Tabooo.id: Life – Angin laut berhembus kencang. Sementara itu, ombak datang tanpa kompromi. Di atas papan selancar, seorang perempuan berdiri tenang, fokus, dan berbeda. Bukan hanya karena tekniknya. Melainkan karena pilihan yang ia bawa hijab.
Lamar Mufti tidak sekadar menaklukkan ombak. Ia menantang cara dunia memandang perempuan seperti dirinya.
Tubuh Perempuan, Aturan Sosial, dan Label “Tidak Biasa”
Di banyak tempat, orang masih mengajukan pertanyaan yang sama sejauh mana perempuan boleh jadi diri sendiri?
Di satu sisi, publik merayakan kebebasan. Namun di sisi lain, mereka masih menyempitkan makna kebebasan itu sendiri.
Lamar Mufti memilih jalannya dengan jelas dan ia tahu konsekuensinya.
“Merupakan suatu kehormatan menjadi satu-satunya perempuan berhijab di ISA, dan saya bersyukur bisa tidak hanya mewakili negara saya, tetapi juga mewakili agama dan budaya.”
Ia menulis kalimat itu sebagai sikap, bukan sekadar pernyataan. Ia sadar bahwa kehadirannya membawa identitas yang lebih luas.
Di panggung seperti International Surfing Association (ISA), banyak orang menganggap gaya Barat sebagai standar. Namun, Mufti justru menghadirkan perspektif lain. Ia tidak menyesuaikan diri ia memperluas definisi.
Representasi: Antara Kebanggaan dan Tekanan
Banyak orang menganggap status “yang pertama” sebagai pencapaian. Namun kenyataannya, posisi itu juga membawa tekanan besar.
Mufti tidak hanya membawa dirinya. Ia membawa identitas sebagai perempuan, Muslim, dan warga Arab Saudi. Akibatnya, publik sering melihat simbol bukan individu.
“Saya tidak hanya mewakili diri saya sendiri, tetapi juga sebuah negara Muslim. Saya mewakili agama dan budaya. Dan itu menarik perhatian.”
Perhatian memang membuka ruang. Namun bersamaan dengan itu, publik juga melontarkan penilaian, ekspektasi, bahkan stereotip.
Di titik ini, konflik muncul dengan jelas. Individu ingin bebas. Namun lingkungan terus memberi label.
Hijab: Batas atau Bentuk Kebebasan Baru?
Selama ini, banyak orang mengaitkan kebebasan dengan satu tampilan tertentu. Mereka menganggap kebebasan harus terlihat “lepas” dari simbol. Namun Mufti justru menolak logika itu.
“Olahraga seharusnya tidak membuat seseorang harus mengorbankan agama atau identitasnya, tetapi justru memberdayakannya.”
Ia tidak melepas identitas untuk masuk ke ruang olahraga. Sebaliknya, ia membawa identitas itu ke dalamnya.
Dr. Hala Mansour, pengamat budaya olahraga global (12/03/2024), melihat perubahan penting dalam fenomena ini.
“Dulu, olahraga menuntut adaptasi budaya. Sekarang, budaya mulai menuntut ruang di olahraga.”
Artinya, arah perubahan mulai bergeser. Dunia tidak lagi bisa memaksakan satu bentuk kebebasan.
Efek Domino: Keberanian Itu Menular
Dampak Mufti tidak berhenti pada dirinya. Justru, pengaruhnya terasa pada orang lain.
“Saya sering menerima komentar dari perempuan yang ingin mencoba berselancar, bahkan ada yang akhirnya mendapat izin dari orang tua mereka…”
Respons ini menunjukkan sesuatu yang lebih besar. Satu tindakan membuka kemungkinan baru.
Pelatih selancar Timur Tengah, Ahmed Al-Sayeed (22/06/2025), menjelaskan fenomena ini sebagai “social permission effect”.
“Ketika satu orang terlihat melakukannya, yang lain merasa punya izin untuk mencoba.”
Dengan kata lain, keberanian menciptakan ruang. Dan ruang itu mendorong perubahan.
Arab Saudi dan Perubahan yang Bergerak Pelan
Konteks negara juga memainkan peran penting. Dulu, Arab Saudi membatasi ruang gerak perempuan secara ketat. Namun kini, generasi baru mulai mendorong perubahan.
Surfing memang belum berkembang luas di sana. Ombaknya tidak selalu konsisten. Infrastruktur juga masih terbatas. Namun, semangatnya terus tumbuh.
Mufti, bersama Leila Zahid dan Rmas Alhazmi, tidak sekadar berlatih. Mereka membangun fondasi.
Mereka memperluas ruang partisipasi perempuan bukan hanya di olahraga, tapi juga di ruang publik.
Kenapa Jadi Diri Sendiri Masih Dianggap Berani?
Jika dilihat sederhana, Mufti hanya melakukan satu hal ia menjadi dirinya sendiri. Namun publik menganggapnya luar biasa.
Di satu sisi, kita hidup di era modern. Namun di sisi lain, banyak orang masih mempersoalkan identitas perempuan.
Akibatnya, tindakan sederhana berubah menjadi simbol keberanian. Padahal, seharusnya itu hal yang biasa.
Penutup: Batas Itu Nyata, Tapi Siapa yang Membuatnya?
Lamar Mufti menunjukkan satu hal yang jelas: batas sering muncul dari cara pandang, bukan dari kemampuan.
Ia tidak mengubah dirinya agar diterima. Ia justru memaksa dunia untuk melihat ulang definisinya.
Sekarang, pertanyaannya bukan lagi “Bisakah perempuan berhijab berselancar?” Melainkan “Kenapa kita masih merasa itu perlu dipertanyakan?”. @teguh





