Bagi sebagian orang, kematian menandai akhir sebuah hubungan. Setelah pemakaman, keluarga biasanya menyimpan kenangan melalui foto, cerita, atau benda peninggalan. Masyarakat Toraja memiliki cara pandang yang berbeda dan sebuah ritual yang bernama tradisi Ma’nene ini sampai sekarang dilestarikan.
Tabooo.id – Pada waktu tertentu, satu rumpun keluarga kembali mendatangi makam leluhur. Mereka membuka liang, mengeluarkan mumi, membersihkan tubuh, menjemurnya, kemudian mengganti pakaian dan tradisi tersebut dikenal sebagai tradisi Ma’nene.
Sekilas, ritual ini tampak seperti kegiatan membersihkan jenazah. Namun, maknanya tidak berhenti pada tubuh yang telah meninggal puluhan bahkan ratusan tahun.
Ma’nene memperlihatkan cara masyarakat Toraja menjaga hubungan dengan leluhur sekaligus memperkenalkan sejarah keluarga kepada generasi berikutnya.
Di Toraja, kematian tidak otomatis mengakhiri hubungan keluarga.
Tradisi Ma’nene: Ketika Leluhur Tetap Menjadi Bagian Keluarga
Pemangku adat suku Toraja, Marten Paladan, menjelaskan makna Ma’nene kepada detikSulsel pada 02/09/2022.
“Masyarakat Toraja itu selalu memperhatikan leluhurnya.”
Menurut Marten, perhatian kepada leluhur menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Toraja. Kepercayaan tersebut mengajarkan bahwa keluarga perlu menjaga hubungan dengan mereka yang telah lebih dahulu meninggal.
Salah satu bentuk perhatian itu muncul melalui ritual membersihkan tubuh leluhur dan mengganti pakaian nene’.
“Ritual Ma’nene dengan menggantikan baju nene’ dan membersihkan, itu sebagai bentuk penghormatan serta perhatian kepada leluhur,” ujar Marten pada 02/09/2022.
Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa Ma’nene tidak sekadar berbicara tentang tubuh tapi bagaimana keluarga sedang merawat ingatan.
Hubungan dengan leluhur menjadi bagian dari cara masyarakat Toraja memahami keluarga, sejarah, dan keberlanjutan generasi.
Patane Membuka Makam, Sekaligus Membuka Ingatan
Rangkaian Tradisi Ma’nene melibatkan satu rumpun keluarga. Pihak keluarga yang dituakan terlebih dahulu memanjatkan doa menggunakan bahasa Toraja kuno. Sesudahnya, mereka menyiapkan sejumlah kebutuhan untuk rangkaian ritual.
Babi dan kerbau termasuk hewan yang memiliki posisi penting dalam pelaksanaan tersebut. Jumlahnya mengikuti ketentuan dan kesepakatan keluarga.
Sirih kemudian menjadi bagian dari persiapan sebelum proses membuka liang. Masyarakat Toraja mengenal pembukaan liang makam sebagai Pa’tane.
Menurut Marten, satu liang dapat menyimpan beberapa mumi yang berasal dari satu rumpun keluarga.
“Di liang itu bukan hanya berisi satu mumi. Biasanya berjumlah banyak dan itu satu rumpun keluarga.”
Setelah liang terbuka, keluarga mengeluarkan peti dan mumi leluhur. Tubuh tersebut kemudian dijemur sekitar tiga hari hingga satu pekan. Lama penjemuran mengikuti kesepakatan keluarga.
Proses pembersihan berlangsung setelah tubuh cukup kering. Kuas atau kain digunakan untuk membersihkan mumi, sementara pakaian dan kain alas peti diganti.
Tahap berikutnya membawa mumi kembali ke dalam peti. Keluarga kemudian mengembalikannya ke liang batu.
Rangkaian Ma’nene berlanjut hingga Ma’sisemba, tradisi perkelahian menggunakan kaki. Bagi orang yang belum mengenal budaya Toraja, seluruh rangkaian itu mungkin terlihat asing.
Namun, sebuah tradisi tidak bisa dinilai hanya dari apa yang tampak di permukaan. Makna budaya lahir dari cara masyarakat yang menjalankannya memahami kehidupan mereka sendiri.
Kerbau, Babi, dan Kepercayaan tentang Puya
Hubungan dengan leluhur juga berkaitan erat dengan sistem kepercayaan masyarakat Toraja.
Marten menjelaskan pada 02/09/2022 bahwa masyarakat Toraja terdahulu mengenal Aluk Todolo, sebuah sistem kepercayaan yang menempatkan kerbau pada posisi sakral.
“Bagi suku Toraja, kerbau ini sangat sakral.”
Dalam penjelasan Marten, masyarakat terdahulu percaya bahwa seseorang tidak dapat mencapai Puya, atau alam setelah kematian, tanpa pengorbanan kerbau.
Keyakinan tersebut membuat kerbau memiliki posisi penting dalam rangkaian ritual.
Bunyi gong juga menjadi bagian dari prosesi. Marten menjelaskan bahwa jumlah bunyi gong dapat menunjukkan jumlah kerbau yang dipotong.
Babi pun hadir dalam rangkaian acara keluarga. Hubungan dengan leluhur bahkan dapat muncul melalui hal-hal sederhana yang mengingatkan keluarga pada kehidupan mereka ketika masih hidup.
Marten mengatakan keluarga dapat menyiapkan sesuatu yang dahulu disukai leluhur.
“Contohnya, diberikan rokok atau kopi dan sebagainya.”
Detail tersebut memperlihatkan sisi lain Ma’nene. Nama leluhur memang tetap penting. Namun, kebiasaan, kesukaan, dan kisah hidup mereka juga terus mendapat tempat.
Yang dirawat bukan cuma ingatan tentang siapa mereka, tetapi juga cerita tentang bagaimana mereka menjalani hidup.
Tradisi yang Menyesuaikan Kehidupan Modern
Pada masa lalu, masyarakat Toraja dapat melaksanakan Ma’nene setiap tahun.
Kondisi kehidupan kemudian berubah. Banyak anggota keluarga kini tinggal di luar Toraja sehingga seluruh rumpun keluarga tidak selalu dapat berkumpul setiap tahun.
Biaya pelaksanaan juga menjadi pertimbangan. Situasi tersebut mendorong masyarakat menyesuaikan waktu pelaksanaan melalui Kombongan Kalua, yakni musyawarah adat.
Marten menjelaskan keputusan itu pada 02/09/2022.
“Dulu itu orang tua kita 1 tahun sekali. Tapi kan sekarang tidak semua masyarakat Toraja berada di Toraja, dan memang saat menggelar ritual itu memakan banyak biaya.”
Hasil musyawarah kemudian membuka kemungkinan pelaksanaan Ma’nene setiap tiga tahun sekali.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa tradisi tidak selalu bertahan dengan cara mempertahankan seluruh bentuk lama.
Masyarakat dapat menyesuaikan pelaksanaannya dengan kehidupan yang terus bergerak. Jarak tempat tinggal, pekerjaan, biaya, dan kondisi keluarga ikut menentukan ritme ritual.
Namun, inti penghormatan kepada leluhur tetap mendapat tempat. Waktunya berubah. Hubungan keluarganya tetap dijaga.
Dari Leluhur kepada Generasi Muda
Ma’nene memiliki fungsi lain yang tidak kalah penting. Ritual tersebut mempertemukan generasi muda dengan leluhur mereka.
Anak-anak dan anggota keluarga yang lebih muda dapat mengenal sosok yang selama ini mungkin hanya mereka dengar melalui cerita orang tua.
Marten menjelaskan fungsi tersebut pada 02/09/2022.
“Ritual ini juga digunakan untuk memperkenalkan anggota-anggota keluarga yang muda dengan para leluhurnya.”
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Ma’nene tidak hanya menjadi urusan generasi tua. Generasi muda justru menjadi bagian penting dari keberlanjutan tradisi.
Cerita keluarga berpindah dari orang tua kepada anak, Silsilah tetap memiliki makna dan kisah hidup leluhur pun terus menemukan pendengar baru.
Makam akhirnya tidak hanya menjadi tempat menyimpan tubuh, tetapi juga ruang untuk belajar tentang asal-usul keluarga.
Pong Rumase dan Cerita yang Menjadi Akar Tradisi
Masyarakat Toraja memiliki cerita tentang asal-usul Ma’nene yang berkaitan dengan seorang pemburu bernama Pong Rumase.
Menurut kisah yang disampaikan Marten, Pong Rumase berasal dari wilayah Lepong Bulan. Kawasan tersebut pada masa lalu mencakup wilayah yang kini dikenal sebagai Gowa, Makassar, Luwu, Bastem, Toraja, Mamasa, dan sekitarnya.
Pong Rumase meninggal ketika melakukan perjalanan di hutan. Seorang pemuda asal Baruppu’ kemudian menemukan tulang-belulangnya. Dalam cerita tersebut, pemuda itu merupakan saudara Seregading atau Sawerigading.
Marten menceritakan kisah tersebut pada 02/09/2022.
“Jadi Pong Rumase ditemukan jazadnya oleh saudara Saweregading di tengah hutan. Tapi karena kesaktiannya, jasad Pong Rumase bisa berbicara kepada pemuda itu.”
Menurut cerita itu, Pong Rumase meminta pemuda tersebut membawa jasadnya pulang karena dirinya belum memperoleh upacara yang layak.
Pemuda itu kemudian memenuhi permintaan tersebut. Ia membuka pakaiannya, mengikat jasad Pong Rumase, lalu membawanya menuju tempat yang lebih layak.
Kisah tersebut kemudian menghubungkan tindakan pemuda itu dengan kehidupan yang semakin makmur. Tanamannya tumbuh subur dan kehidupannya memperoleh keberuntungan.
Masyarakat kemudian mengaitkan cerita tersebut dengan asal-usul Ma’nene.
Sebagai tradisi lisan, kisah Pong Rumase juga memperlihatkan gagasan yang menjadi inti Ma’nene: hubungan dengan orang yang telah meninggal tetap memiliki tempat dalam kehidupan mereka yang masih hidup.
Ketika Kematian Menjadi Ruang Pertemuan
Kematian biasanya membawa keluarga menuju perpisahan. Ma’nene menghadirkan pengalaman yang berbeda.
Anggota keluarga yang tinggal berjauhan dapat kembali bertemu di tanah leluhur. Generasi muda mendapat kesempatan mengenal orang-orang yang hidup jauh sebelum mereka lahir.
Makam menjadi titik pertemuan serta cerita menjadi jembatan antargenerasi. Ritual kemudian mengikat kembali hubungan yang sempat berjauhan karena waktu dan jarak.
Semua proses tersebut memperlihatkan satu gagasan penting: hubungan keluarga tidak selalu berhenti ketika tubuh seseorang berhenti hidup. Ingatan membuat hubungan tersebut terus menemukan jalannya.
Tradisi Bukan Sekadar Tontonan
Popularitas Ma’nene membuat tradisi ini semakin mudah ditemukan dalam pemberitaan, foto, dan konten digital. Gambar mumi, makam batu, dan prosesi ritual memang memiliki daya tarik visual yang kuat.
Namun, popularitas juga membawa tantangan. Ketika sebuah tradisi masuk ke ruang publik, masyarakat perlu memahami konteks di balik gambar. Ma’nene bukan pertunjukan yang lahir untuk kamera.
Di balik ritual tersebut terdapat keluarga yang membawa sejarahnya sendiri. Ada leluhur yang mereka hormati, keyakinan yang mereka jalankan, serta keputusan adat yang mereka musyawarahkan.
Karena itu, pemberitaan mengenai Ma’nene seharusnya tidak berhenti pada tubuh mumi. Publik perlu mengetahui alasan keluarga menjalankan ritual tersebut.
Konteks sosialnya juga penting untuk dipahami. Begitu pula perubahan yang terjadi karena masyarakat Toraja menghadapi kehidupan modern.
Mereka bukan sekadar sedang menjalankan ritual yang terlihat unik. Mereka sedang mempertahankan cara sendiri dalam memahami keluarga, kematian, dan ingatan.
Yang Mati Tidak Selalu Pergi
Ma’nene mungkin terlihat seperti cerita tentang orang mati. Padahal, pusat ceritanya justru berada pada mereka yang masih hidup.
Orang-orang yang datang ke makam membawa lebih dari sekadar pakaian baru. Mereka membawa cerita keluarga, rasa hormat, dan ingatan yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Pembukaan liang menghadirkan kembali kisah yang mungkin lama tersimpan. Proses membersihkan mumi menjadi cara untuk menjaga hubungan dengan masa lalu.
Pakaian baru menjadi bentuk perhatian kepada leluhur. Pertemuan keluarga membuka kembali hubungan yang sempat terpisah oleh jarak dan waktu.
Bagi sebagian orang, kematian berarti perpisahan. Di Toraja, kematian justru menjadi salah satu cara untuk mengingat bahwa keluarga pernah berjalan bersama.
Mungkin itulah alasan Ma’nene tetap menemukan tempat di tengah perubahan zaman. Jadwal pelaksanaan dapat berubah, Anggota keluarga dapat berpindah kota.
Biaya ritual dapat menjadi pertimbangan dan cara masyarakat menjalankan tradisi juga dapat menyesuaikan keadaan. Namun, kebutuhan untuk mengingat tetap bertahan.
Ketika Akar Bertemu Zaman
Budaya tidak selalu bertahan karena masyarakat mempertahankan seluruh bentuk lama. Kadang, sebuah tradisi justru bertahan karena masyarakat mampu menyesuaikannya dengan kehidupan baru.
Ma’nene menunjukkan proses tersebut dan pelaksanaan yang dahulu dapat berlangsung setiap tahun kini dapat mengikuti kesepakatan tiga tahun sekali. Keputusan tersebut lahir dari kondisi keluarga yang semakin tersebar serta pertimbangan biaya.
Bentuknya dapat berubah tanpa harus menghapus gagasan utama tentang penghormatan kepada leluhur. Di tengah dunia yang bergerak cepat, Ma’nene menawarkan pelajaran sederhana.
Kemajuan tidak selalu berarti meninggalkan masa lalu. Kadang, manusia membutuhkan masa lalu agar tahu dari mana ia berasal.
Di Toraja, cara mengingat itu tidak hanya tersimpan dalam cerita. Ia hidup melalui keluarga, Ia hadir melalui ritual, Ia diteruskan kepada generasi berikutnya.
Ma’nene akhirnya bukan sekadar cerita tentang kematian. Ia adalah cerita tentang manusia yang memilih untuk tidak melupakan.
Warisan yang Tak Dikubur Waktu
Ma’nene bukan tentang bagaimana orang Toraja “memperlakukan orang mati”. Tradisi ini berbicara tentang cara sebuah keluarga memperlakukan ingatan.
Seorang anak mengenal leluhurnya, Satu rumpun keluarga kembali berkumpul dan cerita lama menemukan pendengar baru.
Budaya pun mendapat kesempatan untuk terus hidup. Sebab mungkin, manusia tidak hanya takut pada kematian. Manusia juga takut ketika tidak ada lagi yang mengingat siapa dirinya. @teguh








