Rabu, September 16, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Gedung Kolonial, Museum Gubug Wayang, dan Ingatan Mojokerto

by teguh
September 1, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on Facebook
Share on Twitter
Di Jalan R.A. Kartini, Kota Mojokerto, sebuah bangunan tua menyimpan perjalanan panjang. Jejak Hindia Belanda masih melekat pada sejarah gedung peninggalan Kolonial tersebut. Pemerintah Kota Mojokerto mencatat bangunan itu berdiri sekitar 1912 dan sekarang menjadi Museum Gubug Wayang.

Tabooo.id – Pada masanya, tempat tersebut berkaitan dengan aktivitas penyimpanan kain. Setelah fungsi itu berakhir, bangunan sempat terbengkalai dan menjadi sarang burung walet. Waktu kemudian membawa perubahan. Kini, berbagai koleksi budaya mengisi ruang tersebut. Wayang, topeng, keris, mainan tradisional, hingga boneka Si Unyil hadir di dalamnya. Tempat itu kemudian dikenal sebagai Museum Gubug Wayang.

Namun, kisahnya tidak berhenti pada koleksi, Ada persoalan yang jauh lebih besar bagaimana membuat masa lalu tetap berarti bagi generasi yang hidup di tengah banjir informasi digital?

Gedung Lama Mendapat Kehidupan Kedua

Perjalanan Museum Gubug Wayang bermula dari kegiatan sanggar. Dari ruang yang sederhana, aktivitas tersebut berkembang menjadi pusat pelestarian seni dan kebudayaan Indonesia.

Museum resmi berdiri pada 15/08/2015. Momentum peresmian tersebut berkaitan dengan Drs. Suyadi atau Pak Raden. Museum Gubug Wayang di Mojokerto berdiri sebagai lembaga swasta yang berfokus pada pelestarian seni dan kebudayaan Indonesia.

Pemilik Museum Gubug Wayang Mojokerto adalah Sendjojo Njoto, yang didirikan melalui Yensen Project Indonesia. Saat ini, kepengurusan operasional museum dipimpin oleh putrinya, yaitu Dea Putri Njoto yang menjabat sebagai Direktur Utama. Perjalanan museum ini bermula dari kepemilikan aset peninggalan keluarga pemilik museum. Pada tahun 2014,

Ini Belum Selesai

Dari Kelapa ke Sawit: Siapa yang Mengubah Isi Wajan Kita?

Silat Panglipur: Sejarah, Filosofi dan Warisan Abah Aleh

Sejak saat itu, bangunan lama memperoleh fungsi baru. Aktivitas edukasi, pertunjukan, penelitian, dan pelestarian budaya mulai menghidupkan ruang di dalamnya.

Pertanyaan berikutnya menjadi lebih penting. Bagaimana membuat generasi baru merasa bahwa sejarah masih mempunyai hubungan dengan kehidupan mereka?

Karena itu, museum tidak hanya mengandalkan koleksi. Pelajar dan mahasiswa dapat melakukan penelitian maupun magang. Masyarakat juga memperoleh ruang untuk mengikuti kegiatan seni dan menyaksikan pertunjukan.

Dengan pendekatan tersebut, bangunan bersejarah tidak sekadar menjadi objek yang dilihat. Ruangnya berubah menjadi tempat untuk belajar, bertemu, dan mengalami kebudayaan secara langsung.

Gedung Kolonial, Museum Gubug Wayang, dan Ingatan Mojokerto
Budi Susanto Penanggung jawab Museum Gubuk Wayang Mojokerto

Si Unyil Membawa Pulang Ingatan Masa Kecil

Bagi sebagian masyarakat Indonesia, Si Unyil menyimpan memori yang kuat. Tokoh tersebut pernah menjadi bagian dari budaya populer anak-anak melalui layar televisi.

Kini, memori itu mendapatkan ruang fisik di Museum Gubug Wayang.

Budi Susanto Penanggung jawab Museum Gubuk Wayang Mojokerto kepada team redaksi Tabooo menjelaskan bahwa Pak Raden datang pada 2015 dan memberikan kepercayaan kepada museum untuk merawat aset serial Si Unyil.

“Pada tahun 2015, Pak Raden pernah datang ke sini, memberikan kepercayaan kepada kami untuk merawat dan menyimpan seluruh aset serial boneka Si Unyil.” kata Budi Selasa, 01/09/2026.

Koleksi tersebut menjalankan fungsi yang lebih besar daripada sekadar pajangan.

Generasi yang mengenal Si Unyil dapat bernostalgia. Sementara itu, anak-anak hari ini memperoleh kesempatan mengenal karakter yang lahir dari zaman berbeda.

Dengan demikian, nostalgia berubah menjadi jembatan. Memori personal kemudian bergerak menjadi bagian dari ingatan bersama.

Wayang Tidak Harus Selalu Terbuat dari Kulit

Koleksi yang tersedia memperlihatkan bahwa wayang memiliki banyak bentuk.

Pengunjung dapat menemukan wayang purwa, wayang rumput, wayang lidi, wayang kardus, hingga wayang berbahan limbah.

Pilihan material tersebut menunjukkan bahwa kreativitas dapat berjalan berdampingan dengan tradisi.

Budi Susanto menjelaskan:

“Wayang kan enggak harus pakai kulit ya, mahal banget, Bahan-bahan seperti kardus atau wayang sak semen bisa digunakan.” Selasa, 01/09/2026.

Menurut Budi, sak semen memiliki karakter cukup kuat setelah mengering.

“Sak semen kalau dibuat wayang itu kalau mengering ngalah-ngalahi kulit, bahannya lebih ke kulit. Jadi lebih awet dan enggak kaku.” kata Budi Selasa, 01/09/2026.

Dari material sederhana itu muncul pertanyaan yang lebih besar. Apakah perubahan bahan otomatis menghilangkan identitas sebuah tradisi? Jawabannya tidak sesederhana itu.

Tradisi tidak hanya hidup melalui benda. Cerita, keterampilan, simbol, dan proses pewarisan ikut membentuk identitasnya.

Sementara itu, material dapat mengikuti kebutuhan zaman. Karena itu, wayang berbahan limbah justru menunjukkan kemampuan budaya untuk beradaptasi.

Bentuk dapat berubah tanpa harus menghapus nilai yang diwariskan.

Gedung Kolonial, Museum Gubug Wayang, dan Ingatan Mojokerto
Koleksi kaset tentang wayang dari masa ke masa masih rapi tersimpan

Keris Mengajak Pengunjung Membaca Makna

Koleksi keris membawa percakapan pada sisi budaya yang berbeda. Salah satu koleksinya merupakan keris era Kamardikan karya Empu Anik Putra Sugari dari Desa Aeng Tong-tong, Sumenep, Madura. Pihak museum menggunakan keris tersebut sebagai sarana edukasi.

Budi menjelaskan pemaknaan keris berdasarkan perspektif tradisional yang digunakan museum.

“Ker itu kekuatan batin dan daya ingat, Ris itu ketuhanan.” jelas Budi Selasa, 01/09/2026.

Menurut penjelasan tersebut, keris membawa pesan agar manusia selalu mengingat Tuhan.

Budi juga menghubungkannya dengan prinsip donga kalian mergawe, yakni berdoa sambil bekerja. Dengan begitu, keris tidak berhenti sebagai benda pusaka.

Makna yang melekat di dalamnya membuka percakapan tentang simbol, nilai, dan cara pandang masyarakat.

Pengunjung akhirnya tidak hanya melihat bentuk. Mereka juga mendapat kesempatan memahami cerita yang menyertainya.

Menjaga Budaya Tidak Semudah Memajangnya

Dari luar, museum mungkin terlihat tenang. Di balik ruang koleksi, pekerjaan perawatan berlangsung terus-menerus.

Wayang membutuhkan perhatian terhadap suhu, kelembapan, debu, dan kondisi lingkungan. Bahkan, penggunaan AC menjadi pertimbangan khusus.

Budi menjelaskan:

“Kami enggak memakai AC, karena kalau pakai AC nanti wayangnya menggulung.” Selasa, 01/09/2026

Pengalaman terhadap koleksi sebelumnya menjadi salah satu dasar keputusan tersebut.

Perubahan kelembapan dapat memengaruhi material wayang. Karena itu, pihak museum menjaga suhu ruangan sekitar maksimal 30 derajat Celsius dan melakukan pengecekan.

Situasi tersebut memperlihatkan sisi lain pelestarian budaya. Kecintaan terhadap warisan budaya saja tidak cukup.

Biaya harus tersedia, Kondisi ruangan perlu dipantau. Ketelitian menentukan apakah sebuah koleksi dapat bertahan dalam jangka panjang.

Dengan kata lain, pelestarian membutuhkan kerja teknis yang sering tidak terlihat pengunjung.

Museum Berhadapan dengan Dunia Digital

Tantangan museum semakin besar ketika kebiasaan masyarakat berubah.

TikTok bergerak dalam hitungan detik, Instagram terus mengganti perhatian pengguna, YouTube menyediakan konten tanpa ujung.

Pada saat yang sama, gim, layanan streaming, dan AI ikut mengubah cara manusia menikmati informasi.

Dalam situasi tersebut, museum tidak hanya bersaing dengan destinasi budaya lainnya.

Mereka berhadapan dengan seluruh ekosistem digital. Karena itu, koleksi yang bagus saja belum tentu cukup.

Cerita harus menarik, Pengalaman perlu relevan, Interaksi juga harus hidup. Jika tidak, benda bersejarah berisiko menjadi sesuatu yang dilihat sekali lalu dilupakan.

Persoalannya Bukan Kekurangan Koleksi

Jumlah benda bukan satu-satunya ukuran keberhasilan sebuah museum. Jarak antara koleksi dan kehidupan masyarakat justru menjadi persoalan yang lebih rumit.

Kebijakan kebudayaan pemerintah mencatat sejumlah tantangan dalam ekosistem permuseuman. Persoalan tersebut mencakup anggaran, dokumentasi, digitalisasi, serta kunjungan generasi muda.

Pada 2024, Eva Riana Rusdi dari Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia menyoroti pentingnya inovasi dalam pengelolaan museum.

Ia mengaitkan pendekatan inovatif, termasuk teknologi digital, dengan upaya menarik perhatian generasi muda.

Namun, teknologi bukan jawaban tunggal. Layar digital tidak otomatis membuat sejarah terasa dekat. Konten interaktif pun belum tentu menciptakan rasa memiliki.

Yang tetap menjadi inti adalah cerita, Tanpa cerita, teknologi hanya menjadi alat. Tanpa manusia, koleksi hanya menjadi benda.

Sebaliknya, ketika benda bertemu cerita dan manusia, museum dapat berubah menjadi pengalaman.

Dari Balik Kaca Menuju Ruang Belajar

Aktivitas Museum Gubug Wayang mencoba menjawab persoalan tersebut. Pelatihan pembuatan wayang menjadi salah satu bentuk edukasi yang dilakukan.

Selain itu, tersedia kegiatan tari, macapat, dan karawitan. Pertunjukan Potehi, ludruk, ketoprak, serta wayang orang turut menghidupkan ruang budaya.

Pelajar dan mahasiswa juga dapat memanfaatkan museum untuk penelitian maupun magang. Dengan demikian, koleksi tidak hanya menunggu di balik kaca.

Anak-anak dapat belajar melalui benda yang mereka lihat. Mahasiswa bisa menggali sejarah dan konteks budayanya.

Masyarakat memperoleh kesempatan menikmati pertunjukan secara langsung. Pelaku seni pun mendapatkan ruang untuk berkarya.

Akhirnya, museum bergerak dari tempat penyimpanan menuju ruang pembelajaran.

Yang Dijaga Bukan Sekadar Benda

Di titik ini, makna Museum Gubug Wayang menjadi lebih luas.

Wayang memang dirawat, Keris juga memperoleh tempat dan Si Unyil ikut menjaga memori budaya populer.

Gedung kolonial mendapatkan kehidupan baru. Namun, seluruh elemen tersebut memiliki satu benang merah.

Yang sebenarnya sedang dijaga adalah hubungan manusia dengan ingatannya.

Gedung membawa jejak sejarah. Wayang merekam tradisi pertunjukan. Keris menyimpan simbol dan pengetahuan. Si Unyil mengingatkan sebuah generasi pada masa kecilnya.

Kegiatan edukasi kemudian menjadi jembatan menuju generasi berikutnya. Dengan kata lain, museum bukan hanya tempat menyimpan benda.

Ia menjadi ruang untuk mempertanyakan hubungan manusia dengan masa lalu.

Ketika Sejarah Terasa Jauh

Banyak anak muda mengenal sejarah melalui buku pelajaran. Proses belajar sering berpusat pada tahun dan nama tokoh.

Hafalan kemudian menjadi cara utama memahami peristiwa. Namun, metode tersebut tidak selalu menghasilkan rasa memiliki.

Pengalaman di museum menawarkan jalan berbeda. Sebuah boneka dapat membuka cerita tentang masa kecil.

Wayang mampu memperkenalkan seni pertunjukan secara visual. Keris dapat menjadi pintu menuju pembahasan simbol dan filosofi.

Bahkan, sak semen menunjukkan bahwa kreativitas tidak selalu membutuhkan material mahal. Karena itu, budaya dapat terasa lebih dekat.

Sejarah tidak harus berhenti sebagai kumpulan tanggal. Tradisi pun tidak harus tampil kaku.

Sebaliknya, budaya dapat berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan cerita yang membuatnya berarti.

Budaya Tidak Harus Kuno untuk Tetap Hidup

Pada akhirnya, Museum Gubug Wayang memperlihatkan bahwa pelestarian bukan sekadar menyimpan. Masa lalu membutuhkan ruang untuk terus berbicara.

Bangunan kolonial memperoleh fungsi baru. Kehadiran Si Unyil memberi ruang bagi memori budaya populer.

Wayang mendapatkan kesempatan untuk bereksperimen. Keris memiliki konteks untuk dipahami.

Generasi muda pun memperoleh pintu untuk mengenal kembali warisan budaya. Sebab, benda dapat bertahan puluhan bahkan ratusan tahun.

Ingatan manusia jauh lebih rapuh. Ketika generasi berhenti merasa perlu mengenal budayanya, koleksi mungkin tetap berdiri.

Namun, makna di balik benda tersebut dapat perlahan menghilang. Karena itu, pekerjaan museum jauh lebih besar daripada menjaga koleksi.

Museum menjaga alasan agar generasi baru tetap mau mengingat.

Ketika Budaya Berubah, Ingatan Jangan Hilang

Budaya tidak mati ketika bentuknya berubah. Masalah muncul ketika manusia berhenti merasa perlu meneruskannya.

Museum Gubug Wayang memperlihatkan bahwa masa lalu tidak harus dikurung agar tetap dihormati.

Melalui Si Unyil, memori masa kecil menemukan tempat. Lewat pertunjukan, tradisi memperoleh ruang untuk bergerak.

Dari material limbah, kreativitas menemukan bentuk baru. Sementara keris membuka percakapan tentang nilai dan makna.

Pada akhirnya, budaya tidak harus tampil kuno untuk tetap hidup. Kalau budaya mampu berubah agar tetap hidup, apakah kita juga mau berubah agar tetap mengingatnya?. @teguh

Tags: KerisMojokertoMuseum Gubug WayangPak RadenPelestarian BudayaSi UnyilwayangWayang Limbah

Kamu Melewatkan Ini

Lima Tahun Menjaga Rasa, Lontong Kikil Bang J Melawan Ketidakpastian

Lima Tahun Menjaga Rasa, Lontong Kikil Bang J Melawan Ketidakpastian

by teguh
September 7, 2026

Semangkuk lontong kikil bang J seharga Rp18 ribu tampak sederhana. Lontong, kikil, tahu, dan kuah kaldu tersaji dalam satu mangkuk...

Lontong Kikil Bang J: Dari Pinggir Jalan, Sampai Pelanggan Luar Kota

Lontong Kikil Bang J: Dari Pinggir Jalan, Sampai Pelanggan Luar Kota

by teguh
September 3, 2026

Di pinggir jalan Dusun Gedang Klutuk, Mojokerto, semangkuk lontong kikil bang J punya cara sendiri untuk memanggil orang datang. Bukan...

Wanita Menempa Keris: Ia Diwariskan. Lalu Siapa Pewaris Berikutnya?

Wanita Menempa Keris: Ia Diwariskan. Lalu Siapa Pewaris Berikutnya?

by teguh
September 3, 2026

Sisil meninggalkan dunia penerbangan untuk menempa keris. Pilihan itu membawa pertanyaan lebih besar siapa yang akan menjaga pengetahuan leluhur ketika...

Next Post
293 Santri Diduga Keracunan Usai Santap MBG di Sidoarjo

293 Santri Diduga Keracunan Usai Santap MBG di Sidoarjo

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id