Tabooo.id: Life – “Nama saya Tatik. Tati saja. Boleh ditambahi Tatik Batik,” ujarnya, lalu tertawa lepas seolah ingin mencairkan jarak. Siang itu matahari Bojonegoro jatuh tegak di halaman belakang rumahnya di Desa Sambiroto, Kecamatan Kapas. Di sela rerumputan liar, sambiloto tumbuh tanpa banyak diminta perhatian. Daunnya kecil dan pahit. Selama puluhan tahun warga merebusnya menjadi jamu, meminumnya saat sakit, lalu melupakannya lagi ketika tubuh kembali sehat.
Akan tetapi, di mata Tatik (53), sambiloto tidak pernah sekadar tanaman obat. Ia menatap bunga kecilnya yang putih keunguan seperti membaca pola yang belum selesai digambar. Bagi orang lain, itu tanaman biasa bagi Tatik, itu motif yang menunggu dilahirkan.
“Dulu mudah dicari di mana-mana. Sekarang agak susah, mungkin karena musim berubah,” jelasnya, pada Selasa (10/02/2026).
Menurut cerita para sesepuh, nama Sambiroto muncul karena melimpahnya tanaman sambiloto di desa itu. Dahulu, ia tumbuh seperti rumput. Kini, jumlahnya menyusut. Karena itulah Tatik merasa cemas: jika tanamannya menghilang, apakah makna nama desa juga akan ikut pudar? Dari kegelisahan itulah langkahnya bermula.
Saat Pandemi Mengubah Arah
Memasuki 2021, hidup Tatik berbelok tajam. Pandemi COVID-19 memaksa sekolah taman kanak-kanak tempatnya mengajar menutup pintu. Anak-anak belajar dari rumah. Aktivitas desa melambat. Selain itu, banyak ibu rumah tangga kehilangan penghasilan tambahan. Suasana terasa sepi, sementara kebutuhan tetap berjalan.
Sebenarnya, Tatik sudah mengenal batik sejak lama. Ia pernah mengikuti pelatihan yang diadakan pemerintah desa. Namun saat itu, kemampuannya masih dasar. Di sisi lain, pasar batik Bojonegoro sudah dipenuhi motif mapan seperti daun jati, Mliwis Mukti, Rancak Thengul, Sekar Jati, Jagung Miji Emas, hingga Parang Lembu Sekar Sinambat. Ia menyadari posisinya belum kuat.
Meski begitu, pandemi justru memberinya ruang untuk berpikir. Di sela waktu senggang, ia duduk di halaman belakang. Angin sore menggerakkan daun sambiloto, dan pikirannya berputar. Mengapa tidak mengangkat bunga kecil yang pahit itu menjadi motif batik? Mengapa tidak memperkenalkan identitas desa lewat kain?
Sejak saat itu, ia tidak lagi sekadar membatik. Ia mulai merancang cerita.
Canting, Lilin, dan Tekad
Tatik memulai semuanya dari nol. Ia menata meja kayu tua, menyiapkan canting sederhana, memanaskan lilin dalam ember kecil, lalu membeli pewarna secara bertahap. Dengan tangan yang masih kaku, ia menggambar pola sambiloto di atas kain. Ia meniup ujung canting agar malam mengalir stabil, kemudian mencelup kain dengan sabar.
“Awalnya sulit sekali,” tambahnya sambil menunjukkan kain batik cap yang masih beraroma lilin hangat.
Setiap hari ia bekerja di ruang terbuka. Ayam berkokok, angin berembus, dan panas matahari menyentuh punggungnya. Ia tidak memiliki studio modern. Ia juga tidak punya galeri luas. Namun ia menyimpan keyakinan bahwa daun pahit itu layak tampil anggun di atas kain.
Tantangan berdatangan hampir bersamaan. Modal terbatas membatasi produksi. Keterampilannya terus ia asah sambil berjalan. Selain itu, situasi pandemi membuat daya beli masyarakat menurun. Meski demikian, ia tidak berhenti. Sebaliknya, ia mengajak ibu-ibu tetangga bergabung. Ia berbagi teknik mencanting, cara mencampur warna, hingga strategi menjual.
Dari kerja kolektif itu lahir kelompok kecil bernama Batik Sambiroto. Namun ketika mereka mendaftarkan merek ke Kementerian Hukum dan HAM melalui fasilitasi Dinas Perindustrian dan Ketenagakerjaan Bojonegoro, nama tersebut ternyata sudah dipatenkan pihak lain. Rasa kecewa sempat muncul, tetapi Tatik segera mencari jalan keluar.
Akhirnya, ia memilih nama Batik Kembang Sambiloto. Nama itu tetap mengakar pada tanaman yang sama pahit, kuat, dan menyembuhkan.
Menembus Batas Desa
Seiring waktu, usaha itu tumbuh perlahan. Tatik aktif mengenalkan batiknya di berbagai forum desa, kecamatan, hingga kabupaten. Ia membawa kain hasil karyanya dengan penuh percaya diri. Pemerintah Kabupaten Bojonegoro pun menampilkan motif sambiloto berdampingan dengan motif unggulan lain dalam berbagai pameran.
Kemudian, pada 2023, dukungan datang melalui program CSR sebuah perusahaan. Bantuan alat membatik dan pemasaran membuat produksi lebih efisien. Kesempatan itu memperluas jangkauan mereka.
“Mereka seperti memberi angin segar,” katanya dengan mata berbinar.
Saat ini, Batik Kembang Sambiloto memiliki lebih dari 20 anggota. Sekitar 11-12 ibu aktif berkarya setiap hari. Mereka bekerja dengan suasana guyub. Sambil mencanting, mereka bertukar cerita tentang anak, dapur, dan mimpi.
Tak hanya itu, media sosial membuka pasar baru. Pesanan berdatangan dari berbagai kota. Bahkan, kain bermotif sambiloto itu pernah melintasi benua hingga Aljazair di Afrika Utara. Dari halaman belakang rumah sederhana, karya Tatik menjangkau dunia.
Dari Pahit Menjadi Martabat
Sambiloto selalu identik dengan rasa pahit. Banyak orang menghindarinya, kecuali saat sakit. Namun justru dari rasa pahit itulah Tatik menemukan peluang. Ia mengubah tanaman yang sering diabaikan menjadi simbol kebanggaan.
Di tengah arus industri besar yang sering menyeragamkan selera, ia memilih menggali akar sendiri. Ia tidak meniru tren. Ia tidak mengejar popularitas instan. Sebaliknya, ia memperkuat identitas lokal dan mengajak perempuan desa berdiri sejajar.
Lebih jauh lagi, batik sambiloto memberi ruang aman bagi para ibu. Mereka memperoleh penghasilan sekaligus rasa percaya diri. Mereka tidak lagi sekadar menyaksikan perubahan zaman; mereka ikut membentuknya.
Mimpi Kampung Batik
“Harapan kami sederhana, Batik ini dikenal luas, dan kami terus dilibatkan dalam kegiatan, baik tingkat lokal maupun yang lebih besar.” ujar Tatik pelan.
Di balik kalimat itu tersimpan visi yang lebih jauh. Ia ingin menjadikan Sambiroto sebagai Kampung Batik. Ia membayangkan setiap rumah memiliki karya. Ia membayangkan anak-anak desa tumbuh dengan kebanggaan pada identitasnya sendiri.
Sore kembali turun. Daun sambiloto bergoyang pelan tertiup angin. Cahaya matahari memantul di kain-kain yang dijemur.
Barangkali dunia tidak selalu membutuhkan yang manis. Kadang, kekuatan lahir dari yang pahit asal seseorang berani mengolahnya.
Di Desa Sambiroto, Tatik telah membuktikan satu hal ketika akar dirawat dengan cinta, ia tidak hanya tumbuh ke dalam tanah, tetapi juga menjalar jauh melampaui batas desa. @M Tohir – Bojonegoro







