Senin, November 2, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

15 Poin vs 10 Poin: Damai atau Perang Narasi yang Lebih Halus?

by dimas
April 11, 2026
in Global, Reality
A A
Home Reality Global

Tabooo.id: Global – Kenapa AS dan Iran Selalu Gagal Sepakat? Jawabannya Ada di Balik Meja Negosiasi.

Dunia kembali menyorot Islamabad saat Iran mengirim delegasi tingkat tinggi untuk bertemu Amerika Serikat, Sabtu (11/04/2026). Kedua negara membawa agenda besar yang bisa mengubah arah geopolitik global.

Namun satu pertanyaan terus mengganggu apakah kedua pihak benar-benar ingin damai, atau hanya sedang mengulang pola lama dengan wajah yang berbeda?

Delegasi Besar, Taruhan Politik Lebih Besar

Iran mengirim delegasi yang dipimpin langsung Ketua Parlemen Mohammad-Bagher Ghalibaf ke Islamabad. Ia datang bersama Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, pejabat pertahanan Ali Akbar Ahmadian, Gubernur Bank Sentral Abdolnaser Hemmati, serta sejumlah anggota parlemen.

Amerika Serikat juga mengirim tim kuat. Wakil Presiden JD Vance datang mewakili Gedung Putih, didampingi Steve Witkoff dan Jared Kushner sebagai penasihat Presiden Donald Trump.

Ini Belum Selesai

Uji Syarat Pendidikan Capres ke MK, Tiga Warga Minta KPU Periksa Keabsahan Ijazah

Pajak Pembalut: Ketika Kebutuhan Biologis Dikenai Pajak

Komposisi ini menunjukkan satu hal jelas kedua negara menaikkan level pertarungan diplomasi ke titik tertinggi.

15 Poin vs 10 Poin: Dua Arah yang Berbenturan

Donald Trump menyebut Washington sudah menerima proposal 10 poin dari Iran dan menilainya sebagai “dasar negosiasi yang bisa berjalan”.

Namun Abbas Araghchi menegaskan Iran justru menyusun 15 poin yang harus dibahas dalam kerangka kesepakatan.

Perbedaan ini membuka jurang kepentingan yang lebar. AS mendorong penghentian total pengayaan uranium, sementara Iran menolak keras dan menegaskan hak nuklir sipil sebagai garis merah.

Selat Hormuz dan Titik Tekan Energi Global

Ketegangan juga menguat di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia. Aktivitas kapal menurun drastis akibat meningkatnya risiko keamanan di kawasan tersebut.

Trump menuduh Iran menghambat lalu lintas kapal dan memperingatkan potensi biaya tinggi bagi kapal tanker yang melintas.

Iran membalas dengan menegaskan bahwa Selat Hormuz berada dalam wilayah kedaulatan mereka dan berhak mengatur pergerakan kapal di area tersebut.

Lebanon dan Efek Domino Konflik Regional

Situasi di Lebanon ikut memperkeruh suasana. Eskalasi antara Israel dan Hizbullah, yang memiliki hubungan dekat dengan Iran, menambah tekanan politik di meja perundingan.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan sikap tegas:

“Kelanjutan tindakan ini hanya akan membuat perundingan kehilangan makna.” tegasnya.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa konflik lapangan langsung memengaruhi arah diplomasi.

Twist

Perundingan ini bukan hanya soal kesepakatan damai. Ini soal siapa yang berhasil membentuk aturan main dunia.

AS mendorong pembatasan kekuatan nuklir Iran. Iran justru membaca langkah itu sebagai upaya pembatasan kedaulatan.

Di tengahnya, diplomasi berubah menjadi arena tarik-menarik narasi, bukan sekadar pencarian solusi.

Human Impact

Ini dampaknya buat kamu: setiap ketegangan di Selat Hormuz bisa langsung memicu kenaikan harga energi global.

Gangguan di jalur minyak dunia ikut memengaruhi harga BBM, biaya logistik, hingga harga barang di pasar internasional, termasuk Asia.

Analisis Tabooo

Konflik AS-Iran tidak hanya bergerak di ruang diplomasi. Ia hidup sebagai sistem kepentingan yang terus diproduksi ulang.

Setiap proposal damai justru membuka babak baru pertarungan narasi. Di titik ini, damai tidak lagi berdiri sebagai tujuan tunggal, tapi sebagai alat negosiasi kekuatan.

Yang sering luput disadari kedua pihak tidak hanya berdebat soal solusi, tapi juga soal siapa yang berhak mendefinisikan masalah.

Closing

Jika dua negara besar terus membicarakan damai di meja yang sama tetapi konflik tetap melebar di lapangan, kita perlu bertanya ulang: apakah dunia benar-benar mengejar perdamaian, atau hanya mengelola ketegangan? @dimas

Tags: ASdiplomasiDonald TrumpGeopolitikGlobalIslamabadJD VanceKonflik DuniaNuklirPerang IranSelat HormuzTimur Tengah
Next Post
Kepala SMK Ubah Sekolah Jadi Arena Oplosan Gas, Sistem Mana yang Bocor?

Kepala SMK Ubah Sekolah Jadi Arena Oplosan Gas, Sistem Mana yang Bocor?

Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

Social icon element need JNews Essential plugin to be activated.
No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id