Tabooo.id: Vibes – “Hanya Ada Satu Kata: Lawan!” Kalimat ini lahir puluhan tahun lalu. Tapi anehnya, terasa seperti ditulis kemarin.
Masalahnya bukan pada kalimatnya, tapi pada realita yang belum berubah.
Puisi yang Tidak Pernah Benar-Benar Selesai
Berikut puisi karya Widji Thukul yang melahirkan kalimat itu:
PERINGATAN
Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa
Kalau rakyat sembuyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar
Bila rakyat tidak berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata:
Lawan!
Dari Puisi ke Budaya Pop
Dulu, puisi ini hidup di ruang yang terbatas. Orang membacanya di panggung kecil, di diskusi, atau di jalanan yang penuh risiko.
Namun sekarang, kalimatnya berpindah ruang. Kamu melihatnya di TikTok, Instagram, bahkan di kaos yang dijual bebas.
Perpindahan ini bukan sekadar soal media. Ini soal bagaimana makna berpindah dari “perlawanan fisik” ke “simbol budaya”.
Namun di sisi lain, perubahan ini juga membawa risiko baru. Makna yang dulu tajam bisa menjadi tumpul ketika terlalu sering dipakai tanpa konteks.
Ironisnya, semakin viral sebuah kalimat… semakin besar kemungkinan orang lupa kenapa kalimat itu lahir.
Generasi Sekarang: Lawan Versi Baru
Generasi sekarang tidak hidup di zaman yang sama. Namun, mereka tetap menghadapi tekanan dengan bentuk yang berbeda.
Dulu, tekanan datang dari kekuasaan yang terlihat jelas. Sementara itu, sekarang tekanan muncul dari sistem yang lebih halus.
Algoritma menentukan apa yang kamu lihat. Selain itu, opini publik ikut menentukan apa yang “boleh” kamu katakan.
Akibatnya, makna “lawan” ikut berubah. Jadi, “lawan” tidak selalu berarti turun ke jalan.
Kadang, “lawan” justru berarti berani tidak ikut arus.
Namun, masalahnya muncul di titik ini. Banyak orang merasa sudah melawan hanya karena mereka berkomentar. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu.
Sebab, melawan bukan soal volume suara. Melawan adalah soal keberanian untuk tetap berdiri sendiri.
Konflik yang Tidak Pernah Hilang
Puisi ini tidak bicara tentang satu era. Sebaliknya, puisi ini membongkar pola yang terus berulang.
Ketika kekuasaan mulai membatasi suara, ketegangan langsung naik. Lalu, ketika mereka menganggap kritik sebagai ancaman, konflik pasti muncul.
Namun, bentuk konflik tidak pernah diam. Ia berubah, bergerak, dan menyamar.
Sekarang, sistem tidak lagi mengandalkan kekerasan terbuka. Sebaliknya, sistem membentuk framing, lalu mengarahkan cara publik berpikir.
Akibatnya, banyak orang kehilangan kesadaran. Mereka tidak merasa dibungkam, justru merasa bebas.
Ironisnya, di titik ini situasi menjadi lebih berbahaya. Karena sesuatu yang tidak terlihat jauh lebih sulit kamu lawan.
Bukan Sekadar Puisi Lama
Puisi “Peringatan” bukan sekadar puisi lama. Tapi pola bagaimana kekuasaan selalu berusaha mengontrol narasi, dan bagaimana publik terus mencari cara untuk melawan.
Kamu hidup di zaman yang terlihat bebas. Namun, kamu sering menahan diri sebelum bicara.
Kamu berpikir dua kali sebelum posting sesuatu. Kamu mempertimbangkan reaksi orang lain sebelum jujur.
Tanpa sadar, kamu mulai menyensor diri sendiri. Dan itu jauh lebih berbahaya daripada sensor dari luar.
Karena ketika kamu membungkam diri sendiri… kamu bahkan tidak sadar bahwa kamu sedang kehilangan suara.
Melawan Apa?
Kita sering mengutip kata “lawan” sebagai simbol keberanian. Namun kita jarang bertanya: apa yang sebenarnya kita lawan?
Apakah kita melawan sistem? Atau kita hanya melawan opini yang berbeda dari kita?
Masalahnya, banyak perlawanan hari ini kehilangan arah. Ia menjadi reaktif, bukan reflektif.
Akibatnya, “lawan” berubah menjadi tren. Bukan lagi kesadaran.
Dan di situlah ironi terbesar muncul. Kita berbicara tentang perlawanan… tanpa benar-benar memahami apa yang sedang kita hadapi. @tabooo







