Minggu, September 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Gugur di Papua, Jenazah Praka Satria Taopan Dipulangkan ke Kupang

by dimas
Januari 10, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Regional – Jenazah Praka Satria Taopan, prajurit Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat yang gugur saat bertugas di Papua, tiba di rumah duka di Kelurahan Oepura, Kota Kupang, Sabtu (10/1/2026) dini hari. Keluarga, kerabat, serta rekan-rekan almarhum menyambut peti jenazah yang terbungkus Bendera Merah Putih dengan isak tangis setelah menunggu sejak malam.

Suasana hening di lorong sempit menuju rumah duka perlahan berubah menjadi duka terbuka. Saat keluarga menurunkan peti, tangisan pecah dan menandai kepulangan terakhir Praka Satria. Kepulangan ini tidak membawa kabar kemenangan, melainkan menghadirkan gambaran mahalnya harga pengamanan negara di wilayah konflik.

Gugur di Tengah Operasi Pengamanan Papua

Sebagai prajurit Yonif 121 Macan Kumbang, Praka Satria Taopan, 29 tahun, menjalankan tugas pengamanan di Papua Pegunungan. Kontak tembak dengan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Kampung Yomugaru merenggut nyawanya saat operasi masih berlangsung di wilayah rawan konflik bersenjata.

Peristiwa tersebut kembali menambah daftar prajurit TNI yang gugur dalam operasi keamanan Papua. Di balik laporan resmi dan pernyataan institusional, insiden ini meninggalkan dampak langsung bagi keluarga prajurit serta masyarakat sipil yang hidup berdampingan dengan konflik.

Pesan Terakhir dan Rencana yang Terhenti

Kepergian Praka Satria menyisakan duka mendalam di tengah keluarga. Sosoknya dikenal disiplin dan memiliki dedikasi tinggi terhadap tugas, sebagaimana dikenang ayah almarhum, Dominggus Taopan. Ia menyebut komunikasi terakhir dengan putranya terjadi sehari sebelum insiden kontak tembak.

Ini Belum Selesai

Pahlawan Street Centre, Jalan yang Pernah Jadi Nadi Madiun

12 Penyelam Turun ke Laut Jawa, 126 Korban KM Virgo Masih Dicari

Kenangan paling membekas justru datang dari sebulan sebelumnya. Pada perayaan Natal, 25 Desember 2025, Praka Satria meminta orang tuanya bertemu dengan keluarga tunangannya. Ia merencanakan pernikahan pada Juni 2026, sebuah rencana yang kini terhenti tanpa sempat terwujud.

Bagi keluarga prajurit, pengabdian kerap berarti menunda kehidupan pribadi. Dalam kisah Praka Satria, pengabdian itu bahkan menutup seluruh masa depan yang telah ia susun.

Doa Pagi yang Tak Terjawab

Kebiasaan doa pagi telah menjadi bagian dari kehidupan Praka Satria sejak kecil. Sang ibu rutin mengirim pesan setiap hari sebelum ia berangkat bertugas. Namun, pada hari kejadian, pesan tersebut tak pernah mendapat balasan.

Sekitar pukul 08.00 Wita, kabar duka akhirnya sampai ke keluarga di Kupang. Sejak saat itu, harapan berubah menjadi kepastian pahit. Jarak ribuan kilometer antara Papua dan Nusa Tenggara Timur terasa semakin panjang ketika kabar tersebut tiba.

Evakuasi Sulit di Medan Konflik

Evakuasi jenazah Praka Satria berlangsung dalam situasi yang penuh tantangan. Cuaca ekstrem dan kondisi keamanan yang belum kondusif memaksa rekan-rekannya membawa jenazah dengan berjalan kaki sejauh sekitar lima kilometer menuju pos terdekat.

Setelah mencapai pos, petugas menerbangkan jenazah ke Timika sebelum membawanya ke Kupang. Rangkaian proses ini kembali memperlihatkan beratnya operasi militer di Papua, di mana medan alam dan konflik bersenjata kerap memperlambat penanganan darurat.

Dari Sembilan Kali Gagal hingga Gugur di Medan Tugas

Di mata keluarga, Praka Satria dikenal sebagai pribadi ramah dengan semangat juang tinggi. Proses menjadi prajurit TNI tidak ia capai dengan mudah. Ia baru lolos seleksi pada 2018 setelah sembilan kali mencoba.

Perjalanan panjang tersebut mencerminkan ketekunan dan tekad yang kuat. Namun, jalan pengabdian yang ia pilih juga membawa risiko tertinggi. AcehGround mencatat pengabdian Praka Satria sebagai gambaran nyata dedikasi prajurit TNI dalam menjaga keutuhan bangsa, terutama di wilayah konflik berkepanjangan seperti Papua.

“Sebagai tentara, dia bilang tugasnya menjaga keutuhan negara,” ujar Dominggus, mengutip perkataan putranya.

Harga Keamanan yang Terus Dibayar

Gugurnya Praka Satria kembali membuka pertanyaan lama tentang konflik Papua yang belum menemukan ujung. Negara terus mengirim aparat untuk menjaga stabilitas, sementara keluarga prajurit dan masyarakat sipil membayar harga sosial dan kemanusiaan dari konflik yang berlarut-larut.

Di rumah duka Oepura, Bendera Merah Putih yang membungkus peti Praka Satria berdiri sebagai simbol kehormatan. Namun, bagi keluarga yang ditinggalkan, simbol itu juga menjadi pengingat pahit bahwa keamanan negara sering ditegakkan dengan kehilangan yang paling personal kehilangan anak, tunangan, dan masa depan yang tak sempat dimulai. @dimas

Tags: GugurKeamanan NegaraKKBKonflik DuniaOperasipapua

Kamu Melewatkan Ini

Menanti Keamanan di Papua, Warga Sipil Terus Dibayangi Kekerasan

Menanti Keamanan di Papua, Warga Sipil Terus Dibayangi Kekerasan

by dimas
September 20, 2026

Menanti keamanan di Papua setelah penembakan Aris Sanda. TNI memburu pelaku, sementara DPR menyoroti perlindungan warga sipil. Tabooo.id - Jalan...

Abdon Kisamdu Ditangkap di Yahukimo: Yang Terputus Orangnya, Bukan Jaringannya

Abdon Kisamdu Ditangkap di Yahukimo: Yang Terputus Orangnya, Bukan Jaringannya

by teguh
September 20, 2026

Bandara Nop Goliat Dekai, Yahukimo, menjadi titik penangkapan Abdon Kisamdu pada Sabtu, 19/09/2026. Panglima Kogabwilhan III Letjen TNI Lucky Avianto...

Abdon Kisamdu Ditangkap di Yahukimo, Dugaan Transaksi Senjata Jadi Sorotan

Abdon Kisamdu Ditangkap di Yahukimo, Dugaan Transaksi Senjata Jadi Sorotan

by teguh
September 20, 2026

Aparat gabungan menangkap Abdon Kisamdu di Bandara Nop Goliat Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, Sabtu (19/9/2026). Aparat mengidentifikasi Abdon sebagai...

Next Post
Romantis di Udara, Toxic di Darat: Penerbangan Terakhir bukan drama biasa

Romantis di Udara, Toxic di Darat: Penerbangan Terakhir bukan drama biasa

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id