TPA Putri Cempo Solo terbakar, kobaran api melahap gunungan sampah di Blok B. Petugas masih berjibaku memadamkan api.
Tabooo.id: Surakarta – Cahaya oranye tiba-tiba muncul di balik rumah warga setelah Magrib, Rabu (2/9/2026). Dari kejauhan, cahaya itu tampak seperti rumah yang terbakar.
Namun dugaan itu segera berubah.
Api justru berkobar dari kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo, Solo, Jawa Tengah. Kobaran api melalap gunungan sampah di Blok B dan terlihat semakin membesar.
Warga sekitar pun mulai berdatangan untuk melihat kondisi dari jarak dekat. Mobil pemadam kebakaran juga terlihat berada di lokasi untuk menangani kebakaran.
Rama (33), warga sekitar, menjadi salah satu orang yang pertama menyadari adanya kobaran api dari arah TPA.
“Kejadiannya setengah tujuh, habis Magrib. Dari rumah kelihatan ada cahaya oranye. Saya kira rumah yang terbakar,” kata Rama saat dikutip dari detik.com, Rabu malam.
Rasa penasaran membuat Rama keluar rumah. Dari sana, ia baru mengetahui bahwa sumber cahaya tersebut berasal dari kawasan TPA Putri Cempo.
Ia kemudian mendekati lokasi untuk melihat kondisi kebakaran.
“Saya keluar rumah, ternyata yang kebakaran Putri Cempo. Terus saya lari lihat dari dekat sini, kaget ternyata Putri Cempo terbakar,” ujarnya.
Api Membesar di Tengah Gunungan Sampah
Kebakaran berlangsung di kawasan yang dipenuhi timbunan sampah. Pantauan di lokasi menunjukkan api membesar di gunungan sampah Blok B.
Kobaran tersebut menghasilkan cahaya terang yang terlihat dari kawasan sekitar. Situasi itu membuat warga menyadari adanya kebakaran setelah melihat pancaran api dari kejauhan.
Petugas pemadam kebakaran kemudian berjibaku menangani api.
Hingga berita ini ditulis, proses pemadaman masih berlangsung. Belum ada keterangan resmi mengenai penyebab kebakaran, luas area yang terdampak, maupun kemungkinan adanya korban.
Karena itu, penyebab munculnya api belum dapat dipastikan.
Ketika Gunungan Sampah Menjadi Titik Api
Kebakaran di TPA bukan sekadar persoalan api yang harus segera dipadamkan.
Gunungan sampah memiliki karakter berbeda dari bangunan biasa. Material yang menumpuk dapat membuat penanganan api menjadi lebih kompleks. Karena itu, pemadaman membutuhkan kerja petugas secara terus-menerus sampai titik api benar-benar terkendali.
Namun pada tahap ini, satu hal sudah terlihat jelas: kobaran api di TPA Putri Cempo tidak hanya menjadi tontonan warga.
Asap, panas, dan aktivitas pemadaman berlangsung di ruang yang berdekatan dengan lingkungan tempat masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari.
Kondisi tersebut membuat kebakaran TPA memiliki dimensi yang lebih luas dibanding kebakaran biasa. Ada persoalan keselamatan warga, pengelolaan sampah, hingga risiko lingkungan yang perlu diperhatikan setelah api padam.
Bukan Sekadar Kebakaran
Peristiwa di Putri Cempo memperlihatkan satu persoalan yang sering luput ketika sampah sudah meninggalkan rumah.
Sampah memang berpindah dari tempat tinggal warga menuju TPA. Namun persoalannya tidak ikut menghilang.
Di tempat pembuangan akhir, sampah berubah menjadi timbunan besar. Ketika kebakaran terjadi, persoalan itu kembali muncul ke permukaan dalam bentuk api, asap, kepanikan, dan pekerjaan pemadaman.
Inilah titik pentingnya kebakaran TPA bukan sekadar kejadian api. Ini juga menjadi cermin tentang bagaimana sebuah kota mengelola sampah setelah masyarakat membuangnya.
Peristiwa malam ini setidaknya kembali menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak berhenti ketika tempat sampah di rumah kosong.
Tanggung jawab itu berlanjut sampai sampah berada di tempat pembuangan akhir.
Warga Melihat Api, Kota Menghadapi Persoalan
Bagi Rama, peristiwa itu bermula dari cahaya oranye yang terlihat dari rumah.
Bagi petugas, cahaya itu berubah menjadi pekerjaan panjang untuk mengendalikan kobaran api.
Kebakaran tersebut menghadirkan pertanyaan yang jauh lebih besar: seberapa aman sistem pengelolaan sampah ketika gunungan sampah dapat berubah menjadi titik kebakaran?
Jawaban atas pertanyaan itu tidak cukup berhenti pada siapa yang memadamkan api.
Publik juga membutuhkan penjelasan mengenai penyebab kebakaran, luas area terdampak, kondisi lingkungan sekitar, serta langkah pemerintah setelah api benar-benar padam.
Sebab, memadamkan api hanya menyelesaikan keadaan darurat.
Persoalan sampah tetap berada di sana.
Dan gunungan itu belum ke mana-mana. @dimas








