Malam Merdeka Rutan Solo menghadirkan karya warga binaan lewat wayang orang dan batik, sekaligus membuka ruang untuk kesempatan kedua.
Tabooo.id: Surakarta – Malam Merdeka di Rutan Kelas I Surakarta menghadirkan cerita berbeda. Di balik tembok rutan, warga binaan mendapat ruang untuk tampil, berkarya, dan membangun kembali kepercayaan diri.
Rutan Kelas I Surakarta menggelar malam kesenian bertema “Akulturasi Jiwa, Rasa, dan Karsa”. Kegiatan tersebut mempertemukan pegawai dan warga binaan dalam satu panggung.
Wali Kota Surakarta Respati Ardi turut hadir dalam kegiatan itu. Kapolres Surakarta Kombes Pol Catur juga hadir bersama Direktur Teknologi Informasi dan Kerja Sama Pemasyarakatan Kardiyono serta Kepala Rutan Kelas I Surakarta Bhanad Shofa.
Wayang Orang Mempertemukan Dua Dunia
Salah satu penampilan yang menarik perhatian datang dari kolaborasi wayang orang. Pegawai rutan dan warga binaan bersama-sama membawakan cerita Roro Jonggrang.
Di atas panggung, batas antara petugas dan warga binaan seolah mencair. Mereka tidak lagi tampil sebagai dua kelompok berbeda. Sebaliknya, mereka hadir sebagai satu kelompok kesenian.
Selain itu, malam kesenian tersebut menghadirkan fashion performance sastra. Pertunjukan itu menggandeng kreatif batik Dinadi.
Rutan Kelas I Surakarta juga meluncurkan desain motif “Melipat Malam”. Pada kesempatan yang sama, pihak rutan menyerahkan hak cipta atas karya tersebut.
Dengan demikian, kesenian tidak berhenti sebagai pertunjukan. Karya tersebut juga membuka ruang untuk pengembangan kreativitas warga binaan.
Pembinaan Tidak Berhenti di Balik Jeruji
Kepala Rutan Kelas I Surakarta Bhanad Shofa menilai keberanian warga binaan tampil memiliki nilai tersendiri.
Menurut Bhanad, warga binaan harus melewati proses perubahan diri. Setelah itu, mereka perlu memberikan penampilan terbaik dalam kegiatan tersebut.
“Ketika warga binaan yang melakukan penampilan ini menurut saya value-nya lebih. Karena yang pertama ia harus merubah dirinya dan kedua bagaimana untuk mempersembahkan yang terbaik untuk acara ini,” jelas Bhanad.
Karena itu, Bhanad melihat panggung kesenian sebagai bagian dari proses pembinaan. Warga binaan tidak hanya mengikuti rutinitas selama berada di rutan.
Mereka juga belajar berani tampil. Selain itu, mereka mengasah kreativitas dan membangun kembali kepercayaan diri.
Namun, proses pembinaan tidak berhenti ketika warga binaan meninggalkan rutan. Setelah itu, mereka harus kembali berhadapan dengan lingkungan sosial.
Di titik inilah penerimaan masyarakat menjadi penting.
Bhanad meminta masyarakat tidak terus memberikan stigma kepada warga binaan yang telah menjalani proses pembinaan.
“Saya berpesan kepada masyarakat untuk warga binaan kemarin, dampingi, rangkul dia, maafkan dia untuk kehidupan yang lebih baik,” harapnya.
Dari Panggung Menuju Kehidupan Baru
Direktur Teknologi Informasi dan Kerja Sama Pemasyarakatan Kardiyono turut mengapresiasi kegiatan tersebut.
Menurutnya, kegiatan seperti Malam Merdeka dapat menjadi contoh bagi lembaga pemasyarakatan lainnya.
“Apresiasi, apresiasi, apresiasi. Semoga kegiatan ini menjadi contoh di lembaga pemasyarakatan yang lain dan menjadi inspirasi untuk jauh lebih baik,” terangnya.
Dengan begitu, kesenian dapat menjadi bagian dari pembinaan. Panggung tidak hanya berfungsi sebagai tempat hiburan.
Sebaliknya, panggung memberi warga binaan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan mereka. Publik pun dapat melihat sisi lain dari proses pembinaan di dalam rutan.
Ketika Hukuman Selesai, Stigma Jangan Ikut Menetap
Wali Kota Surakarta Respati Ardi juga berharap warga binaan keluar dari rutan sebagai pribadi yang lebih baik.
Untuk itu, Respati menyampaikan rencana mendukung visi Surakarta menuju Java Wellness City 2030. Pemerintah kota juga ingin membuka ruang bagi warga binaan yang telah menyelesaikan masa pembinaan.
Salah satu ruang tersebut adalah Rumah Siap Kerja.
“Untuk rekan-rekan warga binaan nanti bisa bergabung ke Rumah Siap Kerja. Dari rekomendasi rutan, nanti warga binaan bisa kami bimbing,” terang Respati.
Langkah itu menunjukkan bahwa proses pembinaan membutuhkan kelanjutan. Warga binaan membutuhkan kesempatan untuk kembali belajar, bekerja, dan berinteraksi dengan masyarakat.
Sebab, persoalannya bukan hanya bagaimana seseorang menjalani masa pembinaan di dalam rutan. Persoalan berikutnya adalah bagaimana masyarakat menerima mereka setelah pintu rutan terbuka.
Ini bukan sekadar malam kesenian. Ini tentang kesempatan kedua.
Hukuman memiliki batas waktu. Namun, stigma sosial bisa bertahan jauh lebih lama.
Karena itu, masyarakat punya peran penting setelah seseorang menyelesaikan masa hukuman. Mereka membutuhkan ruang untuk membuktikan perubahan, bukan sekadar label atas masa lalu.
Malam itu, warga binaan tidak hanya memainkan kisah Roro Jonggrang. Mereka juga menunjukkan bahwa manusia tetap bisa berkarya ketika mendapat ruang untuk berubah.
Pada akhirnya, kemerdekaan bukan hanya soal terbebas dari jeruji. Kemerdekaan juga berarti mendapat kesempatan untuk kembali dipercaya.
Lalu, ketika pintu rutan terbuka, apakah kita siap memberi mereka kesempatan kedua? @eko








