Minggu, Agustus 23, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Garuda Pancasila dan Kontroversi Sejarah yang Tak Pernah Selesai

by jeje
Maret 31, 2026
in Tabooo Book Club
A A
Home Culture Tabooo Book Club
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Tabooo Book Club – Setiap hari kita melihat Garuda Pancasila. Simbol itu hadir di sekolah, kantor, sampai dokumen resmi negara. Namun, tidak banyak yang benar-benar mengenal sosok di balik desainnya.

Namanya Sultan Hamid II.

Ia memimpin sebagai Sultan Pontianak ke-7 sekaligus merancang lambang negara Indonesia. Sebuah simbol yang hari ini terasa sakral, tetapi lahir dari proses politik yang tidak sederhana. 

Masalahnya, cerita tentang dirinya tidak berhenti di sana.

Antara Nasionalisme dan Bayang-Bayang Kolonial

Di masa penuh tarik-menarik kekuasaan, Sultan Hamid II mengambil posisi yang tidak biasa. Ia bergabung sebagai perwira KNIL dan mendukung konsep negara federal.

Ini Belum Selesai

Kaum Tani Mengganyang Setan-Setan Desa: D.N. Aidit Membongkar Kekuasaan di Balik Kemiskinan

Aksi Massa: Saat Tan Malaka Membongkar Cara Perubahan Dibangun

Sementara itu, banyak tokoh lain mendorong negara kesatuan. Namun, ia justru melihat federalisme sebagai jalan untuk menghindari dominasi satu kekuatan.

Di titik ini, sejarah mulai terasa tidak hitam-putih.

Apakah ini strategi politik yang rasional? Atau justru bentuk keberpihakan yang problematik?

Garuda Pancasila: Karya Besar dari Proses Panjang

Di tengah kontroversi politiknya, Soekarno tetap memberi kepercayaan kepada Sultan Hamid II untuk merancang lambang negara.

Prosesnya tidak instan. Ia menyusun desain, lalu mendiskusikannya bersama tokoh lain. Setelah itu, mereka merevisi beberapa bagian berdasarkan kritik yang muncul.

Salah satu perubahan penting muncul pada pita yang dicengkeram Garuda. Mereka menggantinya dan menambahkan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”.

Akhirnya, negara menetapkan desain tersebut sebagai lambang resmi yang kita kenal hari ini.

Di sini letak ironi yang sulit diabaikan. Sosok dengan posisi politik kontroversial justru melahirkan simbol pemersatu bangsa. 

Kontroversi yang Tak Pernah Selesai

Namun, perjalanan Sultan Hamid II tidak berhenti di ranah simbol.

Ia terseret dalam peristiwa yang melibatkan Raymond Westerling. Rencana kudeta itu gagal, tetapi dampaknya besar. Negara kemudian menangkapnya pada 1950.

Sejak saat itu, persepsi publik terbelah.

Sebagian melihatnya sebagai tokoh berjasa. Sebagian lain menilainya sebagai ancaman bagi republik.

Dan sejak itu pula, narasi tentang dirinya tidak pernah benar-benar selesai.

Pahlawan atau Catatan Kritis Sejarah?

Perdebatan soal statusnya terus berlanjut hingga hari ini.

Di satu sisi, jasanya sebagai perancang lambang negara tidak terbantahkan. Namun di sisi lain, rekam jejak politiknya memicu penolakan.

Karena itu, pertanyaannya bukan sekadar siapa yang benar.

Sebaliknya, pertanyaannya berubah: apakah kita siap menerima sejarah yang tidak rapi?

Sebab pada akhirnya, identitas bangsa memang terbentuk dari tarik-menarik kepentingan, bukan dari cerita yang seragam.

Penutup

Kita sering mengagungkan simbol, tetapi jarang membedah manusia di baliknya.

Sultan Hamid II menunjukkan bahwa sejarah selalu menyimpan lapisan yang kompleks.

Maka, sebelum memilih berpihak, mungkin kita perlu satu langkah tambahan: memahami dengan jernih. @jeje

Tags: sejarahindonesiatabooo

Kamu Melewatkan Ini

Inheritance Consequence: Satu Tetes Lebih Kuat dari Ledakan

Inheritance Consequence: Satu Tetes Lebih Kuat dari Ledakan

by dimas
Juli 3, 2026

Tabooo Merch Inheritance Consequence mengajak memahami bagaimana satu tindakan kecil dapat menciptakan konsekuensi yang melampaui generasi. Tabooo.id - Alam tidak...

Wartonagoro: Tabooology Bukan untuk Menyenangkan Siapapun

Wartonagoro: Tabooology Bukan untuk Menyenangkan Siapapun

by Tabooo
Mei 18, 2026

Menurut Wartonagoro, manusia modern bukan kekurangan informasi, tetapi kehilangan keberanian untuk berpikir jujur tanpa takut penilaian sosial.

Kartun Anak yang Diam-diam Bicara Soal Gangguan Mental

Lucu di Layar, Lelah di Dalam : Sisi Gelap Kartun Spongebob

by jeje
April 18, 2026

Tabooo.id: Deep - Lampu televisi menyala. Tawa anak-anak pecah.Di layar, spons kuning itu berlari tanpa lelah, tertawa tanpa jeda, dan...

Next Post
Kopi Arabika Terancam: Ketika Bumi Memanas, Rasa Pahit Itu Jadi Nyata

Kopi Arabika Terancam: Ketika Bumi Memanas, Rasa Pahit Itu Jadi Nyata

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id