Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

94 Pengungsi NTT Meninggal, Sejauh Mana Negara Hadir?

by dimas
Oktober 8, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
94 pengungsi NTT meninggal di tengah masa tanggap darurat. Angka ini memunculkan pertanyaan tentang layanan, mitigasi, dan sejauh mana negara hadir.

Tabooo.id – Gempa bisa berhenti dalam hitungan menit. Namun, bagi warga yang kehilangan rumah, ancaman tidak ikut menghilang bersama getaran tanah.

Angka kematian setelah gempa Nusa Tenggara Timur (NTT) memperlihatkan persoalan itu. Data BNPB mencatat 142 orang meninggal akibat gempa. Sebanyak 48 orang meninggal akibat dampak langsung gempa, sementara 94 orang meninggal ketika berada di lokasi pengungsian.

Angka 94 itu segera memunculkan pertanyaan besar. Mengapa kematian tetap terjadi setelah warga berhasil keluar dari zona bencana?

Pertanyaan tersebut tidak berarti menyimpulkan bahwa kondisi pengungsian menyebabkan seluruh kematian. BNPB menjelaskan sebagian besar korban merupakan warga lanjut usia yang mengalami komplikasi penyakit kronis, seperti stroke dan diabetes.

Justru di titik itulah persoalannya menjadi lebih dalam.

Ini Belum Selesai

BBM Tersendat, ASN WFH Jadi Jawaban: Bagaimana dengan Akar Masalahnya?

Prabowo Bertemu Guterres di Hambalang: Diplomasi Akrab, Hasilnya Harus Terukur

Pengungsian Bukan Sekadar Tempat Berteduh

Banyak orang melihat pengungsian sebagai ruang aman sementara. Tenda, makanan, air bersih, selimut, dan bantuan logistik menjadi ukuran paling mudah untuk melihat respons bencana.

Padahal, kebutuhan pengungsi jauh lebih kompleks.

Seorang lansia dengan diabetes membutuhkan obat dan pemantauan. Pengungsi dengan tekanan darah tinggi membutuhkan layanan kesehatan yang berkelanjutan. Anak-anak membutuhkan perlindungan, sementara kelompok rentan memerlukan perhatian khusus.

Karena itu, pengungsian tidak cukup hanya menyediakan tempat untuk tidur.

Negara juga harus memastikan layanan kesehatan berjalan. Petugas harus mengetahui siapa yang memiliki penyakit kronis. Obat harus tersedia. Keluhan kesehatan harus mendapat respons cepat.

BNPB menyebut layanan dasar, pos kesehatan, bantuan medis, obat-obatan, dan logistik telah tersedia selama masa tanggap darurat. Namun, 94 kematian di tengah pengungsian tetap layak menjadi bahan evaluasi.

Bukan untuk mencari kambing hitam, melainkan untuk menguji apakah sistem benar-benar mampu melindungi warga paling rentan ketika bencana berlangsung.

Ketika Angka Berubah Menjadi Pertanyaan

Angka 94 tidak boleh berhenti sebagai statistik.

Di balik angka tersebut terdapat manusia dengan usia, penyakit, keluarga, dan kondisi sosial yang berbeda. Sebagian mungkin memiliki penyakit yang sudah mereka bawa sebelum gempa datang.

Gempa kemudian mengubah seluruh lingkungan hidup mereka.

Rumah hilang. Rutinitas terputus. Akses terhadap layanan kesehatan berubah. Obat-obatan yang biasanya tersedia di rumah mungkin tidak lagi mudah dijangkau.

Dalam kondisi seperti itu, penyakit kronis dapat berubah menjadi persoalan yang jauh lebih serius.

Di sinilah respons bencana perlu melihat korban bukan hanya sebagai orang yang kehilangan rumah. Pemerintah juga harus melihat mereka sebagai manusia dengan kebutuhan kesehatan yang berbeda.

Persoalan tersebut membutuhkan koordinasi lintas sektor. Pemerintah daerah, BNPB, Kementerian Sosial, tenaga kesehatan, relawan, dan lembaga lain harus bekerja dengan data yang sama.

Tanpa koordinasi, bantuan mudah berhenti pada distribusi barang.

Kritik Anggaran dan Masalah yang Lebih Besar

Anggota Komisi VIII DPR RI I Ketut Kariyasa Adnyana meminta pemerintah bertanggung jawab atas kematian yang terjadi di pengungsian.

Menurut Kariyasa, pemerintah perlu menjelaskan penyebab kematian tersebut sekaligus mengevaluasi pengelolaan pengungsian, terutama dari sisi Kementerian Sosial.

Ia juga menyoroti anggaran penanggulangan bencana. Kariyasa menyebut anggaran yang sebelumnya mencapai sekitar Rp12 triliun kemudian turun menjadi sekitar Rp5 triliun. Untuk 2026, ia menyebut angkanya berada di kisaran Rp491 miliar.

Angka anggaran tersebut perlu dibaca secara hati-hati karena berasal dari pernyataan Kariyasa. Namun, kritik itu membawa persoalan yang lebih besar ke permukaan: seberapa serius negara membiayai mitigasi sebelum bencana terjadi?

Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik. Gempa, tsunami, erupsi gunung api, banjir, longsor, dan berbagai bencana lain terus menjadi bagian dari risiko kehidupan masyarakat.

Karena itu, pemerintah tidak bisa hanya menghitung biaya ketika bencana sudah terjadi.

Mitigasi membutuhkan anggaran sebelum korban berjatuhan. Sistem peringatan dini membutuhkan investasi. Pemetaan risiko membutuhkan data. Pelatihan masyarakat membutuhkan waktu. Infrastruktur kesehatan juga harus siap menghadapi kondisi darurat.

Semua itu bekerja sebelum berita tentang korban muncul.

Negara Diuji Setelah Gempa

Selama ini, keberhasilan penanganan bencana sering terlihat dari kecepatan evakuasi dan distribusi bantuan.

Ukuran itu penting. Namun, angka kematian di pengungsian menunjukkan bahwa ukuran tersebut belum cukup.

Negara juga perlu menjawab pertanyaan lain: apakah warga yang berhasil menyelamatkan diri dari gempa benar-benar mendapat perlindungan setelah mereka tiba di pengungsian?

Pertanyaan itu semakin penting bagi kelompok rentan.

Lansia, anak-anak, penyandang disabilitas, ibu hamil, serta warga dengan penyakit kronis tidak memiliki kebutuhan yang sama. Mereka membutuhkan pendekatan yang lebih spesifik.

Sistem pengungsian yang baik harus mampu membaca perbedaan tersebut.

Jika tidak, pengungsian hanya memindahkan warga dari satu risiko menuju risiko lain.

Bencana Alam, Risiko Sosial

Gempa memang tidak bisa dihentikan. Tetapi dampak setelah gempa tidak sepenuhnya berada di luar kendali manusia.

Kualitas bangunan, kesiapan evakuasi, akses kesehatan, ketersediaan obat, kualitas pengungsian, sampai ketepatan distribusi bantuan ikut menentukan tingkat kerentanan masyarakat.

Dengan kata lain, bencana alam bertemu dengan sistem sosial.

Ketika sistem siap, masyarakat memiliki peluang lebih besar untuk bertahan. Sebaliknya, ketika sistem lemah, dampak bencana dapat menjadi lebih panjang dan lebih berat.

Karena itu, 94 kematian di pengungsian NTT harus dibaca sebagai alarm.

Bukan alarm untuk langsung menuduh bahwa pengungsian telah gagal. Bukan pula alasan untuk menyederhanakan seluruh kematian sebagai akibat buruknya layanan.

Angka tersebut justru membuka ruang evaluasi yang lebih serius.

Pemerintah perlu mengetahui siapa yang meninggal, apa penyebab medisnya, bagaimana kondisi mereka sebelum mengungsi, layanan apa yang mereka terima, dan apakah ada celah dalam sistem penanganan kelompok rentan.

Dari sana, negara dapat menemukan pola dan memperbaiki sistem.

Sebab, keberhasilan penanggulangan bencana tidak berhenti ketika warga berhasil keluar dari reruntuhan.

Ujian berikutnya justru dimulai ketika mereka memasuki pengungsian.

Gempa mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Dampaknya bisa berlangsung berbulan-bulan.

Dan ketika 94 orang meninggal setelah berada di tempat yang seharusnya memberi perlindungan, negara memiliki pekerjaan yang tidak bisa ditunda: mencari tahu apa yang terjadi, memperbaiki apa yang kurang, dan memastikan tragedi serupa tidak kembali menjadi angka dalam laporan berikutnya.

Gempa memang tidak bisa dicegah. Namun, kematian setelah gempa selalu menyisakan satu pertanyaan: seberapa siap negara melindungi mereka yang berhasil selamat? @dimas

Tags: Gempa NTTKelompok RentanLayanan KesehatanMitigasi BencanaPengungsian

Kamu Melewatkan Ini

Abu Anak Krakatau Tak Terdeteksi Satelit, Status Masih Siaga

Abu Anak Krakatau Tak Terdeteksi Satelit, Status Masih Siaga

by dimas
Oktober 10, 2026

Abu Anak Krakatau tak lagi terdeteksi satelit, tetapi status masih Siaga. Simak data erupsi, arah sebaran abu, dan radius bahaya...

Pemalang Kering Tiga Bulan: 10.764 KK Menunggu Air, Ketahanan Sistem Diuji

Pemalang Kering Tiga Bulan: 10.764 KK Menunggu Air, Ketahanan Sistem Diuji

by teguh
September 26, 2026

Pemalang kering tiga bulan tanpa kepastian air mengubah kemarau menjadi persoalan sehari-hari bagi ribuan keluarga di Pemalang, Jawa Tengah. Tabooo.id...

Dua Daratan Baru Anak Krakatau Muncul, Tapi Belum Aman Didekati

Dua Daratan Baru Anak Krakatau Muncul, Tapi Belum Aman Didekati

by dimas
September 25, 2026

Dua daratan baru muncul di Anak Krakatau setelah erupsi. Namun, material vulkanik muda masih labil dan belum aman untuk didekati....

Next Post
Sengketa Ledoksari: Warga dan PT KAI di Tengah Ujian Kemanusiaan

Sengketa Ledoksari: Warga dan PT KAI di Tengah Ujian Kemanusiaan

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id