Desain Equality.exe Modified mengkritik ketimpangan modern melalui simbol timbangan yang mempertanyakan makna keadilan dan kesetaraan.
Tabooo.id – Kesetaraan selalu terdengar indah. Negara menjadikannya janji, konstitusi menuliskannya sebagai hak dasar, dan para pemimpin mengulanginya dalam hampir setiap pidato. Meski begitu, kehidupan sehari-hari sering memperlihatkan wajah yang berbeda.
Di situlah sebuah pertanyaan mulai muncul.
Apakah timbangan keadilan masih mengukur nilai manusia, atau sekarang lebih sibuk menghitung nilai uang?
Pertanyaan itu menjadi napas utama desain terbaru TABOOO Merch bertajuk Equality.exe Modified.
Sekilas, ilustrasi ini terlihat sederhana. Sebuah timbangan berdiri tegak di tengah bidang hitam. Akan tetapi, setiap elemen di atasnya segera mengubah makna simbol tersebut.
Pada sisi kiri, ratusan orang berkumpul sambil mengangkat bendera merah. Mereka mewakili masyarakat, pekerja, suara publik, dan harapan tentang kekuatan kolektif. Sementara itu, sisi kanan hanya menampilkan satu sosok yang bersandar santai di atas tumpukan uang.
Ironisnya, satu figur itu mampu menandingi berat ratusan manusia.
Pemandangan tersebut tidak menghadirkan ledakan, darah, ataupun kekerasan. Justru karena tampil tenang, ilustrasi ini terasa jauh lebih mengusik. Kekuasaan modern jarang memaksa orang dengan ancaman. Sebaliknya, ia memengaruhi kehidupan melalui akses, privilese, jaringan, dan modal.
Ketimpangan Datang Tanpa Suara
Ketidakadilan masa kini tidak selalu hadir dalam bentuk penindasan yang mudah dikenali. Banyak orang justru menemukannya di balik prosedur, regulasi, atau kebijakan yang tampak sah.
Akibatnya, masyarakat sering menerima keadaan tanpa mempertanyakan arah sistem. Hak memang tersedia bagi semua orang. Namun, kesempatan untuk menikmati hak tersebut tidak pernah benar-benar setara.
Sebagian orang dapat menyampaikan pendapat dengan mudah. Kelompok lain harus berjuang agar suaranya sekadar terdengar.
Ada orang yang memperoleh perlindungan hukum dengan cepat. Pada saat yang sama, banyak warga menghabiskan tenaga, waktu, bahkan biaya besar hanya untuk mencari keadilan.
Perbedaan itulah yang menjadi inti kritik desain ini.
Masalah utamanya bukan sekadar keberadaan uang.
Persoalan sesungguhnya muncul ketika uang mulai menentukan nilai manusia.
Mengapa Menggunakan “.exe”?
Pemilihan istilah .exe bukan sekadar permainan visual.
Dalam dunia komputer, file .exe menjalankan seluruh sistem. Ketika seseorang mengubah file tersebut, cara kerja program ikut berubah meskipun tampilannya tetap sama.
Metafora itu terasa dekat dengan realitas sosial.
Kesetaraan masih hadir dalam pidato.
Demokrasi masih berjalan melalui pemilu.
Hukum tetap berdiri sebagai fondasi negara.
Namun, hasil akhirnya sering memunculkan tanda tanya baru.
Akses pendidikan masih bergantung pada kemampuan ekonomi.
Proses hukum sering menghasilkan pengalaman yang berbeda ketika berhadapan dengan kekuasaan.
Kesempatan hidup yang lebih baik lebih mudah diraih oleh mereka yang memiliki modal, jaringan, atau pengaruh.
Karena itulah judul Equality.exe Modified terasa begitu relevan.
Desain ini mengajak publik membayangkan satu kemungkinan yang mengganggu: konsep kesetaraan mungkin tidak pernah hilang, tetapi sistem perlahan mengubah cara kerjanya hingga maknanya ikut bergeser.
Custom Socialism: Ketika Ide Besar Kehilangan Ruhnya
Bagian belakang kaus memuat tulisan Custom Socialism disertai kalimat Terms of Equality Apply.
Pilihan kata tersebut sengaja memancing tafsir.
Desain ini tidak mengampanyekan sosialisme. Karya ini juga tidak menyerang kapitalisme. Sebaliknya, ilustrasi tersebut mengkritik kecenderungan setiap sistem yang menyesuaikan nilai keadilan dengan kepentingan tertentu.
Kapitalisme menawarkan kesempatan.
Demokrasi menjanjikan kesetaraan.
Sosialisme mengejar pemerataan.
Akan tetapi, praktik sosial sering bergerak ke arah lain. Kepentingan politik, kekuatan ekonomi, dan relasi kuasa perlahan mengubah makna setiap konsep tersebut.
Hasil akhirnya melahirkan satu ironi.
Kesetaraan tetap hadir sebagai slogan.
Privilese justru bekerja sebagai aturan.
Kaus yang Mengajak Orang Berpikir
Sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa karya visual mampu bertahan lebih lama daripada pidato politik. Poster, mural, musik, film, hingga pakaian sering menjadi ruang lahirnya kritik sosial.
Karena itu, kaus tidak lagi sekadar menjadi pelengkap gaya berpakaian.
Pemakainya membawa sebuah gagasan.
Setiap tatapan dapat memicu percakapan.
Percakapan itu kemudian berkembang menjadi ruang refleksi mengenai keadilan, kekuasaan, dan nilai manusia.
Di sinilah seni menjalankan perannya.
Alih-alih memberi jawaban, seni mengundang publik untuk mempertanyakan sesuatu yang selama ini mereka anggap normal.
Yang Kehilangan Bobot Bukan Timbangannya
Ilustrasi ini sebenarnya tidak mengukur berat manusia ataupun uang.
Karya ini menguji cara sebuah sistem memberi nilai kepada manusia.
Ketika modal memiliki pengaruh yang lebih besar daripada suara publik, masyarakat tidak hanya kehilangan rasa keadilan. Mereka juga mulai kehilangan kepercayaan terhadap sistem yang seharusnya melindungi semua orang.
Proses itu berlangsung perlahan.
Tidak ada ledakan.
Tidak ada revolusi.
Namun, ketimpangan terus tumbuh karena terlalu banyak orang menganggapnya sebagai kenyataan yang wajar.
Di titik itulah ancaman terbesar muncul.
Sebuah sistem tidak runtuh karena kritik. Sistem kehilangan masa depannya ketika masyarakat berhenti percaya bahwa keadilan masih mungkin terwujud.
Analisis TABOOO
Equality.exe Modified mengubah sebuah timbangan menjadi metafora tentang relasi antara manusia, kekuasaan, dan modal. Desain ini tidak menunjuk satu negara, satu ideologi, atau satu kelompok tertentu. Sebaliknya, karya tersebut mengajak publik menguji kembali cara sebuah sistem memberi nilai kepada manusia. Ketika akses, privilese, dan kekuatan ekonomi mulai menentukan siapa yang lebih didengar, konsep kesetaraan perlahan kehilangan makna. Kritik terbesar desain ini bukan terletak pada gambar uang atau kerumunan manusia, melainkan pada pertanyaan yang terus menggantung apakah sistem masih melayani manusia, atau manusia justru mulai menyesuaikan diri dengan sistem yang berubah?
Kesetaraan jarang mati karena seseorang menghancurkannya. Kesetaraan lebih sering kehilangan bobot ketika masyarakat membiarkan sistem mengubah maknanya sedikit demi sedikit, lalu menyebut perubahan itu sebagai sesuatu yang normal. @dimas







