Selasa, Oktober 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Dari Flores ke UGM: Kegagalan yang Mengubah Arah Hidup

by dimas
Maret 3, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Life – Langit Flores sore itu berwarna jingga lembut ketika Rifky Adyat Maulana duduk sendirian di beranda rumahnya. Di tangannya, ponsel bergetar pelan. Ia menatap layar cukup lama sebelum berani membaca hasil pengumuman seleksi Bintara Polri yang ia tunggu bertahun-tahun.

Namanya tidak ada di sana.

Angin dari arah laut berembus pelan, seolah mencoba menenangkan sesuatu yang runtuh di dalam dadanya. Sejak kecil, Ikky begitu ia biasa dipanggil membayangkan dirinya berdiri tegap dengan seragam cokelat, lambang garuda di dada, dan sepatu hitam mengilap yang memantulkan matahari Nusa Tenggara Timur. Ia ingin mengabdi, sederhana saja menjaga ketertiban, melindungi yang lemah.

Namun sore itu, mimpinya berhenti di satu titik tidak lolos.

Luka yang Tak Terlihat

Ikky tidak menempuh jalan singkat untuk sampai ke ruang seleksi itu. Ia menyiapkan diri bertahun-tahun. Ia menjaga fisik, melatih disiplin, dan menguatkan mental. Ia membayangkan panggilan tugas seperti orang lain membayangkan panggilan cinta.

Ini Belum Selesai

Americano: Sehat atau Cuma Gaya?

Kebijakan Pemerintah Berubah, Kehidupan Warga Ikut Berubah?

Ketika pengumuman menyatakan ia gagal, ia tidak hanya kehilangan kesempatan. Ia kehilangan arah yang selama ini ia yakini.

“Jujur, waktu itu rasanya kosong, Saya sudah siapkan semuanya. Tapi ternyata bukan jalan saya.” ujarnya.

Banyak anak muda Indonesia menaruh harapan pada profesi aparatur negara tentara, polisi, pegawai negeri karena stabilitas dan prestise yang melekat padanya. Data pendaftaran setiap tahun menunjukkan ribuan pelamar bersaing untuk kursi yang terbatas. Rasio persaingan yang ketat membuat kegagalan menjadi pengalaman kolektif, tetapi rasa kecewanya selalu terasa personal.

Ikky merasakan itu sepenuhnya.

Memungut Ulang Diri Sendiri

Beberapa minggu setelah kegagalan itu, Ikky mulai menata ulang pikirannya. Ia menolak berlama-lama dalam penyesalan. Ia mengingat satu hal yang sering ia abaikan: nilai akademiknya di SMA selalu cemerlang.

Selama ini, ia memandang prestasi akademik hanya sebagai pelengkap. Fokus utamanya tetap pada tes kepolisian. Namun kegagalan memaksanya melihat kemungkinan lain.

Ia lalu memanfaatkan rekam jejak akademiknya untuk mendaftar Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP). Pilihannya jatuh pada Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada. Baginya, hukum tetap menjadi jalan pengabdian. Jika ia tidak bisa menegakkan aturan di lapangan, ia ingin memperjuangkannya dari ruang sidang.

Keputusan itu bukan pelarian. Ia justru melihatnya sebagai transformasi.

“Di titik itu saya sadar, mungkin Tuhan mematahkan hati saya di tes kepolisian bukan untuk menghancurkan masa depan, tapi untuk mengarahkan saya ke Fakultas Hukum UGM,” tambahnya.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi lahir dari pergulatan batin yang tidak ringan.

Detik yang Mengubah Arah

Hari pengumuman SNBP datang dengan ketegangan yang berbeda. Tidak ada baris-berbaris, tidak ada tes fisik. Hanya layar laptop dan koneksi internet yang kadang tidak bersahabat.

Ketika kata “Selamat” muncul di layar, Ikky terpaku. Ia membaca ulang namanya, memastikan itu bukan ilusi.

“Kesedihan saya hilang seketika, Saya merasa seperti diberi arah baru.” pungkasnya.

Ia tidak perlu tes tertulis tambahan. Sistem seleksi berbasis prestasi membawanya langsung ke salah satu fakultas hukum terbaik di Indonesia. Dari Flores, ia bersiap menuju Yogyakarta, membawa koper berisi pakaian dan hati yang perlahan pulih.

Antara Seragam dan Jas Almamater

Perjalanan Ikky menyimpan paradoks yang sering dialami generasi muda: kita tumbuh dengan satu definisi sukses, lalu hidup memaksa kita mendefinisikannya ulang.

Di banyak daerah, menjadi polisi atau tentara sering dianggap puncak kebanggaan keluarga. Seragam bukan sekadar pakaian, tetapi simbol stabilitas dan kehormatan. Ketika mimpi itu kandas, rasa gagal terasa lebih berat karena menyangkut ekspektasi sosial.

Namun Ikky memilih tidak membiarkan identitasnya runtuh bersama satu hasil seleksi. Ia memindahkan mimpinya, bukan menguburnya.

Kini, dengan jas almamater UGM di pundak, ia berjalan di koridor kampus yang jauh dari aroma barak dan lapangan latihan. Ia mempelajari pasal demi pasal, membaca teori keadilan, dan berdiskusi tentang konstitusi. Meja hijau pengadilan perlahan menggantikan bayangan lapangan apel dalam benaknya.

Ia tetap ingin mengabdi. Hanya bentuknya yang berubah.

Kegagalan yang Mengoreksi Arah

Kisah Ikky memperlihatkan sesuatu yang sering luput kita akui: kegagalan tidak selalu berarti ketidakmampuan. Kadang, ia hanya berfungsi sebagai koreksi arah.

Banyak anak muda terjebak dalam satu cita-cita tunggal, seolah hidup tidak menyediakan alternatif. Padahal, potensi manusia jarang berdiri di satu pintu saja. Ketika satu pintu tertutup, kita sering menghabiskan waktu mengetuknya lagi, tanpa menyadari ada jendela yang terbuka di samping.

Ikky beruntung karena ia berani melihat jendela itu.

Tabooo memandang kisah ini bukan sebagai dongeng motivasi klise, melainkan potret realistis tentang daya lenting anak muda. Tidak semua orang bangkit secepat Ikky. Tidak semua orang langsung menemukan jalur baru. Tetapi keberaniannya untuk memindahkan mimpi patut dicatat.

Ia tidak menyangkal kekecewaan. Ia mengakuinya, lalu melangkah.

Pengabdian yang Berubah Wajah

Seragam polisi mungkin tidak pernah datang ke lemari pakaiannya. Namun cita-cita tentang keadilan tetap hidup, hanya berganti medium.

Kelak, ia membayangkan berdiri di ruang sidang, memperjuangkan hak orang-orang yang terpinggirkan. Ia ingin memahami hukum bukan sekadar sebagai teks, tetapi sebagai alat perubahan.

Dari Flores ke Yogyakarta, dari lapangan seleksi ke ruang kuliah, perjalanan Ikky mengajarkan satu hal sederhana hidup tidak selalu memberikan apa yang kita minta, tetapi sering memberi apa yang kita butuhkan.

Sore itu, di beranda rumahnya, ia mungkin merasa segalanya berakhir. Kini, setiap kali mengenakan jas almamater, ia tahu sesuatu baru saja dimulai.

Mungkin memang benar, kegagalan bukan akhir perjuangan. Ia hanya cara hidup menata ulang rute kita.

Dan pertanyaannya untuk kita semua ketika satu mimpi runtuh, apakah kita berani membangun yang baru atau kita memilih tinggal di puing-puingnya? @dimas

Tags: 2026gagalInspiratifMahasiswaNTTPerjuanganSNBP

Kamu Melewatkan Ini

Soe Hok Gie: Sehari Sebelum Ulang Tahun ke-27, Semeru Menjadi Perhentian Terakhirnya

Soe Hok Gie: Sehari Sebelum Ulang Tahun ke-27, Semeru Menjadi Perhentian Terakhirnya

by jeje
September 22, 2026

Aktivis Angkatan 66 itu meninggal di Gunung Semeru pada 16 Desember 1969, sehari sebelum ulang tahunnya. Ia pergi bersama sahabatnya,...

Program Bantuan Smart TV Sudah Sampai, Listriknya Kapan?

Program Bantuan Smart TV Sudah Sampai, Listriknya Kapan?

by teguh
September 14, 2026

Ada satu pemandangan yang membuat program digitalisasi pendidikan terasa seperti sedang berjalan dengan dua kecepatan. Di SD Negeri Mboeng, Manggarai...

Smart TV di Sekolah, Listrik Masih Jadi Soal: Negara Sedang Membangun Apa?

Smart TV di Sekolah, Listrik, Internet Masih Jadi Soal: Negara Sedang Membangun Apa?

by teguh
September 12, 2026

Layar interaktif kini masuk ke ruang kelas hingga pelosok Nusa Tenggara Timur dengan hadirnya bantuan Smart TV di sekolah melalui...

Next Post
Geopolitik Memanas, Prabowo Ajak Mantan Presiden Tukar Gagasan

Geopolitik Memanas, Prabowo Ajak Mantan Presiden Tukar Gagasan

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id