Eduard Douwes Dekker datang ke Hindia Belanda sebagai bagian dari pemerintahan kolonial, bukan sebagai pembebas. Namun, pengalaman di dalam birokrasi membuatnya melihat penderitaan yang menopang kekuasaan tersebut. Melalui nama Multatuli dan novel Max Havelaar, ia kemudian mengubah pena menjadi senjata untuk melawan sistem yang pernah menggajinya.
Tabooo.id – Eduard Douwes Dekker tidak datang ke Hindia Belanda sebagai pembebas. Ia datang sebagai bagian dari pemerintahan kolonial. Namun, pengalaman di dalam birokrasi membawanya pada satu kesadaran berbahaya. Sistem yang menggajinya hidup dari penderitaan orang lain.
Jangan Salah Orang, Ini Bukan Danudirja Setiabudi
Nama Douwes Dekker sering membuat sejarah terasa lebih rumit daripada seharusnya.
Eduard Douwes Dekker bukan Ernest François Eugène Douwes Dekker. Eduard merupakan penulis Max Havelaar dengan nama pena Multatuli. Sementara itu, Ernest dikenal sebagai Danudirja Setiabudi, pendiri Indische Partij bersama Tjipto Mangoenkoesoemo dan Ki Hadjar Dewantara.
Keduanya masih memiliki hubungan keluarga. Namun, mereka hidup pada masa berbeda dan memilih jalan perjuangan yang berbeda.
Eduard memakai sastra, satire, dan gugatan moral. Ernest bergerak melalui jurnalisme, pendidikan, dan organisasi politik.
Kesalahan membedakan mereka bukan sekadar kekeliruan nama. Kekeliruan itu menunjukkan bagaimana sejarah sering diringkas sampai tokoh-tokohnya kehilangan wajah.
Ia Datang sebagai Pegawai, Bukan Penentang Kolonialisme
Eduard lahir di Amsterdam pada 2 Maret 1820. Ayahnya bekerja sebagai kapten kapal niaga, sedangkan keluarganya hidup dalam kondisi ekonomi yang beberapa kali berubah.
Ia sempat masuk Sekolah Latin. Namun, Eduard tidak cocok dengan sistem pendidikan yang kaku. Prestasinya menurun, lalu ayahnya menempatkannya di sebuah kantor dagang tekstil.
Pada akhir 1838, sang ayah membawanya berlayar menuju Hindia Belanda. Eduard tiba di Batavia pada Januari 1839 dan mulai bekerja sebagai juru tulis di lembaga pengawasan keuangan kolonial.
Tidak ada kisah kepahlawanan pada bagian ini. Eduard hidup dari sistem kolonial. Ia menerima jabatan, gaji, dan kewenangan dari pemerintahan yang menguasai tanah jajahan.
Namun, posisi itu memberinya akses untuk melihat cara kolonialisme bekerja dari dalam.
Kariernya Tidak Pernah Benar-Benar Tenang
Eduard bukan pegawai teladan yang selalu rapi, patuh, dan berhasil.
Ia pernah bertugas di Natal, Sumatra Barat. Di sana, ia menghadapi masalah administrasi dan defisit kas. Pemerintah mencopotnya sementara, menahannya di Padang, dan menghentikan gajinya.
Setelah namanya pulih, ia kembali bekerja di Purwakarta dan Bagelen. Kinerjanya membaik. Bahkan, atasannya memberikan penilaian positif.
Kariernya kemudian membawanya ke Manado dan Ambon. Namun, pola yang sama terus muncul. Eduard mampu menunjukkan kemampuan besar, tetapi ia sulit menyesuaikan diri dengan hierarki.
Ia idealis, sensitif, mudah berkonflik, dan sering bertindak lebih cepat daripada prosedur.
Citra pahlawan biasanya membutuhkan tokoh yang tenang dan konsisten. Eduard tidak menyediakan kemewahan itu.
Lebak Membuat Semua Kepura-puraan Runtuh
Pada Januari 1856, pemerintah kolonial mengangkat Eduard sebagai Asisten Residen Lebak, Banten.
Di sana, ia berhadapan dengan kemiskinan yang tidak lahir secara kebetulan. Rakyat menanggung tekanan dari dua arah.
Pemerintah kolonial menuntut hasil bumi dan menjaga kepentingan ekonomi Belanda. Sementara itu, sebagian elite lokal memakai kekuasaan tradisional untuk meminta tenaga, hasil pertanian, barang, dan ternak dari rakyat.
Kolonialisme tidak selalu bekerja dengan tentara yang mengacungkan senapan. Kadang, ia bekerja melalui meja administrasi, kepala daerah, upeti, dan pejabat yang memilih diam.
Eduard melihat dugaan penyalahgunaan kekuasaan oleh Bupati Lebak, Raden Adipati Karta Natanegara. Ia kemudian mengumpulkan kesaksian dan meminta atasannya mengambil tindakan.
Namun, Residen Banten C.P. Brest van Kempen menolak langkah tersebut. Ia menilai Eduard belum membawa bukti administratif yang memadai. Selain itu, Eduard dianggap melangkahi tata kerja birokrasi.
Di sinilah konflik sebenarnya terlihat.
Birokrasi kolonial mengaku menjaga hukum. Namun, sistem itu juga membutuhkan elite lokal agar kekuasaan tetap berjalan murah dan stabil.
Rakyat boleh menderita. Yang penting, struktur tidak terganggu.
Ketika Membela Rakyat Justru Dianggap Mengganggu Pemerintahan
Eduard meminta pemerintah menonaktifkan bupati selama penyelidikan. Namun, atasannya justru menilai tindakannya terlalu agresif.
Pemerintah kemudian berencana memindahkannya ke Ngawi. Eduard menolak menerima kekalahan itu sebagai perpindahan biasa.
Pada 29 Maret 1856, ia mengundurkan diri dari pegawai pemerintah.
Keputusan tersebut sering dibaca sebagai puncak keberanian moral. Namun, kenyataannya lebih rumit.
Eduard memang melihat penderitaan rakyat. Akan tetapi, ia juga membawa ego, kemarahan, dan keyakinan kuat bahwa penilaiannya paling benar. Ia melawan ketidakadilan, tetapi tidak selalu memakai strategi yang mampu bertahan di dalam sistem.
Permasalahannya, sistem sering memakai kelemahan pribadi pembangkang untuk menghindari pembicaraan tentang kejahatannya sendiri.
Pemerintah bisa menyebut Eduard tidak disiplin. Namun, label itu tidak otomatis menghapus penderitaan rakyat Lebak.
Ketika Birokrasi Menolak Mendengar, Ia Memilih Menulis
Setelah meninggalkan pemerintahan, kehidupan Eduard tidak langsung berubah menjadi kisah kemenangan.
Ia mengalami kesulitan ekonomi. Utang dan kebiasaan berjudi semakin memperburuk kondisinya. Selain itu, kehidupan keluarganya ikut menanggung dampak dari keputusan-keputusannya.
Pada akhir 1859, Eduard mulai menulis naskah yang berangkat dari pengalamannya di Lebak.
Pada Mei 1860, naskah itu terbit dengan judul Max Havelaar, of de koffij-veilingen der Nederlandsche Handel-Maatschappij. Eduard memakai nama pena Multatuli, yang berarti kurang lebih “aku telah banyak menderita”.
Nama itu terdengar seperti pengakuan. Namun, ia juga terasa seperti tuduhan.
Multatuli tidak hanya berbicara tentang penderitaannya sendiri. Ia membawa penderitaan rakyat jajahan ke ruang baca masyarakat Eropa.
Riwayat kehidupan, konflik Lebak, karya sastra, dan perdebatan mengenai citra Multatuli menjadi dasar utama penulisan artikel ini.
Max Havelaar Tidak Membiarkan Pembaca Tetap Nyaman
Max Havelaar tidak bekerja seperti laporan resmi.
Eduard membangun cerita melalui beberapa lapisan narasi. Ia menghadirkan Batavus Droogstoppel, pedagang kopi Amsterdam yang kikir, munafik, dan merasa dirinya bermoral.
Droogstoppel menikmati keuntungan dari perdagangan kolonial. Namun, ia tidak ingin mengetahui penderitaan yang membuat keuntungan itu mungkin.
Tokoh tersebut bukan sekadar karakter lucu. Ia merupakan cermin kelas menengah Eropa yang ingin menikmati kopi tanpa melihat darah di belakangnya.
Kemudian muncul Sjaalman, penulis miskin yang membawa naskah dan pengalaman tentang Hindia. Dari sana, pembaca bertemu Max Havelaar, pejabat idealis yang mencoba melawan penindasan di Lebak.
Namun, bagian paling emosional muncul melalui Saidjah dan Adinda.
Kisah mereka mengubah rakyat jajahan dari angka produksi menjadi manusia. Mereka punya cinta, keluarga, ketakutan, kehilangan, dan masa depan yang dirampas.
Kolonialisme selalu lebih mudah dipertahankan ketika korban hanya muncul sebagai statistik.
Sastra membuat statistik itu kembali memiliki wajah.
Seorang Kolonial yang Mengkritik Kolonialisme
Eduard Douwes Dekker tetap membawa cara pandang seorang Eropa abad ke-19.
Ia tidak sepenuhnya keluar dari pandangan paternalistik. Dalam beberapa bagian, ia melihat dirinya sebagai pejabat bermoral yang harus melindungi rakyat Jawa.
Posisi tersebut masih menempatkan orang Eropa sebagai pusat tindakan. Rakyat muncul sebagai pihak yang perlu diselamatkan.
Karena itu, menyebut Multatuli sebagai tokoh antikolonial tanpa catatan akan menyederhanakan masalah.
Eduard Douwes Dekker bukan revolusioner yang menuntut kemerdekaan Indonesia. Ia juga tidak membangun gerakan politik bersama rakyat jajahan. Namun, ia melakukan sesuatu yang tetap penting.
Eduard memakai otoritasnya sebagai mantan pejabat untuk membongkar kebohongan moral pemerintahan kolonial. Ia tidak menghancurkan kolonialisme dari luar, tetapi membuat retakan dari dalam.
Citra Pahlawan Tidak Pernah Sepenuhnya Cocok
Setelah Max Havelaar terbit, Multatuli memperoleh popularitas besar. Namun, ketenaran tidak otomatis memberinya kehidupan yang stabil.
Eduard Douwes Dekker terus menulis tentang politik, agama, pendidikan, perempuan, dan kemunafikan masyarakat borjuis. Melalui kumpulan tulisan Ideen, ia mengembangkan kritiknya jauh melampaui persoalan Lebak.
Namun, kehidupan pribadinya tetap penuh kontradiksi.
Ia bisa membela rakyat yang tertindas, tetapi membuat keluarganya hidup dalam ketidakpastian. Ia mengecam kemunafikan, tetapi juga memiliki ego yang besar. Ia menuntut keadilan, tetapi sering sulit menjaga hubungan dengan orang terdekatnya.
Kontradiksi itu tidak harus disembunyikan.
Tokoh sejarah tidak menjadi penting karena mereka sempurna. Mereka menjadi penting karena pilihan, kesalahan, dan keberaniannya memperlihatkan konflik pada zamannya.
Kritik terhadap Multatuli Tidak Bisa Diabaikan
Sejarawan dan kritikus sastra Rob Nieuwenhuys kemudian mempertanyakan mitos kepahlawanan Multatuli.
Menurut pandangan kritis tersebut, Eduard tidak sepenuhnya memahami tatanan sosial dan adat di Lebak. Ia dinilai bertindak terburu-buru, mengabaikan prosedur, dan membesar-besarkan dirinya melalui karakter Max Havelaar.
Kritik itu penting. Sebab, sejarah tidak boleh berubah menjadi altar pemujaan. Namun, kritik terhadap motif Eduard juga tidak otomatis membatalkan penderitaan rakyat Lebak.
Seseorang bisa memiliki ego besar dan tetap mengatakan sesuatu yang benar. Seorang pejabat bisa gagal secara administratif, tetapi tetap melihat kejahatan yang sengaja diabaikan atasannya.
Kita sering ingin sejarah memberi pilihan sederhana: pahlawan atau penjahat. Padahal manusia hampir selalu lebih berantakan dari itu.
Buku Itu Tidak Membunuh Kolonialisme Sendirian
Max Havelaar memicu perdebatan besar di Belanda. Buku tersebut ikut memperlebar kritik terhadap Sistem Tanam Paksa dan eksploitasi kolonial. Namun, kolonialisme tidak runtuh hanya karena satu novel.
Perubahan muncul melalui tekanan politik, pergeseran ekonomi, perlawanan rakyat, gerakan kaum terdidik, dan perkembangan sejarah yang panjang.
Meski begitu, buku tersebut memberi sesuatu yang tidak bisa diberikan laporan perdagangan.
Novel ini memberi rasa malu.
Belanda selama ini membangun citra sebagai negeri beradab. Namun, kekayaannya tumbuh dari tanah jajahan yang rakyatnya diperas.
Multatuli menyeret kontradiksi itu ke ruang publik. Ia membuat masyarakat Belanda sulit mengatakan bahwa mereka tidak tahu.
Eduard Douwes Dekker Pergi, tetapi Gangguannya Tidak Hilang
Eduard meninggalkan Belanda dan menetap di Jerman. Ia terus menulis, bekerja sebagai koresponden, dan mengembangkan gagasan-gagasannya.
Ia meninggal pada 19 Februari 1887 di Nieder-Ingelheim, Jerman. Namun, kisahnya tidak berhenti bersama kematian.
Di Amsterdam, rumah kelahirannya menjadi Museum Multatuli. Sementara itu, Rangkasbitung memiliki Museum Multatuli yang menghubungkan kembali kisah Lebak dengan sejarah kolonialisme Indonesia.
Ironisnya, nama Multatuli kadang lebih dikenal daripada masalah yang ia bongkar.
Orang mengingat Saidjah dan Adinda sebagai kisah cinta tragis. Namun, mereka lupa bahwa tragedi itu lahir dari struktur kekuasaan.
Ketika penderitaan berubah menjadi nostalgia, sejarah kehilangan giginya.
Saat Sistem Menyerang Orang yang Membongkarnya
Kisah Multatuli bukan hanya cerita tentang seorang Belanda yang marah kepada pemerintah kolonial. Tapi menunjukkan bahwa sistem tidak selalu runtuh ketika kebenaran terbongkar.
Birokrasi bisa mengakui adanya masalah, lalu menghukum orang yang menyampaikannya. Institusi dapat membicarakan integritas, tetapi tetap melindungi stabilitas. Kekuasaan bahkan bisa memakai prosedur untuk menghindari substansi.
Pola itu belum hilang.
Hari ini, seseorang bisa membawa data tentang ketidakadilan. Namun, organisasi justru menyerang cara penyampaiannya. Seorang pegawai dapat menunjukkan penyimpangan. Akan tetapi, pimpinan malah menuduhnya tidak loyal.
Kita sering lebih marah kepada orang yang membuat suasana tidak nyaman daripada kepada masalah yang ia bongkar. Sebab, kejahatan yang rapi terasa lebih aman daripada kebenaran yang berisik.
Warisannya Bukan Kesucian, tetapi Gangguan
Eduard Douwes Dekker bukan pahlawan suci. Ia seorang mantan pegawai kolonial, penulis besar, pejabat bermasalah, suami yang rumit, penjudi, pemikir bebas, dan pengkritik sistem yang pernah membesarkannya. Namun, justru karena itu, kisahnya terasa lebih penting.
Ia menunjukkan bahwa keberanian tidak selalu lahir dari manusia yang sempurna. Kadang, keberanian muncul dari seseorang yang penuh kekurangan, tetapi tidak sanggup terus berpura-pura tidak melihat.
Multatuli tidak membebaskan Indonesia. Namun, ia membantu merusak ketenangan moral orang-orang yang menikmati kolonialisme.
Kadang, perubahan memang tidak dimulai dari kemenangan. Namun, dimulai ketika seseorang membuat kebohongan tidak lagi terasa nyaman. @tabooo







