Senin, November 2, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

TPA Putri Cempo Terbakar, 90 Persen Sampah Mojosongo Menumpuk

by dimas
September 9, 2026
in Deep
A A
Home Deep
TPA Putri Cempo terbakar, membuat 90 persen sampah warga Mojosongo belum terangkut. Warga sudah bayar, tetapi pembuangan masih terbatas.

Tabooo.id – Pagi tetap datang seperti biasa di Mojosongo.

Rumah-rumah menghasilkan sampah. Dapur terus memasak. Aktivitas warga juga berjalan seperti biasa. Namun, satu hal mulai berubah: sampah yang biasanya pergi dari halaman rumah kini tertahan lebih lama.

Masalahnya bukan warga tidak mau membayar.

Sebagian besar warga Mojosongo justru sudah membayar jasa pengangkutan sampah secara mandiri kepada petugas swasta. Mereka membayar agar petugas segera mengambil sampah dari rumah.

Masalah muncul ketika armada pengangkut itu tidak bisa masuk ke TPA Putri Cempo.

Ini Belum Selesai

Banjir Aceh Barat: 12 Desa Terendam, Infrastruktur Terkikis, Mitigasi Kembali Diuji

Dua Korporasi Tersangka Karhutla, Ancaman Kerusakan Hutan Berlanjut

Sampah sudah dibayar untuk diangkut. Petugas tetap bekerja. Namun, tempat pembuangan membatasi akses.

Di situlah ironi itu muncul.

Sampah Ada. Petugas Ada. Jalannya yang Buntu.

Lurah Mojosongo Katarina Kartika mengatakan pengangkutan sampah di wilayahnya sangat terganggu.

Sebagian besar warga Mojosongo menggunakan jasa pengangkutan swasta. Karena itu, pembatasan akses TPA langsung memukul sistem pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga.

“Dari warga belum bisa terambil maksimal. Karena kebanyakan Mojosongo ikut swasta. Mereka bayar petugas untuk mengambil sampah secara mandiri. Yang mandiri belum bisa masuk. Yang bisa masuk baru L-300 milik kelurahan,” kata Katarina, dikutip dari Kompas.com, Selasa (8/9/2026).

Persoalannya tidak berhenti pada jumlah armada.

Mojosongo merupakan wilayah yang luas. Pada saat yang sama, DLH Solo membatasi pembuangan sampah ke TPA Putri Cempo.

Saat ini, hanya armada Suzuki L-300 yang boleh membuang sampah ke TPA. Armada itu pun hanya mendapat satu kali kesempatan pembuangan setiap hari.

Bagi wilayah seluas Mojosongo, satu rit tentu tidak cukup untuk mengatasi tekanan yang ada.

Katarina menyebut hampir 90 persen sampah warga Mojosongo belum terangkut.

Angka tersebut menunjukkan betapa cepat gangguan di ujung sistem bisa merembet sampai ke depan rumah.

Ketika Satu Rit Harus Menanggung Wilayah yang Besar

Persoalan terlihat sederhana jika orang hanya melihat dari pintu TPA.

Armada terbatas. Akses pembuangan menyempit. Sampah akhirnya tertahan.

Namun, warga menghadapi persoalan yang jauh lebih nyata.

Produksi sampah rumah tangga terus berjalan meski TPA mengalami kebakaran. Setiap hari, rumah tetap menghasilkan sisa makanan, plastik, kardus, popok, dan sampah domestik lainnya.

Pembatasan pembuangan kemudian menciptakan tekanan berlapis.

Petugas swasta kesulitan mengangkut sampah. Warga menghadapi potensi penumpukan. Kelurahan pun harus mencari jalur pembuangan alternatif.

Pemerintah Kelurahan Mojosongo sementara menitipkan sampah kepada armada L-300 milik kelurahan lain. Armada tersebut berasal dari wilayah yang memiliki volume sampah lebih sedikit.

Langkah itu menunjukkan satu hal.

Sistem persampahan sedang bekerja dalam mode darurat.

Bukan karena warga tiba-tiba berhenti bertanggung jawab. Gangguan justru muncul karena sistem pembuangan tidak mampu menerima seluruh sampah yang terus diproduksi.

TPA Terbakar, Masalah Menjalar ke Permukiman

Kebakaran masih berdampak pada sejumlah blok di TPA Putri Cempo.

Blok B, C, dan D belum dapat digunakan untuk pembuangan. Pengelola kemudian menyiapkan zona escape darurat di sisi selatan jembatan timbang.

Kepala Subbag TU UPTD TPA Putri Cempo, Sapto Purnama, menjelaskan fungsi zona tersebut.

“Itu zona escape darurat, ketika tidak bisa melakukan pembuangan sampah di blok B, C dan D,” ujar Sapto, Selasa (8/9/2026).

Zona tersebut berada sekitar 400 meter dari pintu masuk TPA. Jaraknya sekitar 700 meter dari titik terdekat kobaran api.

Namun, zona darurat belum mengembalikan kapasitas pembuangan seperti kondisi normal.

Pengelola tetap membatasi pembuangan sambil petugas menangani kebakaran di dalam blok.

Artinya, persoalan tidak langsung selesai setelah petugas mengendalikan api di satu titik.

Pengelola masih harus memastikan fasilitas pembuangan kembali siap menerima sampah dari wilayah yang bergantung kepadanya.

Kebakaran Mengungkap Rapuhnya Rantai Sampah

Di sinilah kebakaran TPA Putri Cempo menjadi lebih dari sekadar peristiwa kebakaran.

Api memang berkobar di kawasan TPA. Namun, dampaknya bergerak jauh melampaui lokasi tersebut.

Gangguan itu mengikuti rantai pengelolaan sampah. Dari blok pembuangan, masalah bergerak ke armada. Dari armada, tekanan sampai kepada petugas pengangkut. Pada akhirnya, warga ikut merasakan dampaknya.

Satu titik terganggu, seluruh rantai ikut tersendat.

Ini bukan sekadar persoalan teknis. Kondisi tersebut memperlihatkan ketergantungan sistem persampahan kota pada fasilitas pembuangan akhir.

Selama jalur terakhir berjalan, persoalan sampah hampir tidak terlihat.

Warga membayar. Petugas datang. Sampah terangkut. Rumah kembali bersih.

Sistem bekerja dalam diam.

Ketika TPA bermasalah, seluruh proses yang selama ini tidak terlihat mendadak muncul ke permukaan.

Warga pun menjadi pihak pertama yang merasakan akibatnya.

Warga Tetap Membayar, Tetapi Layanan Tidak Lagi Maksimal

Ada ironi yang sulit diabaikan.

Warga Mojosongo tidak sedang menolak membayar pengelolaan sampah. Mereka justru sudah membayar petugas secara mandiri.

Namun, pembayaran tersebut tidak otomatis menjamin sampah terus bergerak ketika fasilitas pembuangan mengalami gangguan.

Pertanyaan yang lebih besar pun muncul.

Seberapa tangguh sistem persampahan kota ketika satu fasilitas utama mengalami krisis?

Apakah kota memiliki cukup armada cadangan?

Apakah kapasitas darurat mampu menampung lonjakan sampah?

Lalu, siapa yang menanggung dampaknya ketika sistem tidak bisa bekerja normal?

Pertanyaan itu penting karena sampah tidak mengenal hari libur.

Produksinya terus berjalan setiap hari.

Pemerintah Mulai Menyiapkan Mekanisme Baru

Pemerintah Kelurahan Mojosongo mulai mencari jalan keluar.

Katarina mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan BPBD, Damkar, dan DLH Kota Solo. Dalam koordinasi tersebut, pemerintah membahas mekanisme baru untuk kelurahan dengan wilayah lebih besar.

Sebelumnya, satu armada hanya mendapat satu rit pembuangan.

Mekanisme baru membuka peluang bagi kelurahan tertentu untuk memperoleh hingga tiga rit.

Tambahan rit itu bisa memberi ruang bernapas bagi wilayah yang menghadapi tekanan sampah paling besar.

Namun, kebijakan tersebut tetap bersifat darurat.

Tambahan rit membantu mengatasi persoalan kapasitas untuk sementara. Langkah itu belum menjawab kebutuhan sistem ketika fasilitas utama mengalami gangguan dalam waktu lebih panjang.

Kebakaran TPA menunjukkan pentingnya ruang dan mekanisme cadangan dalam sistem persampahan.

Tanpa cadangan tersebut, gangguan di tempat pembuangan bisa kembali berubah menjadi persoalan lingkungan di permukiman.

Ini Bukan Sekadar Kebakaran. Ini Tes Ketahanan Kota.

Kebakaran TPA Putri Cempo memberi pelajaran yang tidak nyaman.

Sampah bukan sekadar benda yang hilang setelah petugas mengambilnya dari depan rumah.

Ada rantai panjang di belakangnya, ada petugas, ada armada, ada kuota, ada fasilitas dan ada kebijakan.

Ketika satu mata rantai terganggu, warga langsung merasakan akibatnya.

Mojosongo kini menjadi contoh paling nyata.

Hampir 90 persen sampah warga disebut belum terangkut. Pemerintah kelurahan harus menitipkan sampah kepada armada wilayah lain. Pada saat yang sama, pengelola TPA masih membatasi pembuangan karena proses pemadaman berlangsung.

Jadi, ini bukan sekadar cerita tentang api.

Ini adalah tes ketahanan sistem persampahan kota.

Dan untuk sementara, sistem itu sedang menunjukkan celahnya.

Dampaknya Buat Kamu

Bagi warga, dampaknya sederhana sekaligus serius.

Sampah bisa lebih lama berada di rumah. Pengangkutan dapat tertunda. Petugas harus mencari jalur pembuangan alternatif. Kelurahan juga harus berbagi kapasitas dengan wilayah lain.

Karena itu, persoalan TPA bukan urusan yang jauh dari kehidupan sehari-hari.

TPA memang berada di ujung sistem.

Namun, ketika ujung itu tersumbat, masalahnya kembali ke rumah.

Sampah yang seharusnya pergi justru tinggal lebih lama. Pada titik itu, pertanyaan tentang ketahanan sistem tidak lagi terdengar seperti urusan birokrasi.

Pertanyaan tersebut berubah menjadi urusan semua orang.

Sebab, kota yang bersih bukan hanya soal seberapa rajin warganya membuang sampah pada tempatnya.

Kota yang bersih juga membutuhkan sistem yang mampu memastikan sampah benar-benar punya tempat untuk pergi. @dimas

Tags: Kebakaran TPAKrisis PersampahanPengelolaan SampahSampah MojosongoTPA Putri Cempo
Next Post
Powerbank Ugreen MagFlow Pro: Powerbank dengan Liquid Cooling

Powerbank Ugreen MagFlow Pro: Powerbank dengan Liquid Cooling

Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

Social icon element need JNews Essential plugin to be activated.
No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id