Jurnalis Solo menggelar doa dan menyalakan lilin untuk lima rekan yang hilang saat perjalanan menuju kawasan Anak Krakatau.
Tabooo.id: Surakarta – Malam di halaman Balai Kota Solo berubah menjadi ruang tunggu.
Puluhan jurnalis menyalakan lilin dan menyusunnya membentuk tulisan “SOS”. Mereka datang bukan untuk mengejar berita, tetapi menunggu kabar tentang delapan orang yang belum pulang.
Lima di antaranya merupakan jurnalis. Tiga lainnya awak kapal yang ikut dalam perjalanan menuju kawasan Gunung Anak Krakatau.
Aksi doa bersama itu berlangsung Senin (14/9/2026) malam. Jurnalis dari PFI Solo, AJI Solo, dan PWI Solo berkumpul membawa poster dukungan bagi para korban dan keluarga.
Di tengah cahaya lilin, satu pesan terasa paling kuat: pencarian belum selesai.
Tujuh Hari Tanpa Kabar
Ketua PFI Solo, Yoma Times Suryadi, mengatakan lima jurnalis dan tiga awak kapal masih hilang kontak.
“Doa bersama ini untuk mengirimkan doa kepada lima teman kita yang saat ini masih hilang kontak sejak seminggu yang lalu beserta tiga awak kapal,” kata Yoma.
Operasi pencarian telah memasuki hari ketujuh. Basarnas kemudian memperpanjang pencarian selama tiga hari untuk menemukan para korban.
Bagi keluarga, tambahan waktu itu bukan sekadar perpanjangan operasi.
Itu berarti masih ada harapan.
Yoma pun menyampaikan apresiasi kepada seluruh tim SAR yang terus mencari para korban.
Ia berharap tambahan waktu pencarian membawa hasil dan seluruh korban dapat kembali dengan selamat.
“Mudah-mudahan untuk tiga hari ke depan tim Basarnas menemukan hasil dan teman-teman yang hilang kontak bisa kembali dengan selamat,” ujarnya.
Namun, semakin panjang pencarian berlangsung, semakin berat pula ketidakpastian yang harus ditanggung keluarga.
Mereka belum menerima kepastian kehilangan.
Mereka juga belum menerima kepastian keselamatan.
Yang tersisa adalah menunggu.
Ketika Tugas Jurnalistik Berhadapan dengan Risiko
Kasus ini kemudian memunculkan pertanyaan lain.
Mengapa para jurnalis berada di kawasan Gunung Anak Krakatau ketika aktivitas vulkanik berlangsung?
Pertanyaan itu muncul di ruang publik. Sebagian komentar bahkan mempertanyakan keputusan para jurnalis mendekati kawasan tersebut.
Yoma meminta publik tidak membangun spekulasi liar.
Menurutnya, pekerjaan jurnalistik memang menuntut wartawan mendekati lokasi peristiwa agar masyarakat memperoleh gambaran langsung mengenai kondisi lapangan.
“Kami sebagai jurnalis adalah perwakilan dari mata masyarakat dunia dalam sebuah peristiwa,” kata Yoma.
Ia menilai para jurnalis tidak mengambil keputusan tersebut tanpa pertimbangan.
Menurut Yoma, mereka telah melakukan riset dan memperhitungkan kondisi sebelum menjalankan peliputan.
Mereka juga menggunakan kapal milik warga setempat yang dinilai memahami karakteristik perairan sekitar lokasi.
Tetapi satu hal tetap tidak berubah.
Risiko tetap ada.
Dan ketika sebuah liputan berakhir dengan hilangnya delapan orang, perdebatan soal keputusan jurnalistik tidak lagi sekadar soal keberanian.
Ia berubah menjadi pertanyaan tentang batas keselamatan kerja.
Bukan Sekadar Hilang, Ada Manusia yang Menunggu
Di balik operasi SAR dan pemberitaan, keluarga serta rekan kerja terus menunggu kabar kepulangan mereka.
Para jurnalis yang biasanya berdiri di belakang kamera malam itu justru menjadi bagian dari cerita.
Mereka tidak sedang mencari kutipan.
Mereka sedang mengirim doa.
Situasi ini mengingatkan bahwa pekerjaan jurnalistik memiliki sisi yang sering tidak terlihat pembaca.
Publik menerima gambar dari lokasi bencana.
Publik membaca laporan dari kawasan berbahaya.
Namun, proses untuk mendapatkan informasi itu melibatkan manusia yang juga memiliki keluarga, ketakutan, dan batas keselamatan.
Ini Bukan Sekadar Operasi SAR
Kasus hilangnya lima jurnalis dan tiga awak kapal bukan hanya cerita tentang pencarian korban.
Ini juga cerita tentang bagaimana profesi jurnalistik berhadapan dengan risiko di lapangan.
Jurnalis memang membutuhkan akses menuju lokasi kejadian. Namun, akses tanpa sistem keselamatan dapat berubah menjadi taruhan nyawa.
Karena itu, solidaritas di Solo seharusnya tidak berhenti pada doa.
Ia juga membuka percakapan tentang keselamatan jurnalis ketika meliput bencana.
Apakah prosedur keselamatan sudah cukup?
Apakah risiko lapangan benar-benar terukur?
Dan ketika kondisi berubah cepat, siapa yang memastikan wartawan dapat mundur sebelum semuanya terlambat?
Pertanyaan itu penting karena bencana tidak mengenal deadline.
Gunung tidak menunggu kamera siap.
Laut tidak menunggu berita tayang.
Dan keselamatan manusia tidak seharusnya kalah oleh tuntutan mendapatkan gambar paling dekat.
Harapan yang Belum Padam
Tiga hari tambahan pencarian kini menjadi ruang terakhir bagi harapan.
Tim SAR masih bergerak. Rekan-rekan sesama jurnalis masih menunggu. Keluarga masih berharap pintu rumah kembali terbuka dan orang yang mereka tunggu pulang.
Di Solo, lilin-lilin itu akhirnya padam.
Namun pesan “SOS” yang mereka bentuk malam itu menyisakan makna yang lebih panjang.
Delapan orang belum ditemukan.
Dan selama belum ada kepastian, doa belum selesai.
Sebab pada akhirnya, berita paling penting dari pencarian ini bukan hanya apakah mereka ditemukan.
Tetapi apakah semua orang yang bekerja di balik sebuah berita bisa pulang dengan selamat. @eko








