Tabooo.id: Deep – Di bawah matahari yang keras, suara klakson saling bersahutan. Di titik itu, pertunjukan dimulai tanpa panggung, tanpa jeda. Seekor monyet kecil mengenakan pakaian merah, lalu mengayuh sepeda mini dengan gerakan yang tampak rapi. Di sampingnya, seorang anak berdiri sambil menggenggam tali tipis yang mengarahkan setiap gerak.
Beberapa orang tersenyum. Sementara itu, yang lain langsung merogoh saku. Sekilas, semuanya terlihat ringan. Namun, di saat yang sama, tidak banyak yang benar-benar berhenti untuk memahami apa yang sedang terjadi.
Yang Kita Lihat vs Yang Sebenarnya Terjadi
Pada awalnya, atraksi ini tampak seperti hiburan sederhana. Akan tetapi, apa yang terlihat di permukaan sering kali menyembunyikan proses yang jauh lebih keras. Monyet itu tidak belajar sendiri. Sebaliknya, seseorang melatihnya dan lebih jauh lagi, pelatihan itu jarang berlangsung dengan cara yang manusiawi. Mereka merantai tubuhnya, memaksanya berdiri, lalu mengondisikannya untuk patuh.
Dalam beberapa kasus, pelaku bahkan memotong gigi monyet agar tidak melawan. Akibatnya, gerakan yang terlihat lucu justru lahir dari rasa takut yang terus diulang.
Anak yang Tidak Pernah Punya Pilihan
Di sisi lain, anak yang berdiri di samping monyet itu juga tidak benar-benar memilih perannya. Ia tidak sekadar “mengatur pertunjukan”.
Lebih dari itu, ia sedang bertahan dalam sistem yang sempit. Ia tumbuh tanpa akses pendidikan yang memadai. Ia juga tidak memiliki ruang untuk keluar dari pola yang sama.
Seorang psikolog anak menjelaskan:
“Anak dalam situasi seperti ini tidak sedang membantu ekonomi keluarga. Ia sedang kehilangan peluang hidupnya sedikit demi sedikit.”
Dengan kata lain, yang terlihat sebagai aktivitas kerja, sebenarnya adalah bentuk kerentanan yang berlangsung terus-menerus.
Kita Tidak Pernah Benar-Benar Netral
Di titik ini, masalahnya tidak hanya berhenti pada pelaku. Sebaliknya, kita ikut terlibat meski sering tanpa sadar.
Kita memberi uang karena merasa iba dan tentu saja, itu manusiawi.
Namun demikian, empati yang tidak disertai kesadaran justru bisa memperpanjang praktik ini.
Seorang pengguna jalan mengatakan: “Awalnya saya ngasih karena kasihan. Tapi setelah tahu prosesnya, saya sadar ini bukan solusi.”
Dengan demikian, empati mulai berhadapan langsung dengan dampak.
Hukum Sudah Ada, Tapi Tidak Cukup Kuat di Lapangan
Secara hukum, praktik topeng monyet sudah jelas dilarang.
Beberapa aturan yang mengikat antara lain:
- KUHP Pasal 302 → melarang penyiksaan terhadap hewan
- UU No. 18 Tahun 2009 Pasal 66 Ayat 2 → mewajibkan perlakuan layak terhadap hewan
- Perda Ketertiban Umum (Jakarta, Jawa Timur, dll.) → melarang eksploitasi satwa di ruang publik
Artinya, negara sudah menetapkan batas yang tegas. Namun, di lapangan, realitas berbicara berbeda.
Selama kebutuhan ekonomi tetap mendesak, banyak orang tetap mengambil risiko tersebut.
Masalah yang Lebih Dalam dari Sekadar Pelanggaran
Karena itu, sejumlah pemerhati sosial melihat fenomena ini sebagai masalah struktural.
“Larangan tidak akan efektif kalau tidak diikuti solusi ekonomi. Orang akan tetap mencari cara untuk bertahan.”
Dengan kata lain, topeng monyet bukan sekadar pelanggaran hukum, ia adalah gejala dari sistem yang belum selesai.
Perdebatan yang Tidak Pernah Berakhir
Sementara itu, di ruang publik, perdebatan terus berulang.
Sebagian orang memilih memberi karena empati, sebagian lain menolak karena sadar dampaknya.
“Aku kasihan, makanya ngasih.”
“Kalau terus dikasih, mereka gak akan berhenti.”
Kedua argumen ini berdiri di logika masing-masing. Namun justru karena itu, tidak ada titik temu yang benar-benar menyelesaikan masalah.
Ini Lebih Besar dari Sekadar Jalanan
Pada akhirnya, topeng monyet bukan sekadar fenomena kecil di lampu merah.
Sebaliknya, ia mencerminkan masalah yang lebih luas:
kemiskinan, minimnya perlindungan sosial, dan rendahnya kesadaran tentang kesejahteraan makhluk hidup.
Apa yang kita lihat hanyalah permukaan.
Sementara itu, sistem di bawahnya terus berulang tanpa perubahan berarti.
Penutup: Kita Melihat, Tapi Tidak Benar-Benar Bertindak
Lalu, kita dihadapkan pada pilihan yang tidak pernah sederhana.
Memberi terasa benar, tidak memberi terasa kejam. Namun mungkin, pertanyaan yang lebih penting bukan itu.
Melainkan:
kenapa praktik ini masih ada, meski sudah dilarang?
Selama pertanyaan itu belum terjawab,
kita akan terus berada di posisi yang sama.
Kita melihat.
Kita merasa.
Lalu kita pergi.
Dan di saat yang sama, pertunjukan itu terus berulang
seolah tidak pernah benar-benar berhenti. @eko



