Sekitar 405 kayu gelondongan menghantam pesisir Sumenep, Jawa Timur, setelah lepas dari sebuah tongkang yang membawa 697 batang kayu menuju Probolinggo. Hingga Senin, 21/09/2026, sekitar 405 batang kayu telah mencapai pesisir tiga desa di Kecamatan Dungkek.
Tabooo.id: Sumenep – Benturan 405 kayu gelondongan merusak sedikitnya enam perahu nelayan. Lima perahu mengalami kerusakan di Desa Bicabbi, sementara satu perahu lain rusak di Desa Dungkek.
Ukuran kayu membuat situasi semakin berisiko. Kayu-kayu itu memiliki diameter sekitar 1,5 meter dan panjang hingga 12 meter. Gelombang dan pasang surut terus menggeser posisi kayu di sepanjang pesisir.
Tagana Sumenep, Buzairi, mengatakan jumlah kerusakan masih bisa bertambah.
“Data ini berpotensi terus bertambah karena kayu terus diterpa pasang surut ombak.”
Sekitar 50 perahu lain ikut terdampak secara tidak langsung. Para nelayan bahkan berjaga sepanjang malam untuk melindungi perahu mereka dari benturan kayu.
Tongkang Miring, Muatan Lepas
Chief Officer atau Mualim I tongkang, James Malumbot, menjelaskan kapal membawa 697 batang kayu dari Sungai Berau, Kalimantan Timur, menuju Probolinggo, Jawa Timur.
Tongkang berangkat pada 5 September 2026 dengan 10 awak dan seorang nakhoda. Perjalanan normal membutuhkan sekitar 11 hari. Namun, cuaca buruk memperpanjang perjalanan hingga sekitar 13 hari.
Pada 18/09/2026 sekitar pukul 17.00 WIB, tongkang berada di sekitar perairan Gili Iyang. Sebelumnya, awak kapal menghadapi cuaca buruk di perairan Jawa pada 13–14 September. Gelombang mencapai sekitar empat meter dan membuat tongkang miring. Awak kapal kemudian mencari perlindungan di sekitar Gili Iyang.
James mengatakan air masuk ke bagian tongkang ketika cuaca memburuk. Beban kayu yang berat ikut memperbesar persoalan. Awak kapal mencoba mengeluarkan air menggunakan pompa, tetapi kondisi muatan terus memburuk.
Ikatan muatan akhirnya putus. Ratusan kayu jatuh ke laut dan terbawa arus menuju pesisir Sumenep.
Dari total 697 batang, masyarakat dan petugas memperkirakan sekitar 405 batang telah terdampar di kawasan Dungkek, Bicabbi, dan Romben Guna.
Cuaca Buruk Bukan Akhir Cerita
Cuaca buruk memang menjadi bagian dari penjelasan awak kapal. Namun, keselamatan pelayaran tidak berhenti pada persoalan cuaca.
Regulasi keselamatan pelayaran juga mengatur aspek pengangkutan dan penanganan muatan. Permenhub PM 93/2013 memasukkan kayu gelondongan sebagai barang khusus yang membutuhkan standar penanganan dan keselamatan.
UU Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran juga menempatkan keselamatan pengangkutan, kelaiklautan kapal, garis muat, pemuatan, awak kapal, serta manajemen keselamatan sebagai bagian penting dalam keselamatan pelayaran.
Pengamat transportasi Darmaningtyas sebelumnya mengingatkan bahwa cuaca tidak selalu bisa menjadi satu-satunya penjelasan ketika kecelakaan transportasi laut terjadi. Ia menyoroti pentingnya koordinasi dengan BMKG, standar keselamatan kapal, dan penerapan SOP.
Konteks ini penting karena kayu yang jatuh ke laut bukan hanya persoalan muatan kapal. Ketika ratusan batang kayu masuk ke jalur pesisir, nelayan menghadapi risiko baru yang tidak mereka pilih.
Yang Rusak Bukan Sekadar Perahu
Enam perahu sudah mengalami kerusakan. Sekitar 50 perahu lain menghadapi ancaman serupa.
Bagi nelayan, perahu bukan sekadar alat transportasi. Perahu menjadi modal utama untuk mencari ikan. Ketika perahu rusak, aktivitas melaut ikut terganggu. Biaya perbaikan pun bisa langsung menekan pendapatan keluarga.
Di titik ini, persoalannya bergeser dari “siapa kehilangan kayu?” menjadi “siapa menanggung risiko setelah kayu itu sampai ke darat?”
Petugas masih perlu memastikan jumlah kayu yang lepas, tingkat kerusakan perahu, serta penyebab teknis yang membuat muatan keluar dari tongkang.
Sebab, cuaca buruk bisa menjelaskan kapan masalah terjadi. Namun, pemeriksaan keselamatan perlu menjelaskan bagaimana muatan bisa lepas dan siapa yang harus bertanggung jawab atas dampaknya.
Ketika 405 kayu keluar dari kapal dan masuk ke ruang hidup nelayan, yang terlepas bukan cuma muatan. Risiko juga berpindah dari laut ke warga pesisir. @teguh







