Banjir Aceh Barat merendam 12 desa yang tersebar di tiga kecamatan di Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh, sejak Sabtu 31/10/2026. Hujan berintensitas tinggi memicu luapan Sungai Krueng Meureubo dan Krueng Woyla hingga menggenangi permukiman warga, mengikis badan jalan, serta merusak pagar sekolah.
Tabooo.id: Aceh – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Barat mengerahkan tim gabungan untuk melakukan penanganan dan pendataan dampak banjir. Hingga Minggu 01/11/2026 siang, debit air akibat banjir Aceh barat di sejumlah wilayah masih tinggi dan arus sungai terpantau deras.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Aceh Barat, Dharmawan, menjelaskan bahwa hujan deras menjadi pemicu utama meluapnya sejumlah sungai di kawasan pedalaman.
“Bencana alam ini diakibatkan tingginya intensitas hujan yang sangat tinggi dan meluapnya sejumlah sungai besar di pedalaman Aceh Barat,” kata Dharmawan kepada wartawan di Meulaboh, Minggu 01/11/2026, seperti dikutip ANTARA.
Banjir Aceh Barat: Dua Sungai Meluap, Tiga Kecamatan Terdampak
BPBD mencatat banjir melanda tujuh desa di Kecamatan Pante Ceureumen. Wilayah tersebut meliputi Gampong Keutambang, Lawet, Jambak, Puloe Teungoh, Lango, Canggai, dan Sikundo.
Gampong Sikundo menjadi salah satu wilayah yang mengalami kerusakan infrastruktur. Derasnya arus air mengikis badan jalan dan merusak pagar sekolah. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa dampak banjir tidak hanya mengganggu aktivitas permukiman, tetapi juga mulai menyentuh fasilitas umum.
Di Kecamatan Sungai Mas, banjir merendam empat desa, yakni Gampong Tungkop, Kajeung, Lancong, dan Geudong.
Sementara itu, Gampong Napai di Kecamatan Woyla Barat turut terdampak. Debit air di wilayah ini meningkat signifikan hingga mulai memasuki rumah-rumah warga.
Dengan demikian, sebaran banjir mencakup 12 desa di tiga kecamatan. Kecamatan Pante Ceureumen mencatat tujuh desa terdampak, Sungai Mas empat desa, dan Woyla Barat satu desa.
Sikundo Membayar Dampak Derasnya Arus
Banjir mulai terjadi setelah Krueng Meureubo di Kecamatan Pante Ceureumen dan Krueng Woyla di Kecamatan Sungai Mas meluap akibat hujan deras pada Sabtu 31/10/2026.
Kerusakan badan jalan di Sikundo menjadi perhatian karena infrastruktur tersebut memiliki fungsi penting bagi mobilitas masyarakat. Jika pengikisan terus berlangsung, akses warga berpotensi terganggu, terutama ketika mereka membutuhkan layanan kesehatan, distribusi kebutuhan pokok, maupun bantuan kebencanaan.
Kerusakan pagar sekolah juga menunjukkan bahwa fasilitas pendidikan tidak luput dari ancaman bencana. Namun, belum tersedia informasi mengenai tingkat kerusakan bangunan sekolah, gangguan kegiatan belajar, ataupun jumlah warga yang harus mengungsi.
Di sisi lain, genangan yang mulai memasuki rumah warga di Napai memperlihatkan bahwa ancaman banjir belum sepenuhnya terkendali.
Ketika Air Naik, Warga Diminta Tetap Waspada
BPBD Aceh Barat mengimbau masyarakat yang tinggal di sepanjang bantaran sungai agar meningkatkan kewaspadaan. Warga juga diminta terus memantau perkembangan debit air dan mengantisipasi kemungkinan kenaikan genangan.
Imbauan tersebut penting, tetapi penanganan bencana tidak cukup berhenti pada penyampaian peringatan. Pemerintah daerah perlu memastikan informasi kondisi sungai tersampaikan secara berkala, jalur evakuasi tersedia, serta kebutuhan dasar masyarakat terdampak terdata dengan baik.
Petugas di lapangan juga perlu memetakan rumah yang terendam, kelompok rentan, kondisi akses jalan, serta potensi kerusakan fasilitas publik.
Banjir 12 desa ini menjadi ujian kesiapsiagaan pemerintah daerah. Kecepatan mengirim tim gabungan harus berjalan beriringan dengan ketepatan pendataan, kesiapan evakuasi, dan kemampuan memastikan bantuan mencapai warga yang membutuhkan.
Bencana Tidak Berhenti pada Air yang Menggenang
Ada tiga hal yang perlu menjadi perhatian dalam peristiwa ini.
1. Ancaman terhadap keselamatan warga. Debit sungai yang masih tinggi meningkatkan risiko genangan meluas. Pemerintah perlu memastikan warga di bantaran sungai memperoleh informasi peringatan dan akses evakuasi.
2. Infrastruktur mulai tergerus. Kerusakan badan jalan dan pagar sekolah di Sikundo menjadi indikasi dampak fisik banjir. Pemerintah perlu memeriksa kondisi infrastruktur lain sebelum kerusakan semakin meluas.
3. Pendataan harus menjadi prioritas. Jumlah desa terdampak sudah diketahui, tetapi data jumlah keluarga terdampak, pengungsi, kerugian material, dan kebutuhan darurat belum tersedia dalam laporan yang menjadi rujukan.
Di sinilah ukuran keberhasilan penanganan bencana seharusnya terlihat: bukan hanya seberapa cepat petugas tiba, melainkan seberapa cepat pemerintah melindungi warga dan memulihkan kehidupan masyarakat.
Hujan deras merupakan pemicu langsung banjir dalam laporan ini. Namun, untuk menyimpulkan penyebab struktural seperti kerusakan daerah aliran sungai, perubahan tata guna lahan, atau buruknya drainase, diperlukan data lingkungan dan pemeriksaan lapangan lebih lanjut. @teguh








