Suasana di lantai dua Perpustakaan Ganesa Solo masih terasa sama. Rak-rak kayu tetap memajang ribuan buku. Aroma kertas masih memenuhi ruangan. Kesunyian masih menemani siapa pun yang datang untuk membaca. Namun, ada satu hal yang berubah Budaya membaca kalah dengan budaya Scroll.
Tabooo.id – Manusia kini lebih sering menggeser layar daripada membalik halaman. Buku tidak pernah pergi, tetapi perhatian manusia perlahan berpindah ke algoritma. Di tengah budaya scroll yang berlangsung tanpa henti, perpustakaan tidak lagi bersaing dengan toko buku. Ia harus menghadapi teknologi yang setiap detik berebut waktu manusia.
Ketika Literasi Berhadapan dengan Algoritma
Michael dan Debra dari Ohio, Amerika Serikat, bersama pemilik Batik Pria Tampan Solo mendirikan Perpustakaan Ganesa pada 2010. Mereka membawa satu gagasan sederhana, yaitu membuka akses membaca seluas mungkin tanpa memungut biaya.
Pengelola membebaskan biaya pendaftaran anggota maupun peminjaman buku. Mereka ingin menghadirkan ruang belajar yang bisa dijangkau siapa saja.
Manager Perpustakaan Ganesa, Ibu Candra, menjelaskan semangat yang melatarbelakangi berdirinya perpustakaan tersebut.
“Perpustakaan Ganesa didirikan tahun 2010. Founder-nya ada Pak Michael dan Bu Debra dari Ohio, Amerika Serikat, yang berkolaborasi dengan pemilik gedung ini, yaitu pemilik Batik Pria Tampan. Gedung ini diberikan full support tempat tanpa biaya sewa untuk fasilitasi kegiatan literasi,” ujar Ibu Candra.
Lebih dari lima belas tahun kemudian, perpustakaan ini telah mencatat lebih dari 19.000 anggota secara regeneratif.
Angka itu terdengar menggembirakan Namun, kenyataan di ruang baca justru menunjukkan cerita yang berbeda.
Anggota Bertambah, Pengunjung Berkurang
Pandemi COVID-19 memang mengubah banyak hal. Cara bekerja berubah. Cara belajar berubah. Bahkan cara manusia menghabiskan waktu juga ikut berubah.
Sesudah pandemi berlalu, masyarakat tidak sepenuhnya kembali pada kebiasaan lama. Kini mereka lebih sering mencari jawaban melalui media sosial daripada membuka buku.
Ibu Candra Manager Perpustakaan Ganesa Solo mengakui Perubahan itu sangat terasa di Perpustakaan Ganesa.
“Sebelum pandemi, kunjungan bisa lebih dari 100 orang per hari. Tapi setelah pandemi, pola masyarakat berubah, jadi rata-rata kunjungan sekarang sekitar 20 sampai 50 pengunjung per hari,” kata Ibu Candra.
Data tersebut menunjukkan satu ironi karena jumlah anggota terus meningkat, tetapi ruang baca semakin lengang.
Artinya, masyarakat masih menganggap perpustakaan penting. Namun mereka tidak lagi menjadikannya bagian dari rutinitas sehari-hari.
Buku Tidak Kalah. Perhatian Manusia yang Berubah Arah.
Perubahan itu tidak muncul begitu saja. Psikolog sosial dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), Prof. Sherry Turkle, menjelaskan bahwa teknologi digital mengubah cara manusia membangun perhatian.
Dalam bukunya Reclaiming Conversation (2015), ia menulis:
“Kita mulai terbiasa dengan perhatian yang terpecah. Semakin sering berpindah layar, semakin sulit bertahan pada satu bacaan yang panjang.”
Penelitian Microsoft Canada pada 2015 juga memperkuat temuan tersebut. Penelitian itu menunjukkan bahwa rentang perhatian pengguna digital semakin pendek dibandingkan satu dekade sebelumnya.
Sementara itu, perusahaan media sosial terus menyempurnakan algoritma agar pengguna bertahan selama mungkin di dalam aplikasi.
Video pendek berganti tanpa jeda karena notifikasi muncul tanpa henti. Konten baru terus berdatangan sebelum pengguna sempat menyelesaikan satu informasi.
Perlahan, algoritma membentuk kebiasaan baru karena manusia terbiasa mengonsumsi banyak informasi, tetapi semakin jarang mendalaminya.
Mengapa Anggota Terus Bertambah?
Pertanyaan itu justru membuka persoalan yang lebih besar. Keanggotaan bukanlah ukuran budaya membaca.
Seseorang bisa memiliki kartu anggota perpustakaan, tetapi belum tentu datang untuk membaca.
Sosiolog Prancis Pierre Bourdieu menyebut kebiasaan membaca sebagai bagian dari modal budaya (cultural capital). Lingkungan, keluarga, pendidikan, dan kebiasaan sehari-hari membentuk modal budaya tersebut.
Ketika lingkungan lebih banyak menawarkan hiburan instan dibandingkan proses berpikir panjang, masyarakat perlahan meninggalkan kebiasaan membaca secara mendalam.
Pengelola perpustakaan masih menyediakan ribuan buku. Namun masyarakat semakin sulit menyediakan waktu untuk membaca. Masyarakat lebih memilih menikmati budaya scroll masa kini.
Perpustakaan Kini Menjual Pengalaman, Bukan Sekadar Buku
Pengelola Perpustakaan Ganesa memahami perubahan itu. Mereka tidak hanya mengelola rak buku. Mereka juga menciptakan ruang belajar yang hidup.
Perpustakaan menyediakan Wi-Fi gratis, mengelola sirkulasi buku melalui aplikasi SLiMS, membuka kelas Storytelling, mengadakan Ganesha English Speaking, menerima mahasiswa magang, hingga menggandeng komunitas literasi.
“Kita ada program rutin seperti Storytelling atau mendongeng untuk anak-anak TK dan SD setiap hari Sabtu jam 11 siang, serta Ganesa English Speaking. Kami juga berkolaborasi dengan komunitas seperti Read Aloud Solo Raya, Maybank, hingga mahasiswa magang untuk membantu penerjemahan buku impor dan pengelolaan sirkulasi,” jelas Ibu Candra.
Kini perpustakaan tidak cukup hanya menyimpan buku. Ia harus menciptakan alasan agar orang mau datang.
Literasi Tidak Pernah Bergantung pada Gedung
Pada Festival Literasi Nasional, 08/09/2023, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim menegaskan bahwa literasi jauh melampaui kemampuan membaca.
“Literasi adalah kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, dan mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan.”
Pernyataan tersebut mengingatkan bahwa gedung megah tidak otomatis melahirkan masyarakat yang literat.
Rak buku yang penuh juga tidak menjamin orang mau membaca. Literasi selalu tumbuh dari kebiasaan Bukan dari bangunan.
Yang Sedang Dilawan Perpustakaan Bukan Kekurangan Buku
Banyak orang mengira perpustakaan sedang menghadapi krisis pengunjung. Padahal persoalannya jauh lebih dalam.
Perpustakaan sedang melawan sesuatu yang tidak terlihat namanya distraksi digital. Algoritma bekerja dengan satu tujuan mempertahankan perhatian manusia selama mungkin.
Sebaliknya, perpustakaan mengajak manusia berhenti, berpikir, dan menyelami satu gagasan secara utuh. Pertarungan itu tidak pernah muncul dalam berita utama.
Namun dampaknya bisa menentukan kualitas masyarakat pada masa depan. Sebab masyarakat yang kehilangan kebiasaan membaca akan lebih mudah menerima potongan informasi daripada memahami persoalan secara utuh.
Scroll Tidak Pernah Salah. Tetapi Ia Tidak Bisa Menggantikan Membaca.
Media sosial memang mempercepat akses informasi. Namun kecepatan tidak selalu melahirkan pemahaman. Kita hidup di zaman ketika semua orang merasa tahu banyak hal.
Ironisnya, semakin sedikit orang yang benar-benar meluangkan waktu untuk memahami satu persoalan secara mendalam.
Di situlah perpustakaan menjalankan peran yang tidak bisa digantikan algoritma. Ia tidak menjual sensasitapi menawarkan ruang untuk berpikir.
Dan mungkin, justru kemampuan berpikir itulah yang mulai terasa langka di era ketika perhatian manusia menjadi komoditas paling mahal.
Yang Sebenarnya Sedang Hilang
Perpustakaan tidak sedang kehilangan pembaca. Budaya Scroll dengan Algoritmanya sedang memenangkan perhatian mereka.
Pertanyaannya bukan lagi “masih adakah orang yang mau membaca?” Melainkan masih mampukah kita berhenti menggulir layar cukup lama untuk benar-benar memahami dunia?. @teguh








