• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Sabtu, Maret 28, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home News Nasional

Di Tengah Gejolak Global, Produk RI Justru Bersinar di Iran

Maret 4, 2026
in Nasional, News
A A
Di Tengah Gejolak Global, Produk RI Justru Bersinar di Iran

Ilustrasi: Sepanjang Januari–Desember 2025, ekspor RI ke Iran menembus US$249,1 juta atau sekitar Rp4,2 triliun (kurs Rp16.850). Angka itu melonjak 20,79% secara tahunan. (Foto: Istimewa)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id; Nasional – Di tengah tekanan ekonomi dan sanksi global, pasar Iran justru membuka pintu lebar untuk produk Indonesia. Sepanjang Januari–Desember 2025, ekspor RI ke Iran menembus US$249,1 juta atau sekitar Rp4,2 triliun (kurs Rp16.850). Angka itu melonjak 20,79% secara tahunan.

Lonjakan ini mempertebal surplus dagang Indonesia. Pasalnya, impor dari Iran hanya berkisar satu digit juta dolar AS. Artinya, neraca jelas berpihak ke Jakarta.

RelatedPosts

Timnas Indonesia Terlalu kuat atau Saint kitts yang lemah?

Prabowo Temui Intel China & Investor AS: Main Aman atau Main Dua Kaki?

Namun di balik angka itu, struktur ekspor Indonesia masih terkonsentrasi pada komoditas konsumsi dan bahan baku ringan.

Buah Jadi Raja, Kopi Melonjak Tajam

Buah dan buah bertempurung (HS 08) menjadi primadona dengan nilai US$86,4 juta, tumbuh 49,6% yoy. Porsinya bahkan menembus sepertiga total ekspor. Dengan kata lain, meja makan Iran banyak diisi produk hortikultura Indonesia.

Di bawahnya, kendaraan dan suku cadang (HS 87) menyumbang US$34,1 juta, meski pertumbuhannya tipis 2%. Lemak dan minyak nabati (HS 15) mencapai US$21,9 juta dan naik hampir 20%. Kayu dan produk kayu (HS 44) ikut menguat 22,3% ke angka US$20 juta.

Yang paling mencolok justru kopi, teh, dan rempah (HS 09). Nilainya US$19,15 juta dan melonjak 79,4% dalam setahun. Angka ini menunjukkan permintaan konsumsi cepat di Iran tetap solid meski kondisi domestik mereka tidak stabil.

Produk kimia (HS 38) menyentuh US$20,25 juta, sementara olahan makanan (HS 21) menembus US$12 juta. Mesin dan peralatan mekanis (HS 84) serta bahan kimia organik (HS 29) juga tumbuh masing-masing 48,7% dan 56,5%, walau basis nilainya lebih kecil.

Memang ada lonjakan ekstrem di sektor kecil. Kendaraan udara (HS 88) melonjak lebih dari 4.000% menjadi US$0,55 juta. Produk tembakau olahan (HS 24) naik 1.412%. Kaca (HS 70) dan barang logam (HS 83) juga meroket ratusan persen. Namun kenaikan persentase tinggi itu tidak mengubah peta besar: buah, kendaraan, minyak nabati, kayu, dan rempah tetap mendominasi.

Perang Datang, Risiko Mengintai

Masalahnya, peta geopolitik berubah drastis pada 28 Februari 2026. Presiden AS Donald Trump mengumumkan operasi militer besar bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Serangan menyasar fasilitas nuklir Iran dan kepemimpinan negara tersebut.

Laporan menyebut Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, tewas dalam serangan di Teheran. Sebagai balasan, Iran meluncurkan ratusan rudal dan drone ke Israel serta titik-titik di kawasan Teluk.

Eskalasi ini langsung menimbulkan pertanyaan bagaimana nasib ekspor Indonesia?

Jika konflik meluas dan mengganggu jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz, biaya logistik bisa melonjak. Premi asuransi pengiriman berpotensi naik. Harga energi global bisa kembali liar. Dalam skenario terburuk, arus barang tersendat dan pembayaran makin berisiko.

Siapa yang diuntungkan? Eksportir komoditas konsumsi cepat mungkin masih punya bantalan karena produk mereka relatif tidak membutuhkan pembiayaan kompleks. Namun pelaku usaha kecil dan menengah yang bergantung pada stabilitas pembayaran jelas berada di posisi rentan.

Di sisi lain, lonjakan harga energi global bisa menguntungkan negara eksportir energi. Tapi bagi importir energi seperti Indonesia, volatilitas tetap menjadi ancaman terhadap stabilitas harga domestik.

Singkatnya, 2025 menjadi tahun manis bagi ekspor RI ke Iran. Namun 2026 membuka babak yang jauh lebih penuh ketidakpastian.

Pasar boleh sedang lapar buah dan kopi dari Indonesia. Tetapi ketika meriam mulai berbunyi, yang pertama goyah biasanya bukan permintaan melainkan jalur distribusi dan kepercayaan. @teguh

Tags: DistribusiDomestikDroneEkonomiEksporGlobalImporIndonesiaIranKawasanKepercayaanKomoditasPertumbuhanRudalSanksiTeheranTelukVolatilitas
Next Post
Konsep Otomatis

Negara Teluk Dihujani Rudal Iran, Stok Pencegat Jadi Taruhan

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Prabowo Suruh Bahlil Berburu Minyak, Ada Apa Sebenarnya?

    Prabowo Suruh Bahlil Berburu Minyak, Ada Apa Sebenarnya?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cantik Itu Luka: Ketika Kecantikan Jadi Kutukan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Suzzanna Tanpa Hantu, Tapi Tetap Menghantui

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pesugihan Sate Gagak: Bisnis Kuliner Paling Laris, Tapi Customer-nya Bukan Manusia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pukulan di Kamar Hotel: Ketika Ego Remaja Lebih Keras dari Empati

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.