Sabtu, Juni 27, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Raden Ronggo Prawirodirjo III: Api Perlawanan dari Madiun

by dimas
Juni 27, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter
Raden Ronggo Prawirodirjo III menjadi simbol perlawanan dari Madiun. Kisahnya membuktikan bahwa harga diri Jawa tak pernah mudah ditaklukkan.

Tabooo.id – Sejarah sering mengabadikan para pemenang. Namun, tanah Jawa justru tumbuh dari keberanian mereka yang rela kalah demi menjaga harga diri.

Di antara nama-nama yang perlahan hilang dari ingatan publik, Raden Ronggo Prawirodirjo III tetap berdiri sebagai salah satu simbol perlawanan Jawa.

Ia bukan raja. Ia juga bukan pendiri kerajaan. Namun, saat kolonialisme mulai mencengkeram Kesultanan Yogyakarta, Ronggo memilih melawan.

Pilihan itu membuat sejarah mengenalnya sebagai “Banteng Terakhir.”

Madiun Menjadi Benteng Perlawanan

Pada 1796, Sultan Hamengkubuwono II mengangkat Raden Ronggo Prawirodirjo III sebagai Bupati Wedana Mancanegara Timur yang berkedudukan di Madiun.

Ini Belum Selesai

Kirab Pusaka PSHW-TM: Langkah Sunyi yang Menyatukan Persaudaraan

Bento, Bongkar, dan Generasi yang Masih Marah: Mengapa SWAMI Tak Pernah Usang?

Jabatan itu membawa tanggung jawab besar. Madiun menjaga wilayah timur Kesultanan Yogyakarta sekaligus mengawasi jalur perdagangan dan pertahanan.

Ronggo tidak sekadar memimpin pemerintahan. Ia mengubah Madiun menjadi benteng politik ketika pengaruh kolonial mulai menekan keraton.

Ronggo Memilih Melawan

Ronggo menolak campur tangan kolonial dalam urusan pemerintahan Jawa.

Ia beberapa kali menunda keputusan yang menguntungkan Belanda. Sikap itu membuat pejabat kolonial frustrasi. Mereka kesulitan mengendalikan Madiun maupun Keraton Yogyakarta.

Bagi Ronggo, persoalannya melampaui urusan politik.

Ia melihat kolonialisme sebagai ancaman terhadap martabat Jawa. Saat Belanda menguasai birokrasi, mengeksploitasi hutan jati, dan memangkas kewenangan bangsawan, Ronggo memilih berdiri di barisan perlawanan.

Api Perlawanan Tahun 1810

Ketegangan itu memuncak pada 1810.

Ronggo mengumpulkan prajurit, petani, tokoh agama, dan bangsawan yang masih percaya pada kedaulatan Jawa. Dari Madiun, mereka membangun kekuatan untuk menghadapi kolonial.

Pasukannya bergerak dengan taktik gerilya.

Mereka menyerang pos-pos Belanda, mengganggu jalur logistik, dan memanfaatkan dukungan rakyat. Strategi itu sempat mengguncang pertahanan kolonial di Madiun.

Namun, Belanda segera merespons.

Mereka mengirim pasukan tambahan lengkap dengan artileri dan kavaleri. Keunggulan persenjataan akhirnya mematahkan perlawanan yang dibangun Ronggo bersama rakyatnya.

Meski kalah secara militer, Ronggo tidak pernah menyerahkan keyakinannya.

Semangat yang Terus Menyala

Perjuangan Ronggo tidak berhenti bersama gugurnya sang bupati.

Putranya, Sentot Ali Basyah Prawirodirjo, kemudian tampil sebagai salah satu panglima utama Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa.

Semangat perlawanan pun terus mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Warisan itu membuktikan bahwa keberanian tidak pernah berhenti pada satu nama.

Taboooo Vibes

Raden Ronggo memang tidak memenangkan perang.

Namun, ia memenangkan tempat dalam sejarah.

Ia menunjukkan bahwa kolonialisme tidak selalu datang melalui dentuman meriam. Kolonialisme juga hadir lewat aturan, tekanan politik, dan kompromi yang perlahan menggerus kedaulatan.

Karena itu, sejarah mengenalnya sebagai “Banteng Terakhir.”

Julukan itu bukan sekadar simbol keberanian.

Julukan itu menjadi pengingat bahwa seseorang dapat kehilangan wilayah, tetapi tetap mempertahankan martabat.

Di tengah zaman yang sering mengukur kemenangan lewat kekuasaan, Raden Ronggo memilih ukuran yang berbeda.

Ia memilih kehormatan.

Dan pilihan itulah yang membuat namanya tetap hidup lebih dari dua abad kemudian. @dimas

Tags: Banteng TerakhirKesultanan YogyakartaKolonialisme BelandaPerlawanan JawaRaden Ronggo Prawirodirjo IIISejarah Madiun

Kamu Melewatkan Ini

Banteng Terakhir Kesultanan Yogyakarta: Kisah Raden Ronggo dari Madiun

Banteng Terakhir Kesultanan Yogyakarta: Kisah Raden Ronggo dari Madiun

by dimas
Juni 27, 2026

Banteng Terakhir Kesultanan Yogyakarta menghidupkan kisah Raden Ronggo Prawirodirjo III dari Madiun, sosok yang berani melawan kolonialisme sebelum Perang Jawa....

Akhlis Syamsal Qomar, Sejarawan Muda Penjaga Ingatan Jawa

Akhlis Syamsal Qomar, Sejarawan Muda Penjaga Ingatan Jawa

by dimas
Juni 26, 2026

Akhlis Syamsal Qomar dikenal sebagai sejarawan muda asal Madiun yang menjaga ingatan Jawa melalui riset, arsip, buku, dan karya ilmiah....

Panembahan Ronggo Jumeno, Purabaya dan Akar Sejarah Madiun

Panembahan Ronggo Jumeno, Purabaya dan Akar Sejarah Madiun

by dimas
Juni 21, 2026

Panembahan Ronggo Jumeno menjadi tokoh penting dalam sejarah Purabaya. Simak jejak konflik dengan Mataram yang membentuk identitas awal Madiun. Tabooo.id...

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id