Raden Ronggo Prawirodirjo III menjadi simbol perlawanan dari Madiun. Kisahnya membuktikan bahwa harga diri Jawa tak pernah mudah ditaklukkan.
Tabooo.id – Sejarah sering mengabadikan para pemenang. Namun, tanah Jawa justru tumbuh dari keberanian mereka yang rela kalah demi menjaga harga diri.
Di antara nama-nama yang perlahan hilang dari ingatan publik, Raden Ronggo Prawirodirjo III tetap berdiri sebagai salah satu simbol perlawanan Jawa.
Ia bukan raja. Ia juga bukan pendiri kerajaan. Namun, saat kolonialisme mulai mencengkeram Kesultanan Yogyakarta, Ronggo memilih melawan.
Pilihan itu membuat sejarah mengenalnya sebagai “Banteng Terakhir.”
Madiun Menjadi Benteng Perlawanan
Pada 1796, Sultan Hamengkubuwono II mengangkat Raden Ronggo Prawirodirjo III sebagai Bupati Wedana Mancanegara Timur yang berkedudukan di Madiun.
Jabatan itu membawa tanggung jawab besar. Madiun menjaga wilayah timur Kesultanan Yogyakarta sekaligus mengawasi jalur perdagangan dan pertahanan.
Ronggo tidak sekadar memimpin pemerintahan. Ia mengubah Madiun menjadi benteng politik ketika pengaruh kolonial mulai menekan keraton.
Ronggo Memilih Melawan
Ronggo menolak campur tangan kolonial dalam urusan pemerintahan Jawa.
Ia beberapa kali menunda keputusan yang menguntungkan Belanda. Sikap itu membuat pejabat kolonial frustrasi. Mereka kesulitan mengendalikan Madiun maupun Keraton Yogyakarta.
Bagi Ronggo, persoalannya melampaui urusan politik.
Ia melihat kolonialisme sebagai ancaman terhadap martabat Jawa. Saat Belanda menguasai birokrasi, mengeksploitasi hutan jati, dan memangkas kewenangan bangsawan, Ronggo memilih berdiri di barisan perlawanan.
Api Perlawanan Tahun 1810
Ketegangan itu memuncak pada 1810.
Ronggo mengumpulkan prajurit, petani, tokoh agama, dan bangsawan yang masih percaya pada kedaulatan Jawa. Dari Madiun, mereka membangun kekuatan untuk menghadapi kolonial.
Pasukannya bergerak dengan taktik gerilya.
Mereka menyerang pos-pos Belanda, mengganggu jalur logistik, dan memanfaatkan dukungan rakyat. Strategi itu sempat mengguncang pertahanan kolonial di Madiun.
Namun, Belanda segera merespons.
Mereka mengirim pasukan tambahan lengkap dengan artileri dan kavaleri. Keunggulan persenjataan akhirnya mematahkan perlawanan yang dibangun Ronggo bersama rakyatnya.
Meski kalah secara militer, Ronggo tidak pernah menyerahkan keyakinannya.
Semangat yang Terus Menyala
Perjuangan Ronggo tidak berhenti bersama gugurnya sang bupati.
Putranya, Sentot Ali Basyah Prawirodirjo, kemudian tampil sebagai salah satu panglima utama Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa.
Semangat perlawanan pun terus mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Warisan itu membuktikan bahwa keberanian tidak pernah berhenti pada satu nama.
Taboooo Vibes
Raden Ronggo memang tidak memenangkan perang.
Namun, ia memenangkan tempat dalam sejarah.
Ia menunjukkan bahwa kolonialisme tidak selalu datang melalui dentuman meriam. Kolonialisme juga hadir lewat aturan, tekanan politik, dan kompromi yang perlahan menggerus kedaulatan.
Karena itu, sejarah mengenalnya sebagai “Banteng Terakhir.”
Julukan itu bukan sekadar simbol keberanian.
Julukan itu menjadi pengingat bahwa seseorang dapat kehilangan wilayah, tetapi tetap mempertahankan martabat.
Di tengah zaman yang sering mengukur kemenangan lewat kekuasaan, Raden Ronggo memilih ukuran yang berbeda.
Ia memilih kehormatan.
Dan pilihan itulah yang membuat namanya tetap hidup lebih dari dua abad kemudian. @dimas






