Selasa, Oktober 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Negara Rayakan Pertumbuhan, Buruh Kehilangan Kepastian

by dimas
Maret 4, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Deep – “Ekonomi kita baik-baik saja.” Kalimat itu sering meluncur dari podium resmi, lengkap dengan grafik menanjak dan tepuk tangan sopan. Namun di halte TransJakarta yang penuh sesak, di ruang kerja freelancer tanpa kontrak tetap, atau di kos-kosan sempit pinggir kota, kalimat itu terdengar seperti lelucon yang terlalu mahal untuk ditertawakan.

Raka, 29 tahun, lulusan universitas negeri ternama, bekerja sebagai analis lepas. Ia menyelesaikan proyek demi proyek tanpa jaminan bulan depan. Ia tidak memiliki asuransi kantor, tidak menerima tunjangan tetap, dan tidak pernah tahu kapan klien berikutnya datang.

“Katanya ekonomi tumbuh, Tapi kenapa hidup rasanya makin goyah?” ujarnya.

Pertanyaan itu bukan keluhan individual. Ia mencerminkan paradoks besar yang kini menghantui banyak negara berkembang: pertumbuhan tetap berjalan, tetapi kualitas pekerjaan merosot.

Ekonom sekaligus mantan Menteri Keuangan Muhammad Chatib Basri mengangkat fenomena ini dalam kuliah umum bertajuk Why Development Becomes Harder: The Political Economy of the Possible yang ditayangkan oleh Harvard Center for International Development. Ia tidak sekadar memamerkan data. Ia menantang asumsi lama bahwa pertumbuhan otomatis membawa rasa aman.

Ini Belum Selesai

BBM Tersendat, ASN WFH Jadi Jawaban: Bagaimana dengan Akar Masalahnya?

Prabowo Bertemu Guterres di Hambalang: Diplomasi Akrab, Hasilnya Harus Terukur

Pertumbuhan yang Kehilangan Tenaga Kerja Tetap

Satu dekade lalu, ekspansi ekonomi masih mendorong pembukaan pabrik dan perekrutan karyawan tetap. Perusahaan memperluas lini produksi, lalu menyerap tenaga kerja formal dengan kontrak jelas dan perlindungan sosial.

Kini pola itu berubah. Banyak negara tetap mencatat pertumbuhan PDB yang positif, tetapi sektor formal tidak lagi menyerap tenaga kerja dalam skala besar. Sebaliknya, pekerjaan baru bermunculan di sektor informal: pengemudi aplikasi, pekerja lepas digital, pedagang kecil, atau kontrak jangka pendek tanpa kepastian.

Perubahan ini bukan sekadar pergeseran statistik. Ia mengubah fondasi rasa aman masyarakat. Pekerjaan formal memberi stabilitas pendapatan, akses kredit, serta peluang naik kelas. Sebaliknya, sektor informal memaksa pekerja hidup dari satu order ke order berikutnya.

Ekonomi memang bergerak maju. Akan tetapi, jutaan pekerja merasa seperti berjalan di atas pasir yang terus bergeser.

Siapa yang Menuai Manfaat?

Transformasi ini tidak terjadi secara kebetulan. Digitalisasi dan efisiensi produksi memungkinkan perusahaan meningkatkan output tanpa memperluas tenaga kerja. Pemilik modal menikmati kenaikan produktivitas, sementara kebutuhan akan karyawan tetap menyusut.

Pada saat yang sama, banyak negara berkembang menghadapi gejala premature deindustrialization. Ekonom pembangunan Dani Rodrik menjelaskan fenomena ini sebagai melemahnya sektor manufaktur sebelum negara mencapai tingkat pendapatan tinggi. Padahal selama puluhan tahun, manufaktur berfungsi sebagai mesin pencipta kelas menengah.

Ketika mesin itu melambat, tangga mobilitas sosial ikut goyah. Tanpa manufaktur yang kuat, negara kesulitan menyediakan pekerjaan produktif dalam jumlah besar. Sektor jasa memang tumbuh, tetapi tidak selalu menghadirkan solusi.

Kelas Menengah yang Rapuh

Di atas kertas, banyak orang telah keluar dari kemiskinan. Namun sebagian dari mereka kini masuk kategori fragile middle class kelas menengah yang rapuh. Mereka berada sedikit di atas garis kemiskinan, tetapi satu guncangan saja bisa menjatuhkan mereka kembali.

Kelompok ini jarang menerima bantuan sosial. Negara menilai mereka sudah mapan. Kenyataannya, mereka tetap membayar cicilan rumah, biaya sekolah anak, premi asuransi, dan pajak. Ketika krisis datang, bantalan pengaman mereka tipis.

Tekanan itu melahirkan kecemasan kolektif. Berbeda dengan kelompok miskin, kelas menengah memiliki pendidikan lebih tinggi dan akses informasi lebih luas. Mereka memahami haknya dan berani mempertanyakan kebijakan. Jika pemerintah gagal memenuhi harapan, kekecewaan mudah tumbuh.

Di negara yang mengaku demokratis, rasa kecewa kelas menengah sering menjadi bara yang menunggu angin.

Pengangguran Terdidik: Gelar yang Menunggu

Paradoks lain muncul pada tingkat pengangguran. Di banyak negara, lulusan perguruan tinggi justru mencatat tingkat pengangguran lebih tinggi dibanding lulusan pendidikan rendah.

Fenomena ini berkaitan dengan konsep reservation wage tingkat upah minimum yang bersedia diterima seseorang. Lulusan universitas cenderung menolak pekerjaan yang tidak sesuai dengan keahlian atau ekspektasi mereka. Mereka memilih menunggu peluang yang lebih layak.

Sebaliknya, pekerja berpendidikan rendah jarang memiliki ruang untuk menunda. Mereka menerima hampir semua pekerjaan demi bertahan hidup. “Bagi sebagian masyarakat miskin, pengangguran adalah kemewahan,” kata Chatib.

Ironinya, negara terus mendorong pendidikan tinggi sebagai jalan keluar kemiskinan. Orang tua menjual aset demi biaya kuliah anak. Namun pasar kerja tidak menyediakan cukup posisi formal untuk menampung para sarjana itu. Gelar berubah menjadi tiket antrean panjang, bukan jaminan mobilitas.

Sektor Jasa: Penyelamat yang Terbatas

Sebagian pihak menaruh harapan pada sektor jasa. Kenyataannya, jasa berbasis teknologi tinggi memang produktif, tetapi menyerap tenaga kerja terbatas. Di sisi lain, jasa berproduktivitas rendah menyerap banyak pekerja, namun menawarkan upah minim.

Struktur ini menciptakan polarisasi. Segelintir pekerja menikmati pendapatan tinggi, sementara mayoritas bergulat dengan penghasilan pas-pasan. Ketimpangan tidak selalu meledak dalam protes, tetapi ia merayap pelan dan menggerogoti rasa percaya.

Politik Angka dan Risiko Sosial

Pemerintah sering merayakan angka pertumbuhan karena angka mudah dipahami dan mudah dijual. Grafik yang naik memberi kesan stabilitas. Namun kualitas pertumbuhan apakah ia menciptakan pekerjaan aman dan produktif lebih sulit diukur dan lebih sulit diwujudkan.

Ketika pertumbuhan gagal menghadirkan pekerjaan bermartabat dalam jumlah besar, legitimasi politik ikut terancam. Ketidakpuasan sosial tidak selalu muncul dalam bentuk demonstrasi. Kadang ia hadir sebagai sinisme, apatisme, atau penolakan diam-diam terhadap institusi.

Ekonomi bisa tumbuh lima persen. Akan tetapi, jika mayoritas warga tetap merasa satu langkah dari jurang kemiskinan, stabilitas itu rapuh.

Refleksi Tabooo: Menggugat Ilusi Stabilitas

Tabooo melihat persoalan ini sebagai ironi pembangunan modern. Negara membanggakan pertumbuhan, tetapi pekerja meragukan masa depan. Pemerintah berbicara tentang investasi, sementara lulusan baru berbicara tentang kontrak tiga bulan.

Solusinya tidak cukup dengan mengejar angka PDB lebih tinggi. Pemerintah perlu mendorong investasi yang menyerap tenaga kerja produktif dalam skala besar, memperkuat sektor manufaktur bernilai tambah, dan merancang perlindungan sosial yang relevan bagi pekerja nonformal.

Tanpa langkah itu, pertumbuhan hanya menjadi dekorasi statistik.

Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana namun mengusik apakah kita membangun ekonomi untuk manusia, atau memaksa manusia terus menyesuaikan diri dengan ekonomi yang kian tak peduli?

Di negeri yang memuja grafik menanjak, mungkin keberanian terbesar adalah mengakui bahwa di balik garis hijau itu, ada jutaan orang yang masih berjuang menjaga pijakan. @dimas

Tags: Ekonomi IndonesiaKelasNasionalPembangunanPertumbuhanPolitik Indonesia

Kamu Melewatkan Ini

Jokowi Tak Lagi Bicara Dua Periode: Sinyal Politik atau Sekadar Menahan Diri?

Jokowi Tak Lagi Bicara Dua Periode: Sinyal Politik atau Sekadar Menahan Diri?

by dimas
Oktober 10, 2026

Jokowi tak lagi menegaskan dukungan dua periode untuk Prabowo-Gibran. Sinyal politik menuju Pilpres 2029 atau sekadar sikap hati-hati? Tabooo.id -...

Panggung Politik: Ketika Perhatian Mengalahkan Pertanggungjawaban

Panggung Politik: Ketika Perhatian Mengalahkan Pertanggungjawaban

by dimas
Oktober 8, 2026

Panggung politik kerap mengejar perhatian publik. Namun, di balik sorotan, pertanggungjawaban, kebijakan, dan suara warga tetap harus diuji. Tabooo.id -...

Reshuffle Ketujuh: Prabowo Lepas dari Bayang-Bayang Jokowi?

Reshuffle Ketujuh: Prabowo Lepas dari Bayang-Bayang Jokowi?

by dimas
Oktober 4, 2026

Reshuffle ketujuh Prabowo memunculkan pertanyaan: apakah ia mulai lepas dari bayang-bayang Jokowi dan menata orbit kekuasaannya sendiri? Tabooo.id - Pada...

Next Post
Iran dan Selat Hormuz: Drama Maritim yang Bisa Bikin Harga Minyak Ngamuk

Iran dan Selat Hormuz: Drama Maritim yang Bisa Bikin Harga Minyak Ngamuk

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id