Tabooo.id: Regional – Rintik hujan mengguyur Kota Surakarta malam itu, namun semangat Abdi Dalem dan prajurit Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat tetap membara, Senin (9/3/2026). Mereka bergerak dari Pintu Kamandungan menuju Sasana Putra, bersiap memulai Kirab Malam Selikuran, tradisi yang memadukan ritual keagamaan, budaya Jawa, dan syiar Islam.

PB XIV Pimpin Kirab, Suasana Penuh Warna dan Musik
Dari pantauan Tabooo.id SISKS Pakoe Boewono XIV memimpin seluruh pasukan, Sentono Dalem, dan Abdi Dalem menuju Siti Hinggil. Rombongan membawa berbagai pernak-pernik budaya: lampu lampion berbentuk bintang, Rajamala, mahkota, lampu ting, lampu petromak, hingga Tumpeng Sewu dan wilujengan.
Kirab resmi dimulai pukul 20.30 WIB dari Pagelaran. Rombongan berjalan melintasi Alun-alun Utara, bergerak di Jalan Slamet Riyadi, lalu berbelok ke barat menuju Taman Sriwedari. PB XIV menaiki Mitsubishi Pajero, sementara beberapa anggota keluarga menumpang kereta kuda. Abdi Dalem dan peserta lainnya berjalan kaki, diiringi gamelan dan tembang Jawa, menciptakan harmoni antara tradisi dan modernitas.
Sejarah dan Transformasi Rute Kirab
Menurut KGPH Adipati Panembahan Dipokusumo, Pengageng Parentah Kraton Surakarta, awalnya Kraton mengarahkan kirab malam selikuran ke Masjid Agung. Namun, PB X memindahkan rute ke Sriwedari. Perubahan ini bertujuan menghidupkan kembali taman yang sebelumnya sepi sekaligus memperluas akses masyarakat untuk menyaksikan tradisi.
“Makna malam selikuran adalah bagian dari syiar Islam Keraton, terutama malam Lailatul Qadar pada 21 Ramadhan. Pemindahan rute ke Sriwedari juga membuat tradisi lebih inklusif bagi warga,” ujar KGPH Adipati Panembahan Dipokusumo.
Kirab dan Dampaknya bagi Warga
Bagi warga Surakarta, acara ini bukan sekadar tontonan. Kehadiran PB XIV dan pembagian Tumpeng Sewu memperlihatkan perhatian Keraton terhadap masyarakat. Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, menerima srah tinampi (serah terima) dari Pengageng Parentah Kraton, menegaskan kerja sama antara institusi budaya dan pemerintah daerah.
Di Taman Sriwedari, Ahmad Muwafiq dari Sleman, Yogyakarta memimpin pengajian. Sentono Dalem KPAA Nurwijaya menambahkan bahwa kegiatan ini menggabungkan ritual sakral, pendidikan agama, dan interaksi sosial. Pedagang lokal, pelaku UMKM, dan komunitas budaya ikut mendapat manfaat ekonomi dan eksposur dari keramaian ini, sekaligus memperkuat identitas budaya Surakarta.
Tradisi yang Mengikat Budaya dan Politik
Kirab Malam Selikuran menunjukkan bagaimana Kraton tetap relevan di era modern. PB XIV, pemerintah, dan masyarakat bekerja sama menghidupkan tradisi, sekaligus menegaskan posisi budaya sebagai pengikat sosial-politik.
Meski rintik hujan menetes sepanjang malam, semangat warga dan abdi dalem mengingatkan: budaya bisa basah, tapi tak pernah luntur. Dan bagi siapa pun yang menilai tradisi hanya tontonan, malam itu menunjukkan bahwa ritual bisa menjadi diplomasi lembut antara Keraton, warga, dan kota yang terus hidup. @dimas




