidup. Konsumsi menjadi solusi paling mudah karena instan dan доступ. Namun solusi ini tidak pernah benar-benar menyelesaikan apa pun. Ia hanya membuat seseorang terus berputar dalam siklus yang sama.
Dampaknya yang Sering Diabaikan
Perlahan, dampaknya mulai terasa. Tabungan tidak pernah benar-benar tumbuh karena selalu ada alasan untuk menghabiskan uang. Stres finansial justru meningkat, bukan berkurang. Ketergantungan terhadap konsumsi makin kuat, sementara rasa puas semakin cepat hilang.
Yang paling berbahaya, batas antara kebutuhan dan keinginan mulai kabur. Kamu tidak lagi benar-benar tahu mana yang penting, dan mana yang hanya pelarian sesaat.
Kamu Lagi Menikmati, atau Lagi Lari?
Doom Spending terlihat seperti pilihan. Namun dalam banyak kasus, ia hanyalah reaksi. Reaksi terhadap tekanan, ketidakpastian, dan rasa lelah yang terus menumpuk.
Pertanyaannya sekarang sederhana. Kamu benar-benar menikmati apa yang kamu beli, atau kamu hanya sedang mencoba melupakan sesuatu? @tabooo






