Kamis, September 17, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Becak Tua di Madiun: Bertahan atau Sekadar Menunggu Waktu?

by Tabooo
April 2, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Sore di Kota Madiun turun tanpa suara. Langit meredup perlahan, dan lampu jalan mulai menyala satu per satu. Seolah kota sedang bersiap masuk ke fase yang lebih sunyi.

Orang-orang pulang dengan langkah cepat, motor melintas tanpa jeda, dan hidup berjalan seperti tidak pernah punya alasan untuk berhenti.

Di pinggir jalan itu, waktu terasa berbeda. Seorang pria duduk diam di samping becaknya. Ia tidak terburu-buru, tidak juga terlihat menunggu sesuatu yang pasti.

Seolah ia hanya ada, di tengah dunia yang terus bergerak tanpa benar-benar melihatnya.

Kisah yang Tidak Pernah Masuk Berita

Sebut saja “Parjo” (57 tahun), ia sudah menarik becak sejak muda. Dari masa ketika jalanan masih memberi ruang untuk pelan, sampai sekarang ketika semuanya dipaksa serba cepat.

Ini Belum Selesai

Dari Kelapa ke Sawit: Siapa yang Mengubah Isi Wajan Kita?

Silat Panglipur: Sejarah, Filosofi dan Warisan Abah Aleh

“Dulu rame… tiap hari ada saja yang naik,” ujar Parjo, suaranya pelan, hampir tenggelam oleh suara kendaraan di kejauhan. “Tapi sekarang… ya begini. Nunggu saja,” keluhnya.

Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi di balik kata “nunggu”, ada puluhan tahun perubahan yang tidak pernah ia minta.

Ia tidak pernah benar-benar memilih untuk tertinggal. Tapi zaman berjalan tanpa menunggu siapa pun.

Becak: Antara Masa Lalu dan Realita Sekarang

Becak di sampingnya tampak lebih dari sekadar kendaraan. Ia adalah ruang hidup yang terbuka.

Atap plastik yang mulai kusam, pakaian yang digantung seadanya, dan barang-barang kecil yang menunjukkan bahwa hidupnya tidak lagi punya batas yang jelas antara bekerja dan bertahan.

Setiap bagian dari becak itu menyimpan cerita. Tentang panas, hujan, serta hari-hari panjang yang tidak selalu menghasilkan apa-apa.

“Kalau hujan, ya di sini saja,” katanya sambil menepuk plastik pelindung. “Daripada nggak punya tempat,” imbuh Parjo.

Becak itu bukan hanya alat. Ia adalah rumah yang tidak pernah benar-benar terasa seperti rumah.

Keluh Kesah yang Dipendam Terlalu Lama

Parjo tidak banyak bicara. Tidak ada nada marah dari sosok tua itu, tidak ada juga keluhan panjang yang keluar dari mulutnya.

Tapi justru di situlah letak beratnya.

“Kadang sehari nggak dapat sama sekali,” katanya. “Kalau dapat ya buat makan hari itu saja,” tambahnya.

Parjo mengaku tidak ada rencana jangka panjang dengan usianya yang sudah cukup renta. Tidak ada tabungan di hari tuanya ini. Dan tidak ada kepastian bagaimana kehidupannya esok hari. Hidupnya berjalan dalam hitungan hari, dan setiap hari adalah pertaruhan baru.

Ironisnya, ia sudah terlalu terbiasa dengan ketidakpastian itu, sampai tidak lagi terdengar seperti keluhan.

Madiun: Kota Tenang Dengan Cerita yang Tidak Terlihat

Madiun sering disebut sebagai kota yang nyaman. Tidak terlalu padat, tidak terlalu keras, dan terasa lebih “manusiawi” dibanding kota besar. Tapi ketenangan itu punya sisi lain.

Kota yang tidak berisik ini menyimpan banyak hal yang tidak terdengar. Tidak ada sorotan media. Tidak ada kamera yang datang. Hanya ada kehidupan yang berjalan pelan, dan orang-orang yang perlahan tertinggal tanpa pernah benar-benar disadari.

Bukan Sekadar Cerita Pribadi

Kisah ini bukan hanya tentang satu orang “Parjo”. Ini adalah potongan kecil dari realita yang lebih besar. Zaman berubah, teknologi datang, pilihan makin banyak. Tapi sayangnya, perubahan itu tidak datang dengan kesempatan yang sama untuk semua orang.

Ada yang mampu beradaptasi dan kemudian naik mengikuti perubahan, sementara di sisi lain, ada juga yang justru hanya bisa bertahan di tempat, lalu perlahan melihat semuanya bergerak menjauh.

Dampak yang Terasa Dekat

Mungkin kamu pernah melihat pemandangan seperti ini. Mungkin kamu pernah melewati Parjo, atau bahkan Parjo-Parjo yang lain, lalu sempat melirik sebentar, kemudian langsung melanjutkan perjalanan. Dan karena itu terjadi berulang kali, akhirnya semuanya terasa biasa saja.

Ddi situlah masalahnya. Ketika sesuatu yang seharusnya membuat kita berhenti sejenak justru terasa normal, kita mulai kehilangan sesuatu yang lebih besar dari sekadar perhatian, kita kehilangan rasa.

Cerita yang Jarang Masuk Headline

Cerita seperti ini jarang masuk headline. Tidak cukup “dramatis” untuk viral, tidak cukup “besar” untuk dibahas panjang. Tapi justru di sanalah realita paling jujur bersembunyi.

Hal-hal yang paling sunyi sering kali adalah cerminan paling nyata dari bagaimana sistem bekerja, dan bagaimana kita memilih untuk melihat atau mengabaikannya.

Malam pun turun. Lampu jalan memantulkan cahaya redup di aspal yang basah.

Parjo tetap duduk di samping becaknya, dan ia mempertahankan posisi yang hampir tidak berubah sejak sore tadi. Ia mungkin sedang menunggu penumpang atau mungkin hanya menunggu waktu.

Di tengah kota yang terus berjalan, satu pertanyaan tertinggal, sebenarnya yang berhenti itu hidupnya… atau kepedulian kita? @tabooo

Tags: Fenomena Sosialketimpangan sosialmadiunpekerja informalrealita sosialTabooo Vibes

Kamu Melewatkan Ini

81 Tahun Merdeka: Sudahkah Rakyat Merasakan Kemerdekaan?

81 Tahun Merdeka: Sudahkah Rakyat Merasakan Kemerdekaan?

by dimas
Agustus 15, 2026

81 tahun Indonesia merdeka, sudahkah rakyat benar-benar merasakan kemerdekaan melalui pendidikan, kesehatan, pekerjaan layak, kesejahteraan, dan kebebasan? Tabooo.id - Setiap...

Merdeka yang Belum Tuntas: Saat Penjajah Itu Bernama Sistem

Merdeka yang Belum Tuntas: Saat Penjajah Itu Bernama Sistem

by dimas
Agustus 9, 2026

Kemerdekaan bukan sekadar lepas dari penjajahan. Mengapa banyak rakyat masih merasa terbelenggu oleh sistem yang mereka bangun sendiri? Tabooo.id -...

Merdeka Itu Kesempatan, Bukan Sekadar Perayaan

Merdeka Itu Kesempatan, Bukan Sekadar Perayaan

by dimas
Agustus 4, 2026

Kemerdekaan bukan hanya soal perayaan. Data menunjukkan kesempatan untuk belajar, bekerja, dan berkembang di Indonesia masih belum benar-benar setara. Tabooo.id...

Next Post
Narasi Liar vs Realita: Benarkah Raja Inggris Seorang Muslim?

Narasi Liar vs Realita: Benarkah Raja Inggris Seorang Muslim?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id