Sabtu, Juli 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kaum Tani Mengganyang Setan-Setan Desa: D.N. Aidit Membongkar Kekuasaan di Balik Kemiskinan

by Tabooo
Juli 17, 2026
in Culture, Tabooo Book Club
A A
Home Culture Tabooo Book Club
Share on FacebookShare on Twitter
Kaum Tani Mengganyang Setan-Setan Desa tidak membaca kemiskinan petani sebagai nasib yang jatuh dari langit. D.N. Aidit mencari orang, lembaga, dan hubungan kekuasaan yang hidup dari kesulitan desa. Namun, buku ini juga membawa satu masalah besar: riset lapangan bercampur dengan kepentingan politik penulisnya.

Tabooo.id – Kaum Tani Mengganyang Setan-Setan Desa tidak menganggap kemiskinan petani sebagai nasib. D.N. Aidit memberi nama kepada orang, lembaga, dan mekanisme yang hidup dari kesulitan desa. Masalahnya, buku ini bukan hanya laporan riset, tetapi juga senjata politik.

Buku Ini Berawal dari Gunung, tetapi Turun ke Dapur Petani

D.N. Aidit membuka risalah ini dari sebuah tempat tenang di pegunungan Jawa Barat. Gunung Pangrango menjulang di hadapannya. Gunung Gede berdiri di sebelah kiri, sementara Gunung Salak terlihat di kanan.

Pemandangan itu terdengar damai. Namun, isi buku ini justru bergerak ke arah sebaliknya.

Aidit membawa pembaca turun dari pegunungan menuju rumah petani. Ia mengajak kita melihat tikar tua, bantal keras, dapur tanpa beras, sawah tergadai, dan utang berbunga tinggi.

Selama tujuh minggu, dari 2 Februari sampai 23 Maret 1964, lebih dari 40 petugas mengikuti penelitian di Jawa Barat. Mereka bekerja bersama tim lokal yang terdiri dari pemimpin gerakan tani tingkat kecamatan dan desa.

Ini Belum Selesai

Seni dalam Kain: Merawat Warisan, Menolak Dilupakan

Lima Film Dokumenter TABOOO Cinema Lab Rekam Realita di Winongo

Wilayah penelitian mencakup berbagai daerah. Ada kawasan persawahan, pantai, kehutanan, perkebunan, bekas tanah partikelir, dan bekas basis DI-TII.

Tujuannya bukan menyusun laporan akademik yang tenang. Penelitian itu ingin mengetahui keadaan petani sekaligus memperbesar gerakan politik di desa.

Sejak awal, posisi buku ini sudah jelas.

Ia ingin memotret kenyataan. Namun, ia juga ingin mengubah kenyataan itu melalui pengorganisasian massa.

Riset Bukan Mengisi Formulir, tetapi Tidur di Tikar yang Sama

Bagian paling menarik dari buku ini bukan hanya kesimpulan politiknya. Metode penelitiannya justru memberi pelajaran yang masih terasa relevan.

Aidit mengkritik penelitian yang hanya mengandalkan formulir, angka resmi, atau jawaban aparat desa. Menurutnya, cara itu gagal menangkap hubungan kekuasaan yang sebenarnya.

Angka pemerintah bisa menunjukkan luas tanah. Namun, angka belum tentu menjelaskan siapa yang menguasainya.

Daftar resmi bisa mencatat hasil panen. Namun, daftar itu belum tentu menunjukkan berapa bagian yang benar-benar masuk ke dapur penggarap.

Karena itu, para petugas menjalankan metode “tiga sama”: sama bekerja, sama makan, dan sama tidur dengan buruh tani atau tani miskin.

Petugas tidak cukup datang, bertanya, mencatat, lalu pulang.

Mereka harus ikut mencangkul, memakan makanan yang tersedia, dan tidur di tempat yang sama. Dengan cara itu, petugas tidak hanya mengamati kehidupan petani dari luar, tetapi ikut merasakan ritme hidup mereka secara langsung.

Prinsip itu bahkan menuntut peneliti agar tidak mengubah kehidupan keluarga yang ditempatinya. Petugas tidak boleh datang sebagai dermawan yang membawa standar hidup kota.

Sebab ketika peneliti mengubah keadaan rumah, ia juga mengubah kenyataan yang ingin dipahami.

Di sinilah buku ini terasa menampar banyak penelitian modern. Terlalu banyak orang ingin berbicara tentang kemiskinan tanpa pernah duduk cukup lama bersama orang miskin.

Mereka datang membawa kuesioner. Pulang membawa angka. Lalu merasa sudah memahami kehidupan.

Padahal kenyataan tidak selalu bicara saat perekam dinyalakan.

Kadang kenyataan baru keluar setelah beberapa malam, ketika orang mulai percaya bahwa tamunya tidak datang untuk menghakimi.

“Tiga Sama” Mengubah Cara Kekuasaan Dilihat

Aidit merumuskan “empat jangan” dan “empat harus” dalam penelitian desa.

Petugas tidak boleh tinggal di rumah kaum penghisap. Mereka tidak boleh menggurui petani, merugikan tuan rumah, atau mencatat di hadapan petani.

Sebaliknya, petugas harus menjalankan “tiga sama” secara penuh. Mereka juga harus rendah hati, memahami bahasa lokal, mengenal adat, dan membantu menghadapi kesulitan.

Aturan tentang pencatatan terdengar sederhana. Namun, penjelasannya tajam.

Bagi sebagian petani, orang yang datang sambil mencatat mengingatkan mereka kepada tuan tanah, lintah darat, atau aparat. Catatan sering hadir sebelum pajak, penagihan, penggusuran, dan masalah lain.

Karena itu, percakapan harus berlangsung biasa. Petugas menyimpan detail dalam ingatan, lalu menuliskannya setelah pertemuan selesai.

Metode ini tentu memiliki kelemahan. Ingatan bisa keliru. Kedekatan politik juga bisa memengaruhi interpretasi.

Namun, buku ini memahami satu hal penting: kepercayaan menentukan kualitas informasi.

Orang tidak akan membuka hidupnya kepada seseorang yang sejak awal terlihat seperti pemeriksa.

Desa Dipecah Bukan oleh Sawah, tetapi oleh Kepemilikan

Buku ini tidak melihat desa sebagai komunitas harmonis yang hidup dalam gotong royong tanpa konflik.

Sebaliknya, Aidit membagi masyarakat desa berdasarkan hubungan mereka dengan tanah, modal, tenaga kerja, dan hasil produksi.

Ada tuan tanah, tani kaya, tani sedang, tani miskin, dan buruh tani. Di daerah pantai, pembagian itu muncul melalui juragan perahu, nelayan kaya, nelayan sedang, nelayan miskin, dan buruh nelayan.

Selain itu, terdapat lintah darat, tukang ijon, tengkulak, pejabat desa, pekerja kerajinan, guru, dan buruh perkebunan.

Pembagian ini bukan sekadar soal siapa yang kaya dan siapa yang miskin.

Pertanyaan utamanya lebih tajam, yaitu tentang siapa yang bekerja, siapa yang memiliki, siapa yang menentukan pembagian, dan siapa mengambil keuntungan terbesar?

Buruh tani tidak memiliki tanah. Ia hidup dengan menjual tenaga kerjanya.

Tani miskin memiliki atau menggarap sedikit tanah. Namun, hasilnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga sepanjang tahun.

Tani sedang relatif mampu memenuhi kebutuhan dasar. Meski begitu, utang, gagal panen, inflasi, atau biaya keluarga bisa mendorongnya jatuh miskin.

Sementara itu, tani kaya dan tuan tanah memiliki kemampuan untuk menggunakan tenaga orang lain. Mereka juga dapat menyewakan tanah, memberi pinjaman, membeli hasil sebelum panen, atau menguasai perdagangan.

Desa terlihat tenang karena konflik itu sering tersembunyi di balik kebiasaan.

Penggarap menyerahkan hasil kepada pemilik tanah. Buruh menerima upah rendah. Petani meminjam uang kepada orang yang sama setiap paceklik.

Karena semuanya berulang, penghisapan mulai terlihat seperti tradisi.

Tujuh Setan Desa Bukan Makhluk Gaib

Istilah paling provokatif dalam buku ini tentu saja “tujuh setan desa”.

Namun, Aidit tidak sedang membicarakan makhluk gaib. Ia menunjuk kelompok yang dianggap menguasai kehidupan ekonomi dan politik pedesaan.

Kelompok itu terdiri dari tuan tanah jahat, lintah darat, tukang ijon, kapitalis birokrat, tengkulak jahat, bandit desa, dan penguasa jahat.

Istilah tersebut jelas polemis. Ia bukan kategori akademik yang netral.

Kata “setan” menghapus wilayah abu-abu. Ia memisahkan masyarakat menjadi pihak yang mengisap dan pihak yang diisap.

Strategi bahasa itu efektif untuk mobilisasi. Namun, pembaca hari ini perlu menjaga jarak kritis.

Pemilik tanah tidak selalu bekerja dengan pola yang sama. Pedagang pun tidak otomatis menjadi penghisap. Begitu pula aparat desa, yang belum tentu menjadi perpanjangan kepentingan ekonomi lokal.

Meski begitu, istilah keras tersebut menunjuk masalah yang nyata.

Kemiskinan tidak selalu berdiri sendiri. Kadang ada pihak yang memperoleh keuntungan karena orang lain tidak punya pilihan.

Setan desa, dalam pengertian buku ini, bukan sekadar orang jahat. Ia merupakan posisi dalam sistem yang memungkinkan seseorang mengambil hasil dari kerentanan orang lain.

Ketika Utang Mengambil Tanah Sedikit demi Sedikit

Buku ini menunjukkan bagaimana kemiskinan bekerja sebagai lingkaran.

Petani membutuhkan uang untuk menanam. Ia meminjam kepada lintah darat.

Kemudian panen gagal atau harga turun. Utang tidak terbayar.

Bunga lalu bertambah. Petani menggadaikan pohon, ternak, rumah, atau tanah.

Pada akhirnya, aset berpindah kepada pemberi pinjaman.

Proses itu tidak selalu berlangsung melalui perampasan terbuka. Kadang semua terlihat sah karena terdapat kesepakatan.

Namun, kesepakatan antara orang yang lapar dan orang yang menguasai uang tidak pernah benar-benar setara.

Buku ini mencatat pinjaman dengan bunga ekstrem. Di salah satu desa di Rancah, pinjaman Rp100 harus kembali menjadi Rp400 dalam sebulan.

Di tempat lain, petani meminjam uang, tetapi harus membayar melalui padi saat panen. Ketika ia gagal membayar, bunga masuk ke pokok pinjaman.

Ada pula sistem ijon.

Petani menjual hasil ketika tanaman masih hijau karena membutuhkan uang tunai. Tengkulak membeli dengan harga rendah, lalu menjualnya kembali ketika harga melonjak.

Selain padi, praktik itu menyasar jagung, buah, hasil kerajinan, bahkan tenaga buruh tani.

Buruh menerima uang saat paceklik. Sebagai gantinya, ia wajib bekerja saat panen dengan upah yang sudah dipatok jauh lebih rendah.

Masalahnya bukan petani tidak mampu menghitung.

Mereka sering tahu bahwa kesepakatan itu merugikan. Namun, rasa lapar tidak memberi banyak waktu untuk menunggu pilihan yang lebih baik.

Sawah Ditanam Petani, Risiko Dipanen Penggarap

Penguasaan tanah menjadi pusat analisis buku ini.

Aidit mencatat berbagai sistem bagi hasil seperti maro, mertilu, merlima, dan bentuk lain yang berbeda antardaerah.

Dalam sistem tertentu, penggarap menanggung bibit, tenaga, biaya, dan risiko gagal panen. Namun, pemilik tanah tetap meminta bagian besar.

Jika banjir datang, penggarap menanggung kerugian. Jika hama merusak tanaman, penggarap tetap harus membayar sewa.

Pemilik tanah memperoleh kepastian. Penggarap memikul ketidakpastian.

Kondisi itu menjelaskan mengapa kepemilikan tanah tidak hanya menghasilkan kekayaan. Tanah juga memberi kuasa untuk menentukan kehidupan orang lain.

Siapa yang menguasai tanah dapat menentukan siapa bekerja, berapa hasil yang harus diserahkan, dan siapa boleh bertahan di desa.

Karena itu, konflik agraria dalam buku ini tidak berdiri sebagai konflik ekonomi biasa.

Ia langsung menyentuh kekuasaan.

Nelayan Turun ke Laut, Juragan Menguasai Daratan

Risalah ini tidak berhenti pada petani. Aidit juga membahas kehidupan nelayan di pesisir Jawa Barat.

Di Eretan Wetan, buruh nelayan menghadapi pembagian hasil yang sangat timpang.

Setelah berbagai potongan, seorang buruh nelayan bisa menerima kurang dari tiga persen nilai tangkapan. Sementara itu, bagian juragan secara nyata dapat melampaui 40 persen.

Potongan muncul melalui ongkos lelang, cicilan utang, simpanan wajib, biaya bekal, dan berbagai pungutan koperasi.

Di atas kertas, setiap potongan memiliki nama.

Namun, nama yang rapi tidak otomatis membuat pembagian menjadi adil.

Juragan juga dapat menguasai perahu, perdagangan ikan, garam, pelelangan, utang, dan tanah. Satu orang memegang banyak pintu sekaligus.

Akibatnya, buruh nelayan tidak hanya bergantung pada juragan saat berada di laut. Ia juga bergantung ketika membeli kebutuhan, menjual hasil, atau meminjam uang.

Laut mungkin terbuka. Namun, jalur menuju pasar sudah dikuasai.

Kepala Desa Bisa Menjadi Pelayan atau Perpanjangan Tuan Tanah

Aidit kemudian bergerak dari ekonomi menuju politik desa.

Menurut buku ini, struktur pemerintahan desa masih membawa warisan kekuasaan feodal. Kepala desa memegang posisi kuat, sementara biaya pemerintahan sering dibebankan kepada penduduk.

Pamong desa memperoleh penghasilan melalui tanah bengkok, pancen, pologoro, pungutan, atau bagian tertentu dari kegiatan masyarakat.

Masalah muncul ketika pejabat desa memiliki kepentingan ekonomi yang sama dengan tuan tanah.

Kepala desa tidak lagi berdiri sebagai penengah. Ia berubah menjadi pelindung pihak yang memiliki tanah, uang, dan hubungan kekuasaan.

Buku ini membedakan kepala desa baik dan kepala desa jahat.

Kepala desa baik membuka musyawarah, mengurangi pungutan, melindungi kepentingan petani, dan memperhatikan kesulitan warga.

Sebaliknya, kepala desa jahat mengekang demokrasi, memelihara pungutan, melindungi tuan tanah, melakukan korupsi, dan mengabaikan penderitaan rakyat.

Pembagian itu memang terlalu hitam-putih. Namun, pertanyaannya tetap relevan.

Ketika pemerintah desa membuat keputusan, siapa yang paling dahulu mendapat perlindungan?

Warga yang bekerja di atas tanah atau orang yang menguasai surat tanah?

Tanah, Upah, dan Padi Menjadi Medan Perlawanan

Buku ini tidak hanya menggambarkan penderitaan. Ia mencatat berbagai bentuk perlawanan petani.

Gerakan tersebut berpusat pada apa yang disebut “Gerakan Enam Baik”: menurunkan sewa tanah dan bunga pinjaman, menaikkan upah, produksi, kebudayaan, serta kesadaran politik.

Petani menuntut pelaksanaan Undang-Undang Pokok Agraria dan aturan bagi hasil. Mereka juga membongkar pemindahan tanah fiktif yang bertujuan menghindari pembatasan kepemilikan.

Saat paceklik, muncul “aksi boboko”. Petani menuntut pinjaman beras atau padi dari tuan tanah dan tani kaya yang memiliki persediaan berlebih.

Aidit menegaskan bahwa aksi tersebut bukan bentuk mengemis.

Bagi gerakan tani, padi yang diminta merupakan sebagian kecil hasil kerja yang sebelumnya berpindah melalui sewa, ijon, dan bunga.

Perlawanan juga terjadi di kawasan perkebunan dan kehutanan. Petani mempertahankan tanah yang sudah mereka garap selama bertahun-tahun.

Di titik ini, buku berubah semakin jelas menjadi panduan gerakan.

Data tidak berhenti sebagai pengetahuan. Data dipakai untuk menemukan sasaran, membangun organisasi, dan merancang aksi.

Organisasi Mengubah “Serba Salah” Menjadi “Serba Benar”

Salah satu bagian paling kuat memakai istilah “serba salah” dan “serba benar”.

Sebelum terorganisasi, petani selalu berada di posisi salah.

Ketika meminta hak, mereka dianggap tidak tahu diri. Saat menolak pungutan, mereka dicap pembangkang.

Jika gagal panen, mereka disalahkan karena malas. Namun, ketika mempertahankan tanah, mereka dituduh mengganggu ketertiban.

Apa pun pilihannya, mereka tetap salah.

Organisasi kemudian mengubah posisi tersebut.

Petani mulai memahami bahwa kesulitan mereka bukan selalu akibat kegagalan pribadi. Mereka melihat pola yang sama dalam kehidupan banyak keluarga.

Kesadaran itu mengubah rasa malu menjadi kemarahan. Kemarahan lalu memperoleh arah melalui organisasi.

Namun, buku ini juga menunjukkan sisi yang perlu diperiksa.

Ketika satu organisasi mengklaim dapat menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah, kekuasaan baru ikut lahir.

Pembebasan dari dominasi lama tidak otomatis menjamin kebebasan dari dominasi berikutnya.

Karena itu, organisasi rakyat tetap membutuhkan kritik. Tanpa kritik, alat pembebasan dapat berubah menjadi alat kepatuhan.

Politik Masuk Lewat Sawah, Lagu, dan Koran Tempel

Aidit tidak memisahkan ekonomi, politik, dan kebudayaan.

Menurutnya, petani tidak cukup mendapat tanah atau upah yang lebih baik. Mereka juga harus memperoleh pendidikan politik dan kebudayaan.

Kursus, rapat, lagu, pertunjukan, koran tempel, dan kegiatan seni menjadi bagian dari pengorganisasian.

Kebudayaan tidak dianggap hiburan setelah perjuangan selesai. Ia menjadi alat untuk membangun identitas bersama.

Melalui lagu dan pertunjukan, pengalaman petani memperoleh bahasa. Melalui koran tempel, informasi lokal masuk ke ruang publik.

Orang yang sebelumnya hanya menjadi objek pembicaraan mulai menulis, berbicara, dan menilai pemimpinnya.

Namun, kebudayaan dalam buku ini tetap bergerak di bawah garis politik tertentu.

Seni mendapat nilai ketika mendukung revolusi. Moral mendapat pujian ketika sesuai dengan kebutuhan organisasi.

Di sinilah pembaca perlu berhenti sejenak.

Ketika seni harus selalu melayani satu garis politik, apakah ia masih membuka kesadaran? Atau justru membentuk kepatuhan baru?

Koperasi Tidak Selalu Milik Rakyat

Koperasi biasanya hadir melalui kata-kata yang menenangkan: kebersamaan, gotong royong, dan kesejahteraan.

Buku ini justru membongkar kemungkinan sebaliknya.

Aidit menemukan koperasi yang dikuasai juragan, tuan tanah, tengkulak, atau kapitalis birokrat. Mereka memakai nama koperasi untuk menguasai pembelian padi, pelelangan ikan, distribusi garam, serta berbagai potongan dari hasil kerja.

Koperasi semacam itu tidak membebaskan anggotanya. Ia hanya memberi struktur resmi kepada monopoli lama.

Bentuknya berubah. Pemilik kuasanya tetap sama.

Namun, buku ini juga mencatat lumbung paceklik, arisan, simpan pinjam, dan usaha gotong royong yang tumbuh dari bawah.

Di Sukatani, misalnya, warga membangun usaha bersama dengan sapi, kambing, kerbau, timbangan, lampu petromaks, piring, dan balai pertemuan.

Contoh tersebut menunjukkan perbedaan penting.

Koperasi sejati tidak lahir hanya karena lembaga memakai kata “koperasi”. Ia lahir ketika anggota benar-benar menguasai keputusan dan menikmati manfaatnya.

Nama kelembagaan tidak pernah cukup.

Sebab penghisapan juga bisa memakai stempel resmi.

Informasi Buku

Kaum Tani Mengganyang Setan-Setan Desa: D.N. Aidit Membongkar Kekuasaan di Balik Kemiskinan

Judul: Kaum Tani Mengganyang Setan-Setan Desa

Penulis: D.N. Aidit

Tahun terbit: 1964

Penerbit: Yayasan Pembaruan

Bentuk: Risalah hasil penelitian keadaan kaum tani dan gerakan tani di Jawa Barat

Buku yang Tajam, tetapi Tidak Netral

Kekuatan utama buku ini terletak pada keberaniannya memberi struktur kepada kemiskinan.

Petani miskin tidak digambarkan sebagai manusia yang gagal mengelola hidup. Mereka ditempatkan dalam hubungan tanah, utang, pasar, negara, dan kekuasaan lokal.

Buku ini juga kaya akan detail.

Ia mencatat alat kerja, makanan, luas tanah, cara bagi hasil, besaran bunga, pungutan desa, sampai pembagian pendapatan nelayan.

Detail tersebut membuat kehidupan desa terasa nyata. Kemiskinan tidak lagi berdiri sebagai angka abstrak.

Namun, kekuatan itu datang bersama kelemahan.

Aidit menulis dari posisi politik PKI. Ia tidak menyembunyikan tujuan risetnya untuk memperbesar organisasi dan perjuangan tani.

Karena itu, kategori yang ia gunakan sering mengikuti kesimpulan ideologis yang sudah tersedia.

Tuan tanah masuk sebagai musuh. Buruh tani menjadi kekuatan utama. Organisasi revolusioner menjadi jalan keluar.

Kenyataan kemudian dibaca melalui peta tersebut.

Hal itu tidak otomatis membuat seluruh temuannya salah. Namun, pembaca tidak boleh memperlakukan risalah ini sebagai laporan netral.

Ia merupakan gabungan antara penelitian, propaganda, pendidikan kader, dan strategi mobilisasi.

Justru karena itulah buku ini penting.

Kita dapat melihat bagaimana data lapangan berubah menjadi bahasa politik. Kita juga dapat melihat bagaimana penderitaan memperoleh nama, musuh, dan arah perjuangan.

Buku Ini Tidak Membiarkan Kemiskinan Terlihat Alamiah

Twist terbesar buku ini bukan istilah “setan desa”.

Twist-nya terletak pada penolakan terhadap gagasan bahwa kemiskinan petani merupakan keadaan alamiah.

Petani tidak miskin hanya karena lahannya sempit. Nelayan tidak miskin hanya karena musim buruk.

Kemiskinan juga tumbuh dari pembagian hasil, harga yang dikendalikan, utang berbunga, akses pasar, pungutan, dan perlindungan politik.

Artinya, masalah desa tidak selesai hanya dengan mengajarkan petani bekerja lebih keras.

Mereka sudah bekerja keras.

Masalahnya, hasil kerja itu melewati terlalu banyak tangan sebelum kembali ke rumah mereka.

Kalimat nyentilnya sederhana: orang yang tidak pernah memegang cangkul sering menjadi pihak yang paling banyak menentukan hasil panen.

Dari Ijon ke Pinjaman Digital

Kamu mungkin tidak hidup di desa Jawa Barat tahun 1964. Namun, pola dalam buku ini belum sepenuhnya menghilang.

Nama dan bentuknya bisa berubah.

Tukang ijon dapat muncul sebagai pemberi modal yang mengikat hasil panen. Lintah darat bisa berubah menjadi pinjaman digital berbunga tinggi.

Tengkulak dapat berganti menjadi platform yang menentukan harga dan akses pasar. Koperasi palsu bisa muncul sebagai lembaga yang mengatasnamakan anggota, tetapi dikendalikan segelintir elite.

Bahkan prinsip “tiga sama” masih menantang cara kita memahami masalah sosial.

Benarkah pembuat kebijakan hidup cukup dekat dengan orang yang menanggung dampak kebijakannya?

Sejauh mana peneliti memahami masyarakat, bukan sekadar mengumpulkan data tentang mereka?

Lalu, apakah media benar-benar datang untuk mendengar, atau hanya mencari kutipan yang cocok dengan judul?

Buku ini mengingatkan bahwa jarak menciptakan kebutaan.

Semakin jauh seseorang dari kenyataan sehari-hari, semakin mudah ia menyederhanakan penderitaan orang lain.

Setelah Buku Ditutup, Setan Desa Bisa Berganti Nama

Kaum Tani Mengganyang Setan-Setan Desa bukan buku yang nyaman untuk kita baca.

Bahasanya kasar, kategorinya keras, dan kesimpulan politiknya tegas. Ia tidak memberi banyak ruang bagi keraguan.

Namun, di balik semua itu, risalah ini menyimpan satu pertanyaan yang belum kehilangan kekuatannya.

Siapa yang mendapat keuntungan ketika orang lain terus hidup dalam kesulitan?

Pertanyaan itu lebih penting daripada istilah ideologis yang digunakan Aidit.

Sebab kekuasaan jarang memperkenalkan dirinya sebagai penghisapan. Ia datang sebagai kebiasaan, biaya administrasi, aturan pembagian, bunga pinjaman, perlindungan, atau prosedur resmi.

Semuanya terlihat normal sampai seseorang tinggal cukup lama, bertanya cukup dalam, dan menghitung siapa menerima apa.

Buku ini memang lahir dari pertarungan politik masa lalu. Namun, ia tidak hanya berbicara tentang masa lalu.

Ia mengingatkan kita bahwa kemiskinan sering mempunyai struktur. Struktur memiliki penjaga. Sementara para penjaga selalu pandai mengganti nama.

Setan desa tidak selalu menghilang.

Kadang ia hanya memperbarui logo, mengenakan pakaian resmi, lalu menyebut penghisapan sebagai pelayanan. @tabooo

Tags: AiditKaum Tani Mengganyang Setan-Setan DesaKomunisPetani IndonesiaPKITabooo Book Club

Kamu Melewatkan Ini

D.N. Aidit: Dari Muazin Belitung ke Ketua PKI

D.N. Aidit: Dari Muazin Belitung ke Ketua PKI

by Tabooo
Juli 18, 2026

D.N. Aidit tumbuh dalam keluarga Muslim terpandang di Belitung. Perjalanannya membawanya dari surau, gerakan pemuda, hingga puncak kepemimpinan PKI dan...

Peristiwa Madiun 1948: Sejarah yang Belum Selesai

Peristiwa Madiun 1948: Sejarah yang Belum Selesai

by dimas
Juli 17, 2026

Peristiwa Madiun 1948 menyisakan perdebatan panjang tentang ideologi, politik, dan perebutan narasi sejarah yang terus memengaruhi ingatan kolektif bangsa Indonesia....

Herujuwono: Ketika Pers, Buruh, dan Senjata Melawan Kolonialisme

Herujuwono: Ketika Pers, Buruh, dan Senjata Melawan Kolonialisme

by Tabooo
Juli 17, 2026

Pemimpin pemberontakan. Dari kiri ke kanan, berdiri Dachlan, Herujuwono, tidak dikenal, Samodro. Duduk Baharudin Saleh, Machmud, Sukrawinata. (Sumber Lembaga Sedjarah...

Next Post
Gasnya Sudah Ada dari Dulu. Yang Lama Dicari Ternyata Tombol “Start”

Gasnya Sudah Ada dari Dulu. Yang Lama Dicari Ternyata Tombol "Start"

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id