13 anak bajang mengikuti Ruwatan Rambut Gimbal dalam Dieng Culture Festival 2026 di Kompleks Candi Arjuna, Banjarnegara, dengan beragam permintaan.
Tabooo.id: Banjarnegara – Sebanyak 13 anak bajang atau anak berambut gimbal mengikuti prosesi Ruwatan Rambut Gimbal dalam rangkaian Dieng Culture Festival (DCF) 2026 di Kompleks Candi Arjuna, Dieng, Kabupaten Banjarnegara.
Tradisi tersebut menjadi salah satu warisan budaya khas Dieng yang terus dijaga masyarakat. Bagi warga setempat, rambut gimbal yang tumbuh secara alami pada anak-anak tertentu memiliki makna khusus sehingga keluarga tidak boleh memotongnya sembarangan.
Sebelum mencukur rambut, anak harus menyampaikan permintaan tertentu. Keluarga kemudian memenuhi permintaan tersebut sebagai bagian dari rangkaian tradisi sebelum prosesi pencukuran.
Rangkaian ruwatan tahun ini menjadi salah satu agenda yang paling dinantikan dalam DCF 2026. Kirab budaya turut mengiringi rangkaian kegiatan tersebut dengan mengusung tema “Spirit of Harmony”.
Ketua Pokdarwis Pandawa sekaligus Ketua Pelaksana DCF 2026, Alif Faozi, mengatakan 13 anak dari Banjarnegara, Wonosobo, dan daerah sekitarnya mengikuti prosesi tahun ini.
“Permintaan mereka beragam, mulai dari kambing, sepeda listrik, ayam kalasan, makanan, hingga telepon seluler,” kata Alif di Media Center DCF, Jumat (28/8/2026).
Menurut Alif, keluarga harus memenuhi permintaan anak sebelum prosesi pencukuran berlangsung. Setelah itu, anak menjalani pencukuran sebagai simbol pelepasan rambut gimbal.
“Sesuaikan kepercayaan masyarakat kami, rambut gimbal tumbuh karena sebuah titipan leluhur Dieng, Kaladete, maka harus dikembalikan melalui tata cara adat,” ujar Alif.
Malayeka dan Rambut Gimbal Sejak Usia Tiga Bulan
Salah satu anak yang mengikuti prosesi tahun ini adalah Malayeka Rafana Arabella. Bocah berusia delapan tahun itu berasal dari Desa Bandingan, Kecamatan Sigaluh, Banjarnegara.
Malayeka meminta sepeda listrik berwarna pink. Ia menginginkan sepeda dengan keranjang pada bagian depan.
Sainem, ibu Malayeka, mengatakan rambut gimbal putrinya mulai tumbuh ketika Malayeka berusia sekitar tiga bulan. Sejak saat itu, keluarga tidak pernah mencukur rambut tersebut.
Kini Malayeka duduk di kelas 2 sekolah dasar. Setelah menunggu bertahun-tahun, ia akhirnya mengikuti prosesi ruwatan bersama 12 anak bajang lainnya.
“Sepeda listrik warna pink, yang depannya ada keranjangnya,” kata Sainem.
Permintaan Malayeka berubah seiring pertambahan usianya. Ketika masih kecil, ia pernah meminta makanan dan minuman sederhana.
“Kalau waktu kecil juga pernah minta Yakult. Tambah besar, tambah gede juga permintaannya,” tutur Sainem.
Dalam keseharian, Malayeka gemar bermain sepulang sekolah. Ia juga sesekali membantu ibunya memasak dan menyapu lantai.
Kini, keluarga memenuhi permintaan yang Malayeka ajukan sebelum prosesi pencukuran. Setelah melalui penantian panjang, rambut gimbal yang tumbuh sejak ia masih bayi akhirnya memasuki tahap pencukuran melalui tata cara adat.
Setiap Anak Membawa Permintaan
Dua anak asal Desa Mlandi, Kecamatan Kertek, Wonosobo, yakni Anindie Cheryl Shaheenna dan Andien Checilia Shaquilla, sama-sama meminta dua ekor kambing kecil. Masing-masing anak meminta kambing jantan dan betina.
Khanza Azkadina Sarvenaz Mahsana dari Gatak Sari, Kecamatan Wonosobo, meminta satu set peralatan makan berjumlah enam buah seperti milik ibunya.
Winda Aulia dari Dusun Buntu, Desa Bakal, Kecamatan Batur, Banjarnegara, meminta sepeda listrik warna pink. Permintaan serupa juga datang dari Malayeka.
Mafaza Nuha Raisa, warga Desa Pandansari, Kecamatan Wanayasa, Banjarnegara, mengajukan sepeda warna ungu untuk berjalan-jalan di Dieng.
Hafizah Zia Almahira atau Zia dari Desa Mekarsari, Kecamatan Garung, Wonosobo, meminta laptop dan sepasang ayam kalasan. Sementara Aurellia Aisha Ramadhani dari Desa Metawana, Kecamatan Pagentan, Banjarnegara, meminta perosotan dan ayunan warna pink.
Umi Fatimatuz Zahro dari Desa Deles, Kecamatan Bawang, Batang, meminta sepeda listrik warna pink serta dua ekor ayam hidup, masing-masing jantan dan betina.
Alvi Zahidatul Vardah dari Desa Gembol, Kecamatan Pejawaran, Banjarnegara, meminta selendang kecil dan besar dengan warna bebas kecuali hijau. Ia juga meminta HP Redmi Note 14 berkapasitas 8 GB.
Laira Anindya Maryam, warga Desa Krakal Taman Karangluhur, Kecamatan Kertek, Wonosobo, mengajukan pencukuran rambut di Dieng.
Herlista Zoya Elmeera dari Desa Sembungan, Kecamatan Sedayu, Wonosobo, meminta dua ekor ikan hias, dua kilogram daging bebek, dan sepeda warna pink.
Sementara itu, Lilla Chandra Kusuma dari Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Banjarnegara, meminta motor trail dan pencukuran rambut.
Beragam permintaan tersebut menjadi bagian penting dalam tradisi ruwatan. Setiap anak membawa keinginan sendiri, sedangkan keluarga menjalankan permintaan itu sebagai bagian dari proses sebelum pencukuran.
Ketika Tradisi Bertemu Generasi Baru
Ruwatan rambut gimbal adalah cara masyarakat Dieng menjaga sebuah tradisi di tengah perubahan zaman. Anak-anak menjadi pusat prosesi, sementara keluarga dan masyarakat menjalankan tata cara adat yang mereka yakini.
Setiap permintaan juga membawa cerita yang berbeda. Ada anak yang meminta hewan, ada yang menginginkan sepeda, sementara yang lain meminta barang yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Keragaman itu membuat ruwatan tidak sekadar menjadi prosesi budaya. Tradisi tersebut juga memperlihatkan hubungan antara kepercayaan keluarga dengan keinginan anak-anak yang hidup pada zaman sekarang.
DCF 2026 kemudian menjadi ruang pertemuan bagi dua hal tersebut. Masyarakat membawa tradisi yang mereka jaga, sementara generasi baru membawa cerita dan keinginan mereka sendiri.
Di Kompleks Candi Arjuna, 13 anak bajang menjadi bagian dari perjalanan tradisi yang terus berlanjut. Rambut gimbal yang tumbuh pada tubuh mereka membawa cerita masing-masing sebelum keluarga mengantarnya menuju prosesi pencukuran.
Pada akhirnya, kekuatan tradisi bukan hanya terletak pada ritualnya. Tradisi bertahan ketika masyarakat terus memberi makna, menjalankan tata cara, dan mewariskannya kepada generasi berikutnya. @Hermawan Putra/Wonosobo








