Tabooo.id: Sports – Pencak silat bukan cuma soal jurus. Ini soal identitas, harga diri, dan mimpi panjang yang belum selesai. Dan Sabtu, 10/04/2026, panggung itu berpindah tangan.
Sugiono resmi terpilih sebagai Ketua Umum PB IPSI periode 2026–2030 secara aklamasi dalam Munas XVI di Jakarta International Convention Center. Bukan sekadar kemenangan organisasi ini adalah momen pergantian generasi dalam olahraga yang membawa nama Indonesia ke dunia.
Dari 38 Tahun Dedikasi, Kini Tongkat Estafet Berpindah
Sugiono tidak datang dengan euforia kosong. Ia datang dengan beban sejarah.
“Ada satu rasa haru yang begitu besar karena beliau mengatakan mulai dari tahun 1988 sampai 2026, kurang lebih 38 tahun mengurus pencak silat. Satu waktu yang sangat panjang yang jika tidak berasal dari lubuk hati yang paling dalam, saya yakin tidak mungkin bisa tercapai,” Sugiono, Sabtu, 10/04/2026
Nama Prabowo Subianto bukan sekadar mantan ketua. Ia adalah simbol konsistensi dalam membangun pencak silat nasional selama hampir empat dekade.
Namun kini, panggung berubah. Prabowo memilih mundur, bukan karena selesai tapi karena tanggung jawabnya sebagai Presiden RI.
“Hari ini saya menyatakan bahwa saya mohon izin untuk tidak melanjutkan sebagai Ketua Umum PB IPSI. Karena saya sudah mengemban tugas kebangsaan yang menyita waktu saya,” Prabowo Subianto, Sabtu, 10 April 2026
Target Besar: Dari Tradisi ke Olimpiade
Masalahnya sekarang bukan siapa yang memimpin. Tapi ke mana pencak silat akan dibawa?
Sugiono langsung menegaskan arah. Tidak main aman.
“Kami merasa begitu terhormat. Namun di sisi lain terbersit harapan besar yang diletakkan di pundak kami untuk bisa melanjutkan semua prestasi yang telah beliau torehkan,”
Sugiono, Sabtu, 10/04/2026
Lebih jauh, ia bicara soal mimpi yang selama ini terasa “nyaris tapi belum nyata”.
“Pencak silat harus menjadi warna pembangunan manusia Indonesia dan cita-cita kita untuk melihat pencak silat menjadi bagian dari Olimpiade harus diwujudkan,” tegasnya.
Ini bukan target ringan. Masuk Olimpiade berarti bertarung di level diplomasi global, bukan sekadar teknik di gelanggang.
Dukungan Datang, Tapi Tantangan Lebih Besar
Dukungan pemerintah langsung mengalir. Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir, menyebut pencak silat sebagai “mesin medali” Indonesia.
“Pencak silat merupakan olahraga yang selalu mengangkat marwah Indonesia, terkhusus di multievent. Kemarin di SEA Games kita meraih empat emas,”
Erick Thohir
Tapi ia juga menantang: kenapa olahraga asli Indonesia belum sebesar taekwondo atau Muay Thai?
“Bangsa lain punya taekwondo, punya Muay Thai, kenapa kita tidak bisa mendorong pencak silat ke kancah yang lebih besar,” ujarnya.
Dan di sinilah realitas masuk prestasi tidak berdiri sendiri. Ia butuh ekosistem.
“Prestasi itu pasti sejalan dengan pembangunan ekonomi. Pemerintah harus hadir, swasta harus terlibat, dan ini harus menjadi gerakan bersama,” tambah Erick.
Sports, Tapi Lebih Dalam dari Sekadar Medali
Di Tabooo, kita tidak melihat ini cuma sebagai berita organisasi.
Ini soal tekanan mental, ekspektasi publik, dan pertaruhan identitas bangsa di arena global.
Sugiono bukan hanya menggantikan kursi. Ia menggantikan ekspektasi 38 tahun.
Dan dalam olahraga seperti hidup yang paling berat bukan memulai, tapi melanjutkan.
Pertanyaannya sekarang apakah pencak silat akan benar-benar naik kelas, atau tetap jadi jago kandang dengan cerita lama?. @teguh







