Selasa, April 21, 2026
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
tabooo.id

Hijab, Ombak, dan Identitas: Lamar Mufti Melawan Batas yang Tak Terlihat

by teguh
April 14, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Life – Angin laut berhembus kencang. Sementara itu, ombak datang tanpa kompromi. Di atas papan selancar, seorang perempuan berdiri tenang, fokus, dan berbeda. Bukan hanya karena tekniknya. Melainkan karena pilihan yang ia bawa hijab.

Lamar Mufti tidak sekadar menaklukkan ombak. Ia menantang cara dunia memandang perempuan seperti dirinya.

Tubuh Perempuan, Aturan Sosial, dan Label “Tidak Biasa”

Di banyak tempat, orang masih mengajukan pertanyaan yang sama sejauh mana perempuan boleh jadi diri sendiri?

Di satu sisi, publik merayakan kebebasan. Namun di sisi lain, mereka masih menyempitkan makna kebebasan itu sendiri.

Lamar Mufti memilih jalannya dengan jelas dan ia tahu konsekuensinya.

Ini Belum Selesai

Refleksi Hari Kartini: Kita Merayakan, Tapi Sudahkah Kita Melanjutkan?

Anak Lolos Kampus, Dompet Menangis: Alumni Menjaga Mimpi Siswa Pamekasan

“Merupakan suatu kehormatan menjadi satu-satunya perempuan berhijab di ISA, dan saya bersyukur bisa tidak hanya mewakili negara saya, tetapi juga mewakili agama dan budaya.”

Ia menulis kalimat itu sebagai sikap, bukan sekadar pernyataan. Ia sadar bahwa kehadirannya membawa identitas yang lebih luas.

Di panggung seperti International Surfing Association (ISA), banyak orang menganggap gaya Barat sebagai standar. Namun, Mufti justru menghadirkan perspektif lain. Ia tidak menyesuaikan diri ia memperluas definisi.

Representasi: Antara Kebanggaan dan Tekanan

Banyak orang menganggap status “yang pertama” sebagai pencapaian. Namun kenyataannya, posisi itu juga membawa tekanan besar.

Mufti tidak hanya membawa dirinya. Ia membawa identitas sebagai perempuan, Muslim, dan warga Arab Saudi. Akibatnya, publik sering melihat simbol bukan individu.

“Saya tidak hanya mewakili diri saya sendiri, tetapi juga sebuah negara Muslim. Saya mewakili agama dan budaya. Dan itu menarik perhatian.”

Perhatian memang membuka ruang. Namun bersamaan dengan itu, publik juga melontarkan penilaian, ekspektasi, bahkan stereotip.

Di titik ini, konflik muncul dengan jelas. Individu ingin bebas. Namun lingkungan terus memberi label.

Hijab: Batas atau Bentuk Kebebasan Baru?

Selama ini, banyak orang mengaitkan kebebasan dengan satu tampilan tertentu. Mereka menganggap kebebasan harus terlihat “lepas” dari simbol. Namun Mufti justru menolak logika itu.

“Olahraga seharusnya tidak membuat seseorang harus mengorbankan agama atau identitasnya, tetapi justru memberdayakannya.”

Ia tidak melepas identitas untuk masuk ke ruang olahraga. Sebaliknya, ia membawa identitas itu ke dalamnya.

Dr. Hala Mansour, pengamat budaya olahraga global (12/03/2024), melihat perubahan penting dalam fenomena ini.

“Dulu, olahraga menuntut adaptasi budaya. Sekarang, budaya mulai menuntut ruang di olahraga.”

Artinya, arah perubahan mulai bergeser. Dunia tidak lagi bisa memaksakan satu bentuk kebebasan.

Efek Domino: Keberanian Itu Menular

Dampak Mufti tidak berhenti pada dirinya. Justru, pengaruhnya terasa pada orang lain.

“Saya sering menerima komentar dari perempuan yang ingin mencoba berselancar, bahkan ada yang akhirnya mendapat izin dari orang tua mereka…”

Respons ini menunjukkan sesuatu yang lebih besar. Satu tindakan membuka kemungkinan baru.

Pelatih selancar Timur Tengah, Ahmed Al-Sayeed (22/06/2025), menjelaskan fenomena ini sebagai “social permission effect”.

“Ketika satu orang terlihat melakukannya, yang lain merasa punya izin untuk mencoba.”

Dengan kata lain, keberanian menciptakan ruang. Dan ruang itu mendorong perubahan.

Arab Saudi dan Perubahan yang Bergerak Pelan

Konteks negara juga memainkan peran penting. Dulu, Arab Saudi membatasi ruang gerak perempuan secara ketat. Namun kini, generasi baru mulai mendorong perubahan.

Surfing memang belum berkembang luas di sana. Ombaknya tidak selalu konsisten. Infrastruktur juga masih terbatas. Namun, semangatnya terus tumbuh.

Mufti, bersama Leila Zahid dan Rmas Alhazmi, tidak sekadar berlatih. Mereka membangun fondasi.

Mereka memperluas ruang partisipasi perempuan bukan hanya di olahraga, tapi juga di ruang publik.

Kenapa Jadi Diri Sendiri Masih Dianggap Berani?

Jika dilihat sederhana, Mufti hanya melakukan satu hal ia menjadi dirinya sendiri. Namun publik menganggapnya luar biasa.

Di satu sisi, kita hidup di era modern. Namun di sisi lain, banyak orang masih mempersoalkan identitas perempuan.

Akibatnya, tindakan sederhana berubah menjadi simbol keberanian. Padahal, seharusnya itu hal yang biasa.

Penutup: Batas Itu Nyata, Tapi Siapa yang Membuatnya?

Lamar Mufti menunjukkan satu hal yang jelas: batas sering muncul dari cara pandang, bukan dari kemampuan.

Ia tidak mengubah dirinya agar diterima. Ia justru memaksa dunia untuk melihat ulang definisinya.

Sekarang, pertanyaannya bukan lagi “Bisakah perempuan berhijab berselancar?” Melainkan “Kenapa kita masih merasa itu perlu dipertanyakan?”. @teguh

Tags: AgamaArab SaudiBatasberaniBudayaEraFenomenaHijabIdentitasISAModernNegaraNyataOmbakPelatihPengamatperempuanPublikSurfing

Kamu Melewatkan Ini

Ketika Kepala Desa Pegang Miliaran, Tapi Negara Minim Membimbing

Ketika Kepala Desa Pegang Miliaran, Tapi Negara Minim Membimbing

by teguh
April 21, 2026

Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin mengirim pesan keras kepada jajarannya jangan mudah menetapkan kepala desa sebagai tersangka hanya karena salah administrasi....

Max Havelaar: Film Kolonial Dulu Ditakuti Penguasa, Kini Menampar Zaman Lagi

Max Havelaar: Film Kolonial Dulu Ditakuti Penguasa, Kini Menampar Zaman Lagi

by teguh
April 21, 2026

Foto promo lawas film Max Havelaar kembali beredar di media sosial. Sekilas hanya nostalgia sinema klasik. Namun poster tua itu...

Kartini Dikenang, Tapi Mengapa Ketimpangan Perempuan Masih Nyata?

Kartini Dikenang, Tapi Mengapa Ketimpangan Perempuan Masih Nyata?

by dimas
April 21, 2026

Di tengah perayaan Hari Kartini yang setiap tahun diwarnai kebaya dan kutipan inspiratif, muncul satu pertanyaan besar: jika semangat emansipasi...

Next Post
Blokade AS ke Iran: Stabilitas Dunia atau Risiko yang Disengaja?

Blokade AS ke Iran: Stabilitas Dunia atau Risiko yang Disengaja?

Recommended

Max Havelaar: Film Kolonial Dulu Ditakuti Penguasa, Kini Menampar Zaman Lagi

Max Havelaar: Film Kolonial Dulu Ditakuti Penguasa, Kini Menampar Zaman Lagi

April 21, 2026
Bisnis Gelap Elpiji Rp1 Miliar: Ketika Subsidi Berubah Jadi Ladang Uang

Bisnis Gelap Elpiji Rp1 Miliar: Ketika Subsidi Berubah Jadi Ladang Uang

April 17, 2026

Popular

Mengenal Pingitan: Ruang Sunyi yang Membentuk Kartini dan Gagasan Emansipasi

Mengenal Pingitan: Ruang Sunyi yang Membentuk Kartini dan Gagasan Emansipasi

April 20, 2026

Beasiswa Dian Sastro 2026 Dibuka, Ini Syaratnya

April 20, 2026

Harga BBM Non-Subsidi Melonjak, Transparansi Pemerintah Dipertanyakan

April 20, 2026

Cadangan Gas Raksasa di Indonesia: Siap Jadi Kekuatan Dunia atau Cuma Wacana?

April 20, 2026

Hari Buruh: Perayaan atau Sekadar Jeda dari Ketidakadilan?

April 20, 2026
tabooo.id

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap

Stay in the Loop

  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id