Tabooo.id: Talk – Revolusi Indonesia bukan cuma soal melawan Belanda. Revolusi juga soal perdebatan di dalam rumah sendiri.
Di antara dentuman senjata dan pidato kemerdekaan, dua nama berdiri sama tinggi tapi tak selalu searah: Tan Malakadan Soekarno.
Keduanya sama-sama ingin Indonesia merdeka. Keduanya sama-sama membenci kolonialisme. Namun, ketika kemerdekaan sudah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, pertanyaan baru muncul: bagaimana cara mempertahankannya?
Dan di titik itulah, perbedaan berubah menjadi konflik.
Revolusi Total vs Diplomasi Bertahap
Bagi Tan Malaka, kemerdekaan tidak bisa dinegosiasikan. Ia percaya rakyat harus mengusir Belanda lewat revolusi total tanpa kompromi, tanpa campur tangan asing, tanpa perundingan yang membuka celah penjajahan baru.
Ia menolak keras perundingan seperti Perjanjian Linggarjati dan Perjanjian Renville. Menurutnya, perundingan itu hanya memberi napas bagi Belanda untuk kembali mengatur strategi.
Sebaliknya, Soekarno membaca situasi secara berbeda. Ia melihat Indonesia masih rapuh. Militer belum kuat. Ekonomi belum stabil. Dukungan internasional masih dibutuhkan. Karena itu, ia memilih jalur diplomasi sambil tetap menjaga perlawanan.
Bagi Bung Karno, diplomasi bukan menyerah. Diplomasi adalah strategi bertahan.
Namun bagi Tan Malaka, diplomasi adalah pintu kompromi.
Dua strategi ini tidak sekadar berbeda arah. Mereka berbeda filosofi.
“100% Merdeka!” dan Persatuan Perjuangan
Tahun 1946, Tan Malaka mendirikan Persatuan Perjuangan. Ia mengusung satu slogan yang keras dan tak ambigu: “100% Merdeka!”
Ia menolak setengah-setengah, Ia menolak kedaulatan parsial, Ia menolak negara yang masih tunduk pada pengaruh Belanda.
Namun pemerintah di bawah Soekarno dan Mohammad Hatta melihat gerakan ini sebagai ancaman stabilitas. Negara baru berdiri. Konflik internal bisa memecah revolusi dari dalam.
Akhirnya, pemerintah menangkap Tan Malaka pada Maret 1946.
Ironisnya, seorang pejuang kemerdekaan harus mendekam di penjara republik yang baru lahir.
Di sini, revolusi bukan lagi soal melawan penjajah. Revolusi menjadi perdebatan tentang arah bangsa.
Sosialisme Radikal vs Demokrasi Pancasila
Perbedaan tidak berhenti pada strategi militer. Ia merembet ke visi negara.
Tan Malaka menginginkan negara sosialis berbasis buruh dan petani. Ia ingin negara menasionalisasi aset ekonomi. Ia ingin Indonesia lepas total dari kapitalisme Barat dan elite feodal.
Sementara itu, Soekarno merumuskan Demokrasi Pancasila. Ia membuka ruang bagi nasionalis, Islam, dan sosialis dalam satu wadah. Ia tidak menolak sosialisme, tetapi ia juga tidak ingin Indonesia jatuh pada ekstremitas ideologi.
Tan Malaka menilai pemerintah terlalu lunak.
Soekarno menilai Tan Malaka terlalu radikal.
Satu ingin percepatan revolusi.
Satu ingin stabilitas jangka panjang.
Tentara Rakyat vs Tentara Nasional
Dalam revolusi fisik 1945–1949, Tan Malaka mendorong pembentukan tentara rakyat berbasis milisi. Ia percaya buruh dan petani harus memegang senjata sendiri.
Namun pemerintah membentuk tentara nasional yang terorganisir dan profesional. Negara butuh struktur. Negara butuh komando tunggal.
Akibatnya, sejumlah milisi yang dekat dengan gagasan Tan Malaka dianggap liar. Beberapa bahkan dicap pemberontak.
Di titik ini, garis antara idealisme dan stabilitas menjadi kabur.
Akhir yang Tragis
Konflik mencapai puncaknya pada Februari 1949. Setelah bergerilya di Jawa Timur, pasukan TNI menangkap Tan Malaka di Kediri.
Tentara Indonesia sendiri mengeksekusinya tanpa pengadilan.
Seorang pejuang kemerdekaan mati di tangan republik yang ia bela.
Ironi sejarah jarang sekeras ini.
Siapa yang Benar?
Sejarah sering memaksa kita memilih kubu. Namun mungkin pertanyaannya bukan siapa yang benar.
Tan Malaka membawa keberanian tanpa kompromi.
Soekarno membawa strategi yang realistis.
Tanpa Tan Malaka, revolusi mungkin kehilangan bara.
Tanpa Soekarno, republik mungkin kehilangan pijakan.
Perbedaan mereka menunjukkan satu hal penting: kemerdekaan bukan lahir dari keseragaman pikiran. Ia lahir dari perdebatan, benturan, bahkan konflik.
Dan mungkin, justru karena konflik itulah Indonesia berdiri.
Pertanyaannya sekarang: di zaman yang penuh kompromi ini, kita lebih mirip siapa? @jeje




