Tabooo.id: Deep – Di banyak kota, pagi hari sering dimulai dengan alarm yang terasa seperti ancaman. Setelah itu, orang-orang berlari mengejar kereta, membuka laptop, lalu masuk ke ritme hidup yang cepat namun kerap kosong.
Sementara itu, di sudut Kota Kediri, Jawa Timur, pagi Budi berjalan jauh lebih tenang.
Ia tak mengejar absensi. Ia tak menunggu lift gedung tinggi. Sebaliknya, ia menyambut embun pagi, mengecek daun melon, lalu memulai pekerjaan dari tanah yang ia rawat sendiri.
Ilham Budi Susilo, 29 tahun, memang berprofesi sebagai petani. Namun, cara berpikirnya terasa sangat modern. Di greenhouse seluas 1.200 meter persegi miliknya di Kecamatan Ngronggo, Budi membangun cerita tentang generasi baru yang mencari makna kerja lewat jalur berbeda.
Ia memilih cangkul, bukan berdasi. Dan keputusan itu lahir dari keberanian, bukan pelarian.
Saat Kantor Tak Lagi Menjadi Mimpi Tunggal
Selama bertahun-tahun, banyak anak muda tumbuh dengan rumus lama sekolah tinggi, mencari kerja mapan, duduk di kantor, lalu berharap hidup terasa aman.
Namun, zaman bergerak. Harga kebutuhan naik. Tekanan mental meningkat. Waktu habis di jalan. Banyak orang bekerja keras, tetapi tetap merasa lelah tanpa arah.
Karena itu, sebagian generasi muda mulai bertanya apakah sukses harus selalu datang dari gedung bertingkat? Budi menjawab pertanyaan itu lebih dulu.
Di lahannya, ia menanam melon premium. Ia memilih varietas unggulan seperti sweet net hingga fujisawa asal Jepang.
“Kalau saya nanamnya memang yang jenis melon premium saja,” ujar Budi saat ditemui di lahannya, Minggu, 12/04/2026.
Kalimat itu terdengar sederhana. Meski begitu, pilihan tersebut menunjukkan keberanian seorang anak muda desa yang menolak sekadar ikut arus.
Greenhouse Menjadi Simbol Perubahan Sunyi
Lahan milik Budi tampak berbeda dari area sekitar yang dipenuhi tanaman tebu. Di tengah pola lama, berdiri bangunan tertutup dari bambu dan jaring kasa greenhouse.
Bangunan itu bukan sekadar tempat menanam.
Sebaliknya, greenhouse itu menjadi simbol bahwa perubahan sering tumbuh tanpa suara besar.
Budi memilih sistem pertanian modern. Ia mengatur jenis tanaman, pola perawatan, hingga manajemen penjualan dengan pendekatan rapi dan terukur.
“Saya memulainya sejak tahun 2018. Waktu itu masih ikut orang lalu berusaha mandiri. Banyak percobaan yang saya lakukan,” kata Budi.
Artinya, keberhasilan hari ini lahir dari percobaan panjang, kegagalan berulang, dan hari-hari penuh ragu yang jarang terlihat orang lain.
Bertani Kini Tak Lagi Sekadar Soal Tenaga
Di negeri agraris seperti Indonesia, banyak orang masih memandang profesi petani sebagai pilihan terakhir. Padahal, para petani menjaga isi meja makan seluruh negeri setiap hari.
Karena itu, Budi mencoba membalik stigma lama tersebut.
Ia memasang sistem irigasi berbasis selang terhubung. Sistem itu menyalurkan air sekaligus pupuk secara efisien. Selain itu, ia menjaga kualitas panen lewat standar bebas pestisida kimia.
“Untuk pengujian saya lakukan di laboratorium Bogor sana,” ungkapnya.
Pernyataan itu menegaskan satu hal penting pertanian modern membutuhkan ilmu, riset, dan ketelitian. Di tangan generasi seperti Budi, sawah berubah menjadi ruang inovasi.
Dari Kebun ke Layar Ponsel
Jika dulu banyak petani bergantung pada tengkulak dan pasar lokal, Budi memilih langkah berbeda. Ia memanfaatkan media sosial sebagai jalur pemasaran. Karena strategi itu, produknya menembus Jakarta hingga Bandung.
Selain itu, ia mengembangkan wisata petik buah ketika musim panen datang. Dengan cara tersebut, kebun berubah menjadi ruang pengalaman, bukan sekadar tempat produksi.
“Jadi, memang kita harus kreatif untuk bisa bertahan sebagai petani,” ujarnya.
Kini, kata kreatif tak hanya milik pekerja kota. Kata itu juga tumbuh di antara batang melon dan tanah basah.
Literasi Menjadi Pupuk Terpenting
Budi tidak hanya mengandalkan naluri. Sejak awal, ia menyusun jalan hidup dengan rencana matang. Ia kuliah di jurusan Agroteknologi Universitas Jember. Setelah itu, ia rutin mengikuti pelatihan agar pengetahuannya terus berkembang.
Saat banyak orang sibuk mengejar motivasi instan, Budi memilih belajar secara konsisten.
“Semuanya dibutuhkan agar tercipta produk yang berdaya saing,” pungkasnya.
Kalimat itu terasa sederhana. Namun, di dalamnya ada pelajaran besar kualitas lahir dari proses panjang.
Yang Ditanam Budi Bukan Hanya Melon
Di greenhouse itu, Budi memang menanam buah. Namun, ia juga menanam harapan baru.
Ia menunjukkan bahwa anak muda tak harus pindah ke kota untuk dianggap berhasil. Ia membuktikan bahwa teknologi tak selalu lahir dari ruang rapat atau coworking space. Ia memperlihatkan bahwa masa depan bisa tumbuh dari tanah, selama ada ilmu dan keberanian.
Budi tidak meninggalkan dunia kerja. Sebaliknya, ia sedang mendefinisikan ulang arti bekerja. Dan mungkin, itulah pelajaran paling penting bagi generasi hari ini. @teguh






