Tabooo.id: Food – Pernah kepikiran nggak, jajanan tipis yang kamu lipat sambil jalan itu ternyata punya sejarah panjang soal kuasa, adaptasi, dan perlawanan?
Leker bukan cuma camilan. Dia cerita.
Dan seperti semua cerita besar, dia lahir dari keterbatasan.
Dari Kata “Lekker” ke Leker: Rasa yang Diambil, Lalu Diubah
Di masa kolonial, orang Belanda menyebut pancake mereka dengan satu kata lekker artinya enak.
Orang lokal mendengar, menyerap, lalu memodifikasi.
Bahan mahal dipangkas. Resep diubah.
Hasilnya? Leker Solo.
Bukan selembut pancake Eropa. Tapi lebih tipis, lebih garing, lebih “Indonesia banget”.
Ini bukan sekadar adaptasi. Ini redefinisi rasa.
1968: Saat Leker Jadi Identitas, Bukan Sekadar Jajanan
Nama besar seperti Bapak Fathoni mulai menjual leker sejak 1968 – 1969.
Dari gerobak sederhana, ia membangun standar rasa yang bertahan puluhan tahun.
Kini, generasi kedua seperti Tri Suyatno masih menjaga resep itu.
Tanpa pengawet. Tanpa kompromi.
“Kami tetap pakai bahan alami. Rasa itu nggak bisa dibohongi,” Tri Suyatno, 2024
Sementara itu, generasi berikutnya mulai bermain di ranah modern: Nutella, Ovomaltine, mozzarella.
Tradisi dan tren berjalan berdampingan.
Arang, Wajan, dan Ritual yang Nggak Bisa Digantikan
Di sudut lain Solo, Ridwan masih setia pada cara lama sejak 1981.
Arang, wajan cekung, dan teknik putar tangan yang presisi.
Buat dia, kompor gas itu pengkhianatan rasa.
“Kalau pakai gas, rasanya beda. Nggak ada ‘jiwa’-nya,” Ridwan, 2024
Dan di situ letak magisnya. Leker bukan cuma makanan. Tapi ritual.
Ini Bukan Leker Biasa
Mari jujur.
Leker lahir bukan karena kreativitas semata, tapi karena keterbatasan.
Nggak punya bahan mahal?
Bikin versi sendiri.
Dan ironisnya, justru dari situ lahir identitas.
Ini bukan cerita kuliner biasa.
Ini pola lama kita selalu bisa mengubah kekurangan jadi keunikan.
Yang Kamu Makan, Bukan Cuma Leker
Hari ini kamu makan leker mungkin cuma karena lapar.
Atau sekadar nostalgia masa kecil.
Tapi tanpa sadar, kamu sedang “menggigit” sejarah.
Sejarah tentang bagaimana rasa bisa diwariskan, diubah, dan tetap hidup.
Pertanyaannya sekarang, di era serba instan ini, kita masih mau menjaga rasa yang punya cerita, atau cuma ikut tren?
Di Antara Arang dan Aplikasi
Leker Solo bertahan bukan karena hype.
Tapi karena dia punya dua hal yang jarang dimiliki tren modern, yakni akar dan fleksibilitas.
Dia bisa jadi Rp2.000 di pinggir jalan.
Tapi juga bisa jadi Rp19.500 dengan topping premium di aplikasi online (data 12/04/2026).
Itu bukan sekadar evolusi harga.
Itu bukti: tradisi bisa naik kelas tanpa kehilangan identitas.
Penutup
Leker mengajarkan satu hal sederhana:
yang sederhana belum tentu biasa.
Dan kalau jajanan setipis ini bisa bertahan lebih dari satu abad
mungkin yang perlu kita jaga bukan cuma rasanya, tapi ceritanya.
Karena pada akhirnya, yang kita makan bukan cuma makanan.
Tapi makna. @anisa







