Kamis, September 17, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kita Tidak Kekurangan Suara, Kita Kehilangan Kesadaran

by dimas
Mei 24, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on Facebook
Share on Twitter
Kita tidak kekurangan suara, kita kehilangan kesadaran. Media sosial membuat semua orang bicara, tapi lupa cara memahami.

Tabooo.id – Menertawakan orang lain memang mudah. Namun, menertawakan diri sendiri terasa jauh lebih sulit. Banyak orang gemar mengkritik liyan, tetapi enggan memeriksa dirinya sendiri. Kita cepat menunjuk kesalahan orang lain, sementara ego pribadi terus dibiarkan tumbuh tanpa koreksi.

Masalahnya ada di situ.

Masyarakat modern semakin awas melihat keluar, tetapi malas menelisik ke dalam. Kita rajin mencela, tetapi jarang menata diri. Akibatnya, ruang publik berubah bising. Percakapan muncul di mana-mana, tetapi penghayatan makin menghilang.

Semua orang ingin berbicara. Sedikit yang benar-benar ingin memahami.

Di media sosial, jutaan orang berlomba menyampaikan opini. Sayangnya, banyak orang tidak lagi peduli apakah ucapannya memberi makna atau sekadar menambah keributan. Yang penting terlihat aktif. Yang penting hadir di linimasa.

Ini Belum Selesai

Karhutla Meluas, Tanggung Jawab Korporasi Jadi Sorotan

Suap HGB Terbongkar, Sistem Pertanahan Jadi Sorotan

Padahal, suara yang terlalu ramai sering kali membuat kebenaran tenggelam.

Kata-Kata Bisa Menjadi Awal Kehancuran

Filsuf Konfusius pernah mengatakan bahwa peradaban lahir dari kecermatan berbicara. Sebab itu, manusia harus menata kata sebelum menata dunia. Ketika bahasa kehilangan ketertiban, ruang publik ikut runtuh.

Pandangan itu terasa sangat relevan hari ini.

Martin Heidegger bahkan menyebut bahasa sebagai “rumah eksistensi manusia.” Artinya, kata-kata bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa menunjukkan siapa diri kita sebenarnya. Cara seseorang berbicara mencerminkan kualitas pikirannya.

Namun sekarang, banyak orang memperlakukan kata seperti peluru.

Media sosial dipenuhi umpatan, fitnah, hinaan, serta tuduhan tanpa dasar. Orang menyebarkan potongan video tanpa konteks. Sebagian netizen menghakimi sebelum memahami duduk persoalan. Bahkan, banyak pengguna internet membagikan kabar tanpa membaca isi berita secara utuh.

Ironisnya, kebiasaan itu terus dianggap normal.

Padahal, konflik besar sering lahir dari kekerasan simbolik lebih dulu. Sebelum manusia saling menyerang secara fisik, mereka biasanya saling menghancurkan melalui bahasa. Fitnah, propaganda, dan narasi kebencian menjadi bahan bakar yang memicu permusuhan berkepanjangan.

Ketika api kebencian mulai menyala, semua hal ikut terbakar. Relasi sosial hancur. Kepercayaan runtuh. Trauma psikologis bertahan sangat lama.

Karena itu, hampir semua tokoh besar dunia menekankan pentingnya menjaga ucapan.

Nabi Muhammad mengajarkan manusia untuk berkata baik atau diam. Sidharta Gautama memilih jalan perenungan sebelum menyampaikan kebijaksanaan. Nabi Isa bahkan mengajarkan puasa berbicara sebagai bentuk pengendalian diri.

Mereka memahami satu hal penting: kata-kata mampu menyelamatkan manusia, tetapi juga bisa menghancurkannya.

Demokrasi Berubah Menjadi Arena Kebisingan

Setelah Orde Baru runtuh, Indonesia menikmati kebebasan berbicara yang jauh lebih luas. Masyarakat bisa mengkritik pemerintah tanpa rasa takut seperti masa sebelumnya. Namun, kebebasan itu ternyata menghadirkan persoalan baru.

Sekarang, hampir tidak ada batas dalam percakapan publik.

Semua orang merasa wajib berkomentar, semua isu dibahas tanpa jeda dan semua topik diperdebatkan tanpa kedalaman. Akibatnya, ruang demokrasi berubah menjadi arena kebisingan.

Dulu negara memonopoli tafsir. Kini algoritma media sosial mengambil alih peran itu.

Selain itu, masyarakat mulai kehilangan budaya mendengar. Orang lebih sibuk menyiapkan bantahan daripada memahami lawan bicara. Bahkan, sebagian publik merasa harus memiliki opini tentang semua hal, meskipun tidak benar-benar menguasai persoalannya.

Fenomena itu terlihat jelas dalam politik identitas.

Isu SARA yang dulu dianggap sensitif kini berubah menjadi alat mobilisasi massa. Banyak elite politik memanfaatkan sentimen agama dan identitas demi meraih dukungan cepat. Mereka memainkan emosi publik karena kemarahan jauh lebih mudah dijual dibanding gagasan.

Akibatnya, masyarakat semakin terbelah.

Media sosial memperparah situasi tersebut. Facebook, TikTok, Instagram, dan X berubah menjadi panggung tanpa moderator. Semua orang memegang mikrofon digital. Namun, tidak semua orang membawa tanggung jawab.

Yang paling emosional sering kali paling viral.

Sementara itu, suara yang tenang justru tenggelam.

Ketika Viral Lebih Penting daripada Benar

Di era digital, ukuran kebenaran perlahan berubah. Banyak orang tidak lagi bertanya apakah sebuah informasi akurat. Mereka justru bertanya apakah informasi itu ramai dibicarakan.

Viral menjadi standar baru.

Karena itu, hoaks berkembang sangat cepat. Orang membagikan informasi bukan karena memahami isinya, melainkan karena merasa emosinya terwakili. Kemarahan, ketakutan, dan kebencian bergerak jauh lebih cepat dibanding klarifikasi.

Selain itu, budaya followers mulai menggantikan konsep warga negara.

Popularitas digital terasa lebih penting daripada integritas. Banyak orang mengejar perhatian tanpa memikirkan dampak sosialnya. Bahkan, sebagian tokoh publik sengaja memancing kontroversi demi menjaga eksistensi.

Ironisnya, masyarakat ikut menikmati pertunjukan tersebut.

Kita hidup di tengah banjir komentar, tetapi kekurangan refleksi. Kita memiliki banyak suara, tetapi kehilangan kedalaman berpikir. Demokrasi akhirnya berubah menjadi kompetisi emosi yang melelahkan.

Literasi Menjadi Jalan Keluar

Karena itu, penguatan literasi menjadi kebutuhan mendesak. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca tulisan. Literasi juga berarti kemampuan memahami konteks, memeriksa informasi, serta mengendalikan emosi sebelum bereaksi.

Melalui literasi, masyarakat belajar membedakan fakta dan propaganda.

Selain itu, literasi membantu publik memahami kapan harus berbicara dan kapan perlu diam. Kemampuan itu sangat penting di era media sosial yang bergerak terlalu cepat.

Nabi Muhammad membuka peradaban Islam dengan satu kata penting: iqra.

Bacalah.

Manusia tidak hanya perlu membaca teks. Kita juga harus membaca sejarah, membaca situasi sosial, dan membaca diri sendiri. Tanpa kemampuan itu, masyarakat akan terus terjebak dalam kebisingan tanpa arah.

Pada akhirnya, masalah terbesar bangsa ini mungkin bukan kurangnya kebebasan berbicara.

Masalah sebenarnya adalah hilangnya kesediaan untuk bercermin.

Kita terlalu sibuk menertawakan orang lain. Namun, kita lupa bahwa mungkin diri kita sendiri juga bagian dari kerusakan yang setiap hari kita kutuk.

Di zaman semua orang ingin didengar, kemampuan paling langka justru keberanian untuk diam dan berpikir. @dimas

Tags: Demokrasi IndonesiaLiterasi DigitalMedia SosialPolitik IdentitasRuang Publik

Kamu Melewatkan Ini

Tragedi Semanggi II: Luka Reformasi yang Belum Selesai

Tragedi Semanggi II: Luka Reformasi yang Belum Selesai

by dimas
September 12, 2026

Tragedi Semanggi II menjadi luka Reformasi 1999 ketika aksi mahasiswa berujung korban jiwa dan menyisakan pertanyaan tentang demokrasi serta pertanggungjawaban...

Ketika Sound Horeg Jadi Soal Kuasa: Siapa Berhak Menentukan Batas?

Ketika Sound Horeg Jadi Soal Kuasa: Siapa Berhak Menentukan Batas?

by teguh
September 10, 2026

Polemik “goblok” hanya permukaan. Di bawahnya ada benturan antara kebebasan, kenyamanan publik, otoritas, dan negara. Kata “goblok” tiba-tiba masuk ke...

Video Pendek vs Buku: Krisis Membaca di Era Algoritma

Video Pendek vs Buku: Krisis Membaca di Era Algoritma

by dimas
September 8, 2026

Video pendek dan algoritma mengubah cara kita memberi perhatian. Benarkah kebiasaan scroll membuat kita makin sulit membaca dan memahami bacaan...

Next Post
Plastik Sekali Pakai: Kenyamanan Kecil yang Menghancurkan Laut

Plastik Sekali Pakai: Kenyamanan Kecil yang Menghancurkan Laut

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id