Suara gamelan yang lahir di tanah Jawa kini bergema di ruang-ruang akademik Amerika. Wayang yang dulu tumbuh di desa-desa Jawa, kini dipelajari oleh mahasiswa dari berbagai negara. Fenomena ini tidak terjadi begitu saja. Selama puluhan tahun, Ki Midiyanto membangun jembatan budaya yang menghubungkan tradisi Jawa dengan dunia global.
Tabooo.id: Dari Wonogiri, Jawa Tengah, seorang dalang membawa suara gamelan dan kisah wayang menyeberangi samudra. Bukan untuk nostalgia. Bukan pula sekadar pertunjukan budaya. Ia membawa sebuah pertanyaan yang diam-diam mengganggu: mengapa dunia begitu serius menjaga warisan budaya Jawa, sementara sebagian dari kita mulai menganggapnya biasa saja?
Nama itu adalah Ki Midiyanto.
Namun cerita ini bukan sekadar kisah sukses seorang seniman Indonesia di luar negeri. Cerita ini jauh lebih besar dari itu.
Dari Kampung ke Kampus Dunia
Ki Midiyanto lahir di Wonogiri dan berasal dari garis keturunan dalang yang telah berlangsung selama sebelas generasi. Sejak kecil, ia tumbuh dalam lingkungan yang menjadikan wayang dan gamelan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Kemudian ia menempuh pendidikan formal seni di Surakarta sebelum memulai perjalanan internasionalnya.
Pada pertengahan 1980-an, ia mulai mengajar dan tampil di Amerika Serikat. Tidak lama kemudian, ia memimpin ensambel gamelan di Lewis & Clark College dan ikut membangun Gamelan Sari Raras di UC Berkeley, yang hingga kini menjadi salah satu pusat pembelajaran gamelan Jawa paling aktif di Amerika.
Bagi sebagian orang, ini mungkin terdengar seperti pencapaian pribadi.
Padahal yang sedang terjadi sebenarnya adalah perpindahan pengetahuan budaya dalam skala global.
Ketika Gamelan Menemukan Rumah Baru
Ada ironi yang sulit diabaikan di sini.
Di Indonesia, gamelan sering dianggap sebagai bagian dari masa lalu. Banyak anak muda mengenalnya sekilas saat pelajaran sekolah, lalu melupakannya setelah lulus.
Di sisi lain, kampus-kampus Amerika justru mengalokasikan ruang, dana, tenaga pengajar, dan program akademik untuk mempelajarinya secara serius. Mereka tidak hanya memainkan gamelan. Mereka meneliti sejarahnya, memahami filosofinya, bahkan merawat instrumennya dengan penuh perhatian.
Ini menciptakan pertanyaan yang tidak nyaman.
Apakah kita benar-benar menghargai warisan budaya yang kita miliki?
Atau, kita baru menganggapnya penting ketika dunia luar mengakuinya?
Wayang Bukan Museum
Banyak orang mengira wayang adalah artefak budaya yang hanya cocok disimpan di museum.
Ki Midiyanto justru menunjukkan hal sebaliknya.
Dalam berbagai pertunjukan internasional, ia menggunakan cerita-cerita klasik untuk membahas isu modern. Salah satu contohnya adalah lakon Babat Wanamarta yang diadaptasi untuk mengangkat isu deforestasi dan kerusakan lingkungan akibat ekspansi industri modern.
Di tangan seorang dalang, kisah berusia ratusan tahun bisa berbicara tentang masalah abad ke-21. Wayang tidak kehilangan relevansinya. Yang sering hilang justru kemampuan kita untuk membacanya kembali.
Bukan Sekadar Kisah Dalang
Di sinilah cerita Ki Midiyanto berubah menjadi sesuatu yang lebih besar.
Banyak orang menganggap globalisasi akan menghapus identitas lokal. Kenyataannya tidak selalu demikian.
Dalam banyak kasus, budaya yang mampu beradaptasi berhasil menemukan ruang hidup baru di tempat yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan.
Saat mahasiswa di Amerika kini memainkan gamelan Jawa.
Akademisi internasional mempelajari wayang.
Ruang-ruang kuliah modern kini kerap membahas filosofi Jawa.
Yang berpindah bukan hanya seni pertunjukannya. Akan tetapi yang ikut berpindah adalah cara berpikir.
Yang Hilang Bukan Sekadar Tradisi
Kisah ini penting karena menyentuh pertanyaan yang lebih dekat daripada yang kita kira.
Di mana ketika tren digital berubah setiap minggu, banyak orang sibuk mencari identitas baru.
Tanpa kita sadari, sebagian jawabannya mungkin sudah ada di sekitar kita sejak lama.
Budaya bukan sekadar warisan masa lalu.
Budaya membentuk memori kolektif yang membantu masyarakat memahami identitasnya.
Ketika hubungan dengan budaya terputus, yang hilang bukan hanya kesenian. Yang hilang adalah arah.
Saat Orang Lain Menjaga, Kita Sedang Apa?
Hari ini, suara gamelan masih terdengar di aula kampus Amerika. Pertunjukan wayang masih digelar. Mahasiswa masih mempelajari filosofi yang lahir jauh dari tempat mereka dibesarkan.
Sementara itu, di Indonesia, perdebatan tentang relevansi budaya tradisional terus berlangsung.
Mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan apakah budaya Jawa masih relevan.
Pertanyaannya lebih sederhana.
Jika orang lain rela menjaga warisan itu dengan serius, mengapa kita justru sering ragu untuk melakukannya?
Karena pada akhirnya, budaya tidak hilang ketika tidak lagi dipentaskan.
Budaya hilang ketika tidak lagi dianggap penting. @waras






