Selasa, Oktober 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Tangis di Senayan, Nyawa NS, dan Ujian Serius Negara Melindungi Anak

by dimas
Maret 3, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Tangis Lisnawati memecah suasana ruang rapat di Kompleks Parlemen, Senayan. Di hadapan anggota dewan, aparat kepolisian, dan lembaga perlindungan anak, ia tidak berpidato panjang. Ia hanya meminta satu hal keadilan untuk anaknya, NS, bocah 13 tahun asal Bojongsari, Jampang Kulon, Sukabumi, yang tewas setelah mengalami dugaan kekerasan berulang.

Di depan Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, Lisnawati berbicara pelan namun tegas.

“Saya hanya ingin anak saya dapat keadilan yang setimpal,” tegasnya. Kalimat itu sederhana, tetapi mengguncang.

Dari Rumah ke Rumah Sakit

Peristiwa ini bermula pada 19 Februari 2026. Saat itu, keluarga membawa NS ke RSUD Jampangkulon dalam kondisi kritis. Namun tenaga medis langsung menemukan luka lebam di berbagai bagian tubuh dan luka melepuh yang menyerupai luka bakar. Karena itu, dokter segera melaporkan temuan tersebut kepada pihak berwenang.

Sebelum mengembuskan napas terakhir, NS sempat berbicara kepada tenaga medis dan polisi. Dalam rekaman video yang kemudian beredar luas, ia mengaku ibu tirinya memaksanya meminum air panas. Pernyataan itu memperkuat dugaan kekerasan.

Ini Belum Selesai

Kapolda Sulsel Usul Arena Tawuran 10 Lawan 10, Polisi Bidik Produsen Busur

BBM Belum Normal, ASN Jember WFH: Siapa Menjamin Layanan Publik Tetap Jalan?

Selanjutnya, tim forensik melakukan autopsi. Hasilnya tegas: dokter menemukan trauma tumpul serta luka bakar serius di organ dalam dan luar tubuh korban. Dengan demikian, klaim bahwa korban mengidap leukemia tidak terbukti.

Polisi Bergerak, Status Hukum Ditetapkan

Setelah menerima laporan pada 19 Februari, Polres Sukabumi langsung menggelar penyelidikan. Keesokan harinya, penyidik menetapkan ibu tiri korban, Teni Ridha, sebagai tersangka. Polisi kemudian menahan Teni pada 23 Februari 2026.

Kapolres Sukabumi AKBP Samian menjelaskan bahwa pihaknya menerima tiga laporan polisi dalam perkara ini. Pertama, ayah kandung NS melaporkan istrinya. Kedua, kuasa hukum ibu kandung melaporkan ayah korban. Ketiga, laporan lain muncul dalam perkembangan berikutnya.

Kini, penyidik memeriksa seluruh laporan tersebut secara paralel. Polisi mengumpulkan bukti, memeriksa saksi, dan menyusun konstruksi perkara. Dengan langkah itu, aparat berupaya memastikan proses hukum berjalan objektif.

Dugaan Kekerasan yang Berlangsung Lama

Namun kasus ini tidak berdiri sendiri. Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia Diyah Puspitrini menyebut peristiwa ini sebagai filisida pembunuhan anak oleh orang tua kandung atau tiri. Menurut KPAI, kekerasan terhadap NS diduga berlangsung sejak 2023, ketika usianya masih sembilan tahun.

Selain itu, KPAI menemukan bahwa keluarga besar dan tetangga pernah mengingatkan agar kekerasan dihentikan. Akan tetapi, ayah korban menolak campur tangan tersebut dengan alasan itu urusan keluarga. Akibatnya, lingkungan sekitar memilih mundur.

Lebih jauh lagi, KPAI mengungkap bahwa selama empat tahun Lisnawati tidak dapat bertemu anaknya. Padahal, Undang-Undang Perlindungan Anak menjamin hak anak untuk berhubungan dengan orang tua. Hambatan tersebut memperlihatkan masalah serius dalam pola pengasuhan dan kontrol sosial.

Ancaman terhadap Ibu Kandung

Setelah Lisnawati melaporkan mantan suaminya, ia menerima pesan ancaman melalui SMS dan aplikasi percakapan. Pengirim pesan meminta ia tidak berbicara ke publik. Bahkan, pesan-pesan itu kerap datang pada malam hari.

Karena itu, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban langsung melakukan asesmen medis, psikologis, dan ancaman terhadap Lisnawati. LPSK juga meminta kepolisian menelusuri informasi mengenai dugaan relasi ayah korban dengan kelompok gangster.

Di sisi lain, Komisi III mendesak aparat menjamin keamanan pelapor. Habiburokhman secara terbuka meminta polisi bertindak tegas terhadap segala bentuk intimidasi. Dengan demikian, negara harus menunjukkan keberpihakan kepada korban, bukan membiarkan tekanan berkembang.

Dampak Sosial yang Lebih Luas

Kasus ini tidak hanya menghancurkan satu keluarga. Pertama, NS kehilangan masa depan. Kedua, Lisnawati kehilangan anak sekaligus menghadapi tekanan psikologis. Ketiga, masyarakat Sukabumi menghadapi trauma kolektif.

Selain itu, publik nasional kembali mempertanyakan efektivitas sistem perlindungan anak. Jika benar kekerasan terjadi sejak 2023 dan sempat berakhir damai pada 2024, maka semua pihak perlu mengevaluasi respons sebelumnya. Apakah mediasi cukup? Apakah pengawasan sudah maksimal? Ataukah kita terlalu sering menutup mata demi menjaga “urusan keluarga”?

Ujian bagi Negara

Kini, proses hukum berjalan. Polisi berjanji bekerja profesional tanpa tekanan media sosial. Namun publik tetap mengawasi. Sebab, setiap detail perkara ini menyangkut kepercayaan masyarakat terhadap penegakan hukum.

Pada akhirnya, kematian NS menampar nurani kita. Rumah yang seharusnya melindungi justru menjadi sumber ketakutan. Jika negara tidak memperkuat sistem pencegahan sejak tanda-tanda awal muncul, maka tragedi serupa bisa terulang.

Dan jika setiap peringatan hanya kita jawab dengan kalimat “itu urusan keluarga”, maka keadilan akan selalu datang terlambat datang setelah anak-anak lebih dulu kehilangan nyawa. @dimas

Tags: AnakKasusKeadilankekerasanKomisi IIIKPAIKriminal & HukumLindungiNasionalNSPerlindunganSukabumiTegas

Kamu Melewatkan Ini

Munir di Malioboro: 22 Tahun Berlalu, Pertanyaan Belum Selesai

Munir di Malioboro: 22 Tahun Berlalu, Pertanyaan Belum Selesai

by dimas
September 25, 2026

Munir di Malioboro menghidupkan kembali ingatan tentang perjuangan HAM, 22 tahun setelah kematiannya dan pertanyaan hukum yang belum selesai. Tabooo.id...

Munir, Andrie Yunus dan Bayang-Bayang Impunitas

Munir, Andrie Yunus dan Bayang-Bayang Impunitas

by dimas
September 23, 2026

Munir, Andrie Yunus dan bayang-bayang impunitas kembali membuka pertanyaan tentang kekerasan terhadap pembela HAM dan ruang sipil. Tabooo.id - Malam...

Menanti Keamanan di Papua, Warga Sipil Terus Dibayangi Kekerasan

Menanti Keamanan di Papua, Warga Sipil Terus Dibayangi Kekerasan

by dimas
September 20, 2026

Menanti keamanan di Papua setelah penembakan Aris Sanda. TNI memburu pelaku, sementara DPR menyoroti perlindungan warga sipil. Tabooo.id - Jalan...

Next Post
Kongres AS Bersiap Voting Batasi Kewenangan Trump dalam Perang Iran

Kongres AS Bersiap Voting Batasi Kewenangan Trump dalam Perang Iran

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id