Benarkah orangutan Kalimantan punah total akibat karhutla? Simak data pemerintah, penyelamatan sembilan orangutan, dan fakta konservasinya.
Tabooo.id: Sebuah poster digital viral di media sosial mengklaim orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) telah punah total akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Poster itu bahkan mencantumkan logo KLHK untuk memperkuat klaimnya.
Namun, benarkah pemerintah menyatakan seluruh orangutan Kalimantan telah habis akibat kebakaran?
Penelusuran Tabooo.id tidak menemukan pernyataan resmi pemerintah yang menyebut orangutan Kalimantan mengalami kepunahan total. Sebaliknya, data pemerintah memperlihatkan upaya penyelamatan dan konservasi orangutan masih berlangsung di sejumlah wilayah.
Pemerintah Catat 96 Orangutan dalam Penanganan
Kementerian Kehutanan mencatat 290 individu satwa liar dalam penanganan hingga 8 Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, petugas menangani 272 individu di empat provinsi Kalimantan.
Sebanyak 96 individu merupakan orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Rinciannya mencakup 25 orangutan di Kalimantan Tengah.
Angka tersebut menunjukkan jumlah orangutan dalam penanganan, bukan keseluruhan populasi orangutan di alam liar. Karena itu, publik tidak bisa menggunakan data tersebut sebagai bukti kepunahan maupun jumlah total populasi.
Petugas melakukan berbagai upaya penyelamatan, mulai dari evakuasi, penggiringan ke habitat yang lebih aman, translokasi, perawatan, hingga rehabilitasi.
Sembilan Orangutan Kembali ke Habitat
Fakta lain juga membantah klaim kepunahan total.
Pada 29 Oktober 2026, BKSDA Kalimantan Barat melepasliarkan sembilan orangutan di Hutan Lindung Batu Nyambu, Kabupaten Ketapang. Sebelumnya, petugas menyelamatkan sembilan satwa tersebut dari kawasan terdampak karhutla di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara.
Yayasan International Animal Rescue Indonesia (YIARI) merawat mereka sebelum pelepasliaran. Saat petugas mengevakuasi sembilan orangutan itu, mereka mengalami dehidrasi dan kekurangan gizi akibat kehilangan habitat serta sumber makanan.
Dua orangutan bahkan mengalami luka bakar pada bagian kaki akibat dugaan paparan bara api di lahan gambut.
Pelepasliaran ini menunjukkan bahwa upaya penyelamatan masih berjalan. Orangutan yang pulih juga memiliki kesempatan kembali ke habitat alaminya.
Ancaman Kebakaran terhadap Habitat Orangutan
Pemerintah tidak hanya menyelamatkan satwa, tetapi juga berupaya melindungi habitatnya.
Kementerian Kehutanan membangun sekat bakar sepanjang sekitar 3,2 kilometer di Desa Paring Lahung, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah. Infrastruktur tersebut membantu menghambat penyebaran api dan melindungi kawasan habitat orangutan.
Di Kalimantan Timur, Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) juga mendokumentasikan keberadaan orangutan serta satwa endemik lain di Hutan Kehje Sewen.
Dokumentasi tersebut memperlihatkan bahwa kawasan hutan masih memiliki peran penting bagi kelangsungan hidup orangutan dan keanekaragaman hayati Kalimantan.
Klaim Kepunahan Total Tidak Sesuai Fakta
Rangkaian informasi tersebut menunjukkan bahwa klaim orangutan Kalimantan telah punah total akibat karhutla tidak memiliki dasar yang kuat.
Data pemerintah justru mencatat puluhan orangutan dalam penanganan konservasi. Bahkan, sembilan individu berhasil kembali ke habitatnya setelah menjalani perawatan dan rehabilitasi.
Meski demikian, kondisi ini bukan berarti orangutan terbebas dari ancaman. Kebakaran hutan, kerusakan habitat, dan hilangnya sumber makanan tetap mengancam kelangsungan hidup satwa endemik Kalimantan.
Persoalannya bukan sekadar poster viral. Informasi keliru tentang kepunahan satwa dapat mengaburkan ancaman lingkungan yang sebenarnya.
Masyarakat perlu memeriksa sumber informasi sebelum mempercayai atau membagikan klaim yang mengatasnamakan lembaga pemerintah. @eko







