Rabu, September 16, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

13 Anak Bajang Jalani Ruwatan Rambut Gimbal di DCF 2026

by dimas
Agustus 29, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on Facebook
Share on Twitter
13 anak bajang mengikuti Ruwatan Rambut Gimbal dalam Dieng Culture Festival 2026 di Kompleks Candi Arjuna, Banjarnegara, dengan beragam permintaan.

Tabooo.id: Banjarnegara – Sebanyak 13 anak bajang atau anak berambut gimbal mengikuti prosesi Ruwatan Rambut Gimbal dalam rangkaian Dieng Culture Festival (DCF) 2026 di Kompleks Candi Arjuna, Dieng, Kabupaten Banjarnegara.

Tradisi tersebut menjadi salah satu warisan budaya khas Dieng yang terus dijaga masyarakat. Bagi warga setempat, rambut gimbal yang tumbuh secara alami pada anak-anak tertentu memiliki makna khusus sehingga keluarga tidak boleh memotongnya sembarangan.

Sebelum mencukur rambut, anak harus menyampaikan permintaan tertentu. Keluarga kemudian memenuhi permintaan tersebut sebagai bagian dari rangkaian tradisi sebelum prosesi pencukuran.

Rangkaian ruwatan tahun ini menjadi salah satu agenda yang paling dinantikan dalam DCF 2026. Kirab budaya turut mengiringi rangkaian kegiatan tersebut dengan mengusung tema “Spirit of Harmony”.

Ketua Pokdarwis Pandawa sekaligus Ketua Pelaksana DCF 2026, Alif Faozi, mengatakan 13 anak dari Banjarnegara, Wonosobo, dan daerah sekitarnya mengikuti prosesi tahun ini.

Ini Belum Selesai

Warung Mi dan Babi Sukoharjo Dibakar, 12 Saksi Diperiksa Polisi

TPNPB Klaim Tembak Sopir di Wamena-Nduga: Jalur Publik Jadi Zona Ancaman

“Permintaan mereka beragam, mulai dari kambing, sepeda listrik, ayam kalasan, makanan, hingga telepon seluler,” kata Alif di Media Center DCF, Jumat (28/8/2026).

Menurut Alif, keluarga harus memenuhi permintaan anak sebelum prosesi pencukuran berlangsung. Setelah itu, anak menjalani pencukuran sebagai simbol pelepasan rambut gimbal.

“Sesuaikan kepercayaan masyarakat kami, rambut gimbal tumbuh karena sebuah titipan leluhur Dieng, Kaladete, maka harus dikembalikan melalui tata cara adat,” ujar Alif.

Prosesi itu tidak sekadar mencukur rambut, tetapi juga menjadi bagian dari tata cara adat yang terus masyarakat jalankan.

Malayeka dan Rambut Gimbal Sejak Usia Tiga Bulan

Salah satu anak yang mengikuti prosesi tahun ini adalah Malayeka Rafana Arabella. Bocah berusia delapan tahun itu berasal dari Desa Bandingan, Kecamatan Sigaluh, Banjarnegara.

Malayeka meminta sepeda listrik berwarna pink. Ia menginginkan sepeda dengan keranjang pada bagian depan.

Sainem, ibu Malayeka, mengatakan rambut gimbal putrinya mulai tumbuh ketika Malayeka berusia sekitar tiga bulan. Sejak saat itu, keluarga tidak pernah mencukur rambut tersebut.

Kini Malayeka duduk di kelas 2 sekolah dasar. Setelah menunggu bertahun-tahun, ia akhirnya mengikuti prosesi ruwatan bersama 12 anak bajang lainnya.

“Sepeda listrik warna pink, yang depannya ada keranjangnya,” kata Sainem.

Permintaan Malayeka berubah seiring pertambahan usianya. Ketika masih kecil, ia pernah meminta makanan dan minuman sederhana.

“Kalau waktu kecil juga pernah minta Yakult. Tambah besar, tambah gede juga permintaannya,” tutur Sainem.

Dalam keseharian, Malayeka gemar bermain sepulang sekolah. Ia juga sesekali membantu ibunya memasak dan menyapu lantai.

Kini, keluarga memenuhi permintaan yang Malayeka ajukan sebelum prosesi pencukuran. Setelah melalui penantian panjang, rambut gimbal yang tumbuh sejak ia masih bayi akhirnya memasuki tahap pencukuran melalui tata cara adat.

Setiap Anak Membawa Permintaan

Dua anak asal Desa Mlandi, Kecamatan Kertek, Wonosobo, yakni Anindie Cheryl Shaheenna dan Andien Checilia Shaquilla, sama-sama meminta dua ekor kambing kecil. Masing-masing anak meminta kambing jantan dan betina.

Khanza Azkadina Sarvenaz Mahsana dari Gatak Sari, Kecamatan Wonosobo, meminta satu set peralatan makan berjumlah enam buah seperti milik ibunya.

Winda Aulia dari Dusun Buntu, Desa Bakal, Kecamatan Batur, Banjarnegara, meminta sepeda listrik warna pink. Permintaan serupa juga datang dari Malayeka.

Mafaza Nuha Raisa, warga Desa Pandansari, Kecamatan Wanayasa, Banjarnegara, mengajukan sepeda warna ungu untuk berjalan-jalan di Dieng.

Hafizah Zia Almahira atau Zia dari Desa Mekarsari, Kecamatan Garung, Wonosobo, meminta laptop dan sepasang ayam kalasan. Sementara Aurellia Aisha Ramadhani dari Desa Metawana, Kecamatan Pagentan, Banjarnegara, meminta perosotan dan ayunan warna pink.

Umi Fatimatuz Zahro dari Desa Deles, Kecamatan Bawang, Batang, meminta sepeda listrik warna pink serta dua ekor ayam hidup, masing-masing jantan dan betina.

Alvi Zahidatul Vardah dari Desa Gembol, Kecamatan Pejawaran, Banjarnegara, meminta selendang kecil dan besar dengan warna bebas kecuali hijau. Ia juga meminta HP Redmi Note 14 berkapasitas 8 GB.

Laira Anindya Maryam, warga Desa Krakal Taman Karangluhur, Kecamatan Kertek, Wonosobo, mengajukan pencukuran rambut di Dieng.

Herlista Zoya Elmeera dari Desa Sembungan, Kecamatan Sedayu, Wonosobo, meminta dua ekor ikan hias, dua kilogram daging bebek, dan sepeda warna pink.

Sementara itu, Lilla Chandra Kusuma dari Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Banjarnegara, meminta motor trail dan pencukuran rambut.

Beragam permintaan tersebut menjadi bagian penting dalam tradisi ruwatan. Setiap anak membawa keinginan sendiri, sedangkan keluarga menjalankan permintaan itu sebagai bagian dari proses sebelum pencukuran.

Ketika Tradisi Bertemu Generasi Baru

Ruwatan rambut gimbal adalah cara masyarakat Dieng menjaga sebuah tradisi di tengah perubahan zaman. Anak-anak menjadi pusat prosesi, sementara keluarga dan masyarakat menjalankan tata cara adat yang mereka yakini.

Setiap permintaan juga membawa cerita yang berbeda. Ada anak yang meminta hewan, ada yang menginginkan sepeda, sementara yang lain meminta barang yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Keragaman itu membuat ruwatan tidak sekadar menjadi prosesi budaya. Tradisi tersebut juga memperlihatkan hubungan antara kepercayaan keluarga dengan keinginan anak-anak yang hidup pada zaman sekarang.

DCF 2026 kemudian menjadi ruang pertemuan bagi dua hal tersebut. Masyarakat membawa tradisi yang mereka jaga, sementara generasi baru membawa cerita dan keinginan mereka sendiri.

Di Kompleks Candi Arjuna, 13 anak bajang menjadi bagian dari perjalanan tradisi yang terus berlanjut. Rambut gimbal yang tumbuh pada tubuh mereka membawa cerita masing-masing sebelum keluarga mengantarnya menuju prosesi pencukuran.

Pada akhirnya, kekuatan tradisi bukan hanya terletak pada ritualnya. Tradisi bertahan ketika masyarakat terus memberi makna, menjalankan tata cara, dan mewariskannya kepada generasi berikutnya. @Hermawan Putra/Wonosobo

Tags: Budaya DiengDieng Culture FestivalRuwatan Rambut GimbalTradisi Jawawarisan budaya

Kamu Melewatkan Ini

Wanita Menempa Keris: Ia Diwariskan. Lalu Siapa Pewaris Berikutnya?

Wanita Menempa Keris: Ia Diwariskan. Lalu Siapa Pewaris Berikutnya?

by teguh
September 3, 2026

Sisil meninggalkan dunia penerbangan untuk menempa keris. Pilihan itu membawa pertanyaan lebih besar siapa yang akan menjaga pengetahuan leluhur ketika...

Ruwatan Anak Gimbal Dieng: Ketika Rambut Menjadi Simbol Harapan

Ruwatan Anak Gimbal Dieng: Ketika Rambut Menjadi Simbol Harapan

by dimas
Agustus 30, 2026

Ruwatan anak gimbal Dieng bukan sekadar potong rambut. Tradisi ini menyimpan doa, kepercayaan, dan harapan keluarga untuk kehidupan anak. Tabooo.id...

Ratusan Lampion Hiasi Langit Dieng di DCF 2026

Ratusan Lampion Hiasi Langit Dieng di DCF 2026

by dimas
Agustus 30, 2026

Ratusan lampion menghiasi langit Dieng dalam DCF 2026. Momen ini memadukan budaya, hiburan, kebersamaan, dan harapan para partisipan. Tabooo.id -...

Next Post
Mengapa RUU Perampasan Aset Mendesak Disahkan?

Mengapa RUU Perampasan Aset Mendesak Disahkan?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id