• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Kamis, Maret 26, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Talk

Jangan Menentang Orang Tua, Bagaimana Kalau Mereka Salah?

Februari 14, 2026
in Talk
A A
Jangan Menentang Orang Tua, Bagaimana Kalau Mereka Salah?

Ilustrasi Konflik keluarga di ruang tamu. (Foto: Istimewa)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Talk – Sejak kecil kita akrab dengan kalimat ini: “Anak itu jangan menentang orang tua.” Tegas. Final. Seolah tak bisa ditawar. Namun, mari kita jujur sebentar apa setiap perbedaan pendapat otomatis berarti durhaka?

Di banyak keluarga, orang langsung memberi label “kurang ajar” saat anak membalas argumen. Bahkan, nada suara yang sedikit naik sering dianggap sebagai perlawanan. Akibatnya, opini berbeda kerap dipersepsikan sebagai tanda tak tahu diri. Padahal, sering kali anak hanya ingin menyampaikan sudut pandangnya.

Di titik inilah konflik biasanya mulai tumbuh.

Patuh Sejak Kecil, Siap Bersuara Saat Dewasa?

Pada dasarnya, orang tua memang mengajarkan disiplin dan rasa hormat sejak dini. Selain itu, mereka membawa pengalaman hidup yang panjang. Namun, zaman terus bergerak. Dunia kerja berubah, pola hidup bergeser, dan cara berpikir ikut berkembang.

Sebagai contoh, generasi dulu mengejar stabilitas lewat pekerjaan tetap. Sementara itu, generasi sekarang melihat peluang di dunia digital, industri kreatif, bahkan startup. Ketika anak memilih jalur berbeda, orang tua merasa khawatir. Di satu sisi, mereka ingin anak aman. Di sisi lain, anak ingin berkembang. Akhirnya, dua niat baik bertemu lalu berbenturan.

Karena itu, kita sering menyebut benturan tersebut sebagai pembangkangan. Padahal, bisa jadi anak sebenarnya sedang mencoba berdialog.


Membantah Itu Proses Berpikir

Sebenarnya, membantah tidak selalu berarti melawan. Justru ketika anak bertanya “kenapa?”, ia sedang berpikir. Ketika ia menyampaikan alasan, ia sedang belajar menyusun argumen. Jika keluarga menutup ruang itu, maka anak bisa kehilangan keberanian untuk bersuara.

Ironisnya, kita berharap generasi muda tampil percaya diri di luar rumah. Kita ingin mereka kritis, tegas, dan berani mengambil keputusan. Namun di dalam rumah, kita meminta mereka diam dan mengangguk. Artinya, ada standar ganda yang tanpa sadar kita pelihara.

RelatedPosts

Lebaran Beda Hari, Antara Ilmu, Ego, dan Toleransi

Sunyi dan Ramai Bertemu: Seberapa Siap Kita Hidup dalam Perbedaan?

Meski begitu, cara tetap menentukan hasil. Anak yang berteriak tentu memperkeruh suasana. Sebaliknya, orang tua yang langsung memotong pembicaraan juga menutup pintu diskusi. Dengan demikian, kedua pihak memegang peran yang sama pentingnya.

Di Balik Larangan Ada Kekhawatiran

Di sisi lain, kita juga perlu memahami posisi orang tua. Mereka tumbuh dalam pola asuh yang keras. Mereka menjalani hidup dengan aturan tegas. Karena itu, banyak dari mereka tidak pernah memiliki ruang untuk membantah. Kini, mereka menerapkan pola yang sama karena merasa itulah bentuk disiplin yang benar.

Selain faktor budaya, rasa takut sering mendorong reaksi keras. Orang tua takut anak salah langkah. Mereka takut melihat anak menyesal. Mereka ingin melindungi. Dengan kata lain, kekhawatiran itu lahir dari cinta, bukan dari niat mengontrol.

Namun demikian, masalah muncul ketika cinta berubah menjadi kontrol mutlak.

Versi Tabooo: Hormat Wajib, Dialog Sehat

Pada akhirnya, Tabooo percaya satu hal: hormat itu wajib. Tanpa rasa hormat, hubungan mudah retak. Akan tetapi, hormat tidak berarti membungkam diri sendiri. Sebaliknya, keluarga yang sehat memberi ruang bagi perbedaan tanpa kehilangan sopan santun.

Jika orang tua mau mendengar, maka anak akan lebih terbuka. Sebaliknya, jika anak belajar menyampaikan dengan tenang, orang tua lebih mudah menerima. Oleh karena itu, dialog yang sehat menuntut kedewasaan dua arah.

Bayangkan jika anak selalu setuju hanya demi menghindari konflik. Akibatnya, ia bisa tumbuh menjadi pribadi yang ragu mengambil keputusan. Atau bahkan, ia menyimpan semua ketidaksetujuan dan memberontak diam-diam. Jelas, kedua skenario itu tidak ideal.

Karena itu, perdebatan kecil di meja makan jauh lebih sehat daripada keputusan besar yang diambil tanpa komunikasi.

Jadi, Kamu Pilih Diam atau Berdialog?

Mungkin sudah saatnya kita mengganti cara pandang. Jangan fokus pada kata “menentang”. Sebaliknya, fokuslah pada kualitas percakapan. Anak boleh berbeda pendapat. Orang tua berhak memberi nasihat. Namun, keduanya perlu belajar mengelola ego.

Sekarang coba jawab dengan jujur.

Jika suatu hari anakmu tidak sepakat denganmu, apakah kamu ingin ia diam saja?
Sebaliknya, jika kamu masih menjadi anak, apakah kamu membantah untuk membuktikan diri, atau karena benar-benar memikirkan masa depanmu?

Pada akhirnya, berbeda pendapat adalah risiko dalam hubungan yang hidup.

Lalu, kamu di kubu mana? @eko

Tags: adu argumenDebatdurhakamenentangnasehatorang tuaTalk
Next Post
G’Nots Indiefa: Band Difabel yang Suarakan Harapan dan Semangat

G’Nots Indiefa: Band Difabel yang Suarakan Harapan dan Semangat

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Satu iPhone, Satu Bisnis: Apple Siap Ubah Cara Orang Indonesia Cari Uang

    Satu iPhone, Satu Bisnis: Apple Siap Ubah Cara Orang Indonesia Cari Uang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bersua Sang Raja: No Jeans, No Kaos

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bersua Sang Raja: Silaturahmi atau Ujian Etika?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bersua Sang Raja: Momen Langka Warga Bisa Bertatap Langsung dengan Raja Surakarta

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OnePlus 15T Rilis: Baterai 7.500 mAh, HP Tahan 40 Jam Nonstop

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.