Tabooo.id: Deep – Kamu mungkin melihat tato sebagai gaya. Kamu melihatnya sebagai bagian dari ekspresi diri, bagian dari identitas visual yang terlihat keren, personal, atau bahkan artistik.
Tapi di masa lalu, orang tidak melihat tato seperti itu. Mereka melihat tato sebagai tanda yang berbahaya. Mereka mengaitkannya dengan kriminalitas, pemberontakan, bahkan ancaman sosial. Karena itu, seseorang bisa diburu hanya karena tanda di tubuhnya.
Lalu, muncul pertanyaan yang tidak sederhana, kenapa sesuatu yang dulu dianggap sakral, penuh makna, bahkan spiritual… bisa berubah menjadi sesuatu yang ditakuti?
TATO: ARSIP HIDUP DI ATAS KULIT
Masyarakat tradisional di Indonesia tidak pernah memperlakukan tato sebagai hiasan kosong. Mereka menciptakan tato sebagai sistem identitas yang hidup, dan menanamkan makna dalam setiap garis yang mereka buat.
Mereka menggunakan tato untuk menandai status sosial, menunjukkan perjalanan hidup, dan mengkomunikasikan posisi seseorang dalam struktur komunitas. Karena itu, setiap motif bukan sekadar desain, tetapi representasi pengalaman dan posisi sosial.
Kajian antropologi menegaskan bahwa tato menjadi bagian dari sistem budaya yang kompleks, karena tato menghubungkan individu dengan komunitasnya, dengan nilai-nilai sosial, dan dengan struktur yang lebih besar.
Dalam konteks ini, tubuh tidak lagi berfungsi sebagai sekadar fisik. Tubuh berubah menjadi media penyimpanan makna. Tubuh menjadi arsip hidup yang menyimpan sejarah personal dan kolektif sekaligus.
TATO DAN DUNIA YANG TAK TERLIHAT
Masyarakat Mentawai tidak hanya melihat tato sebagai bagian dari kehidupan, tetapi juga sebagai bagian dari kematian. Mereka percaya bahwa tato akan ikut bersama jiwa setelah tubuh berhenti hidup.
Mereka menyebut tato sebagai “pakaian abadi”, karena tato akan tetap melekat ketika manusia memasuki dunia lain. Karena itu, seseorang yang tidak memiliki tato dianggap kehilangan identitas di hadapan leluhur.
Sementara itu, masyarakat Dayak memaknai tato sebagai sumber cahaya. Mereka percaya tato akan menerangi perjalanan roh menuju alam baka, sehingga seseorang tidak tersesat dalam kegelapan setelah kematian.
Makna ini tidak bersifat simbolik semata. Makna ini membentuk cara hidup. Karena itu, tato tidak pernah menjadi gambar biasa. Tato menjadi identitas lintas kehidupan—menghubungkan manusia dengan dunia yang tidak terlihat.
SAAT NEGARA MULAI MENENTUKAN TUBUH
Masalah mulai muncul ketika kekuasaan mengambil alih makna tubuh.
Pada masa kolonial, pihak luar mulai mendefinisikan tato sebagai simbol primitif. Mereka mengganti makna spiritual dengan stigma sosial. Mereka menghapus konteks budaya, lalu menggantinya dengan label “tidak beradab”.
Kemudian, pada era Orde Baru, stigma itu berubah menjadi lebih ekstrem. Negara mulai menggunakan tato sebagai indikator kriminalitas. Negara tidak lagi melihat tato sebagai budaya, tetapi sebagai tanda bahaya.
Dalam operasi Petrus pada 1980-an, aparat menjadikan tato sebagai penanda target. Mereka menangkap, menghilangkan, bahkan mengeksekusi orang-orang bertato tanpa proses hukum yang jelas.
Ini bukan sekadar stigma sosial. Ini adalah tindakan sistematis yang mengubah identitas menjadi ancaman. Ini adalah kriminalisasi tubuh manusia.
BUKAN SOAL TATO
Masalah sebenarnya tidak pernah berhenti pada tato. Masalahnya terletak pada siapa yang mengontrol makna tubuh manusia.
Ketika sistem mulai menentukan mana tubuh yang “normal” dan mana yang “berbahaya”, sistem itu mulai mengontrol identitas manusia itu sendiri. Di titik ini, tubuh tidak lagi menjadi milik individu. Tubuh berubah menjadi objek pengawasan. Tubuh menjadi sesuatu yang bisa dinilai, dikategorikan, bahkan dihapus.
Dan justru di titik itulah tato berubah fungsi. Tato tidak lagi sekadar identitas, melainkan menjadi simbol perlawanan terhadap sistem yang mencoba mengontrol tubuh manusia.
TATO ADALAH BAHASA
Penelitian semiotik menunjukkan bahwa tato bekerja seperti bahasa. Setiap motif membawa pesan dan pola memiliki arti. Setiap garis menyampaikan informasi yang tidak diucapkan dengan kata-kata.
Motif bunga terung dalam budaya Dayak melambangkan perjalanan hidup dan kedewasaan. Sementara pola garis dalam tato Mentawai menggambarkan keseimbangan antara manusia dan alam.
Kajian ini menempatkan tato sebagai sistem komunikasi visual yang setara dengan bahasa. Artinya, sebelum manusia menulis di kertas, mereka sudah menulis di tubuh. Mereka menggunakan kulit sebagai media untuk menyimpan pesan, identitas, dan makna hidup.
RASA SAKIT YANG PUNYA MAKNA
Masyarakat tradisional tidak membuat tato dengan cara instan. Mereka menggunakan teknik hand-tapping yang membutuhkan waktu, kesabaran, dan ketahanan fisik.
Proses ini melibatkan jarum sederhana dan ketukan manual yang berulang. Prosesnya lambat. Prosesnya menyakitkan. Namun mereka tidak menghindari rasa sakit itu. Mereka justru menganggap rasa sakit sebagai bagian dari makna.
Kajian etnografi menunjukkan bahwa rasa sakit dalam proses tato menjadi bagian dari transformasi identitas. Rasa sakit itu menandai perubahan status, kedewasaan, dan perjalanan hidup seseorang. Oleh sebab itu, tato bukan hanya hasil akhir. Tato adalah proses, dan itu selalu punya harga.
DARI STIGMA KE GLOBAL TREND
Setelah reformasi 1998, masyarakat mulai mengubah cara pandang terhadap tato. Komunitas seperti Indonesian Subculture mulai mengedukasi publik. Mereka menghapus stigma kriminal dan mengembalikan tato sebagai bentuk seni dan identitas.
Di saat yang sama, dunia internasional mulai mengakui nilai tato tradisional Indonesia. Antropolog seperti Lars Krutak bahkan menyebutnya sebagai salah satu tradisi tato paling kaya secara simbolik di dunia.
Ironinya terasa jelas.
Masyarakat lokal sempat menolak tato karena stigma. Namun dunia global justru menghargainya sebagai warisan budaya.
DAMPAKNYA BUAT KAMU
Hari ini kamu memiliki kebebasan untuk memilih. Kamu bisa bertato atau tidak. Namun kebebasan itu tidak muncul begitu saja. Kebebasan itu lahir dari sejarah panjang yang penuh stigma, tekanan, dan bahkan kekerasan.
Kamu hidup di dunia yang pernah menghakimi manusia hanya dari tubuhnya. Kamu hidup di dunia yang pernah menjadikan identitas sebagai alasan untuk menghilangkan seseorang. Dan sekarang muncul pertanyaan yang lebih dalam, kalau dulu tato bisa menjadi alasan seseorang dibunuh… apa jaminan hari ini tidak ada identitas lain yang diperlakukan dengan cara yang sama?
TATO TIDAK PERNAH BERUBAH
Tato tidak pernah berubah. Yang berubah adalah cara manusia memaknainya.
Manusia pernah melihat tato sebagai sesuatu yang sakral. Lalu manusia mengubahnya menjadi simbol kriminal. Setelah itu, mengubahnya lagi menjadi tren dan gaya hidup.
Perubahan ini tidak terjadi secara alami, tetapi selalu melibatkan kekuasaan, narasi, dan kepentingan tertentu. Karena itu, setiap kali makna berubah, kita perlu bertanya, siapa yang mengubahnya, dan untuk tujuan apa?
Tato bukan sekadar gambar di kulit. Ia adalah jejak sejarah yang pernah dibungkam, dan identitas yang pernah dihapus. Tato adalah suara yang akhirnya kembali muncul ke permukaan.
Sekarang, kamu melihat tato sebagai tren. Kamu melihatnya sebagai gaya. Tapi pertanyaannya belum selesai, apakah kamu benar-benar memahami maknanya… atau kamu hanya mengikuti arus tanpa pernah tahu cerita di baliknya? @tabooo
FOOTNOTE & RUJUKAN AKADEMIS
- Studi literatur makna sosial tato Mentawai & masyarakat modern http://digilib.unila.ac.id/90884/3/SKRIPSI%20TANPA%20BAB%20PEMBAHASAN.pdf
- Lars Krutak – TITI: Spirit Tattoos of the Mentawai Shaman
https://www.larskrutak.com/wp-content/uploads/2018/05/Krutak_Mentawai_Plagiarized_Material_Highlights-1.pdf - Studi & laporan tentang Operasi Petrus (Tempo / jurnal HAM)
https://www.tempo.co/hukum/penembakan-misterius-1980an-ribuan-korban-jiwa-petrus-beraksi-pertama-di-yogya-449903 - BRIN – Transformasi Seni Gores Tato: Kajian Semiotik
https://ejournal.brin.go.id/amerta/article/download/46/10/4055 - Kajian teknik hand-tapping tato tradisional
http://sukusukutatau.com/tradional-and-modern-tattoo/traditional-tattoo/hand-tapping/ - Journal Untar – Indonesian Subculture
https://journal.untar.ac.id/index.php/koneksi/article/download/10495/9624 - Lars Krutak – World Atlas of Tattoo / Indonesian Tattoo Studies
https://larskrutak.com/in-the-realm-of-spirits-traditional-dayak-tattoo-in-borneo/



