Tabooo.id: Film – “Kadang, yang paling menakutkan bukan hantu di balik pintu… tapi lelucon yang terlalu jujur.”
Begitu kira-kira kesan pertama setelah menonton Kang Solah from Kang Mak x Nenek Gayung.
Film ini bukan sekadar kelanjutan dari Kang Mak from Pee Mak, tapi seperti pesta pora yang meledak di tengah kuburan penuh tawa, absurd, dan tetap sedikit menyeramkan.
Antara Arwah dan Lelucon
Kang Solah membuka babak baru dari semesta horor-komedi garapan Falcon Pictures. Spin-off ini memilih jalannya sendiri: menanggalkan beban adaptasi Pee Mak dan menyelam ke dunia lokal lewat mitos Nenek Gayung.
Di tangan penulis Alim Sudio, formula ini jadi kombinasi yang berani antara komedi slapstick dan aroma mistis kampung halaman.
Rigen Rakelna, Indra Jegel, Tora Sudiro, dan Indro Warkop kembali sebagai geng absurd yang tak bisa diam. Mereka seperti empat makhluk astral yang dilempar ke dunia nyata dan berusaha hidup normal, tapi malah bikin kekacauan.
Ditambah Andre Taulany, Asri Welas, dan Indy Barens, film ini menjelma jadi karavan tawa yang tak kenal rem.
Secara naratif, film ini masih bermain aman. Ceritanya ringan, mudah diikuti, dan tidak memaksa penonton berpikir keras. Tapi justru di situlah daya tariknya: Kang Solah tahu ia tidak sedang membuat film arthouse; ia hanya ingin membuatmu tertawa dan sedikit merinding.
Komedi yang (Hampir) Keblabasan
Alim Sudio memberi ruang bebas bagi para komedian untuk berimprovisasi. Hasilnya? Beberapa adegan terasa seperti panggung stand-up comedy yang kebetulan tersesat di set film horor.
Ada lelucon yang cerdas, ada juga yang “asbun” asal bunyi tapi entah kenapa tetap lucu.
Tawa meledak dari dialog spontan, bahkan dari CGI yang sengaja dibuat konyol. Visual efek yang “ngadi-ngadi” itu bukan kelemahan justru bagian dari pesona absurd Kang Solah.
Namun di tengah tawa, muncul paradoks: unsur horor jadi seperti topping di atas martabak tebal humor. Nenek Gayung, yang seharusnya membawa elemen mistis, justru lebih terasa sebagai cameo komedi ketimbang ancaman nyata.
Bagi sebagian penonton, ini bisa jadi kecewa kecil; bagi yang lain, justru alasan untuk menonton ulang.
Drama yang Menyusup di Tengah Kekonyolan
Kehadiran Asri Welas dan Indy Barens menambah dimensi baru mereka menyuntikkan kehangatan keluarga di tengah kegilaan.
Film ini, secara tak terduga, menyinggung soal kehilangan, kebersamaan, dan cara orang Indonesia menertawakan kesedihan.
Mungkin di situlah “horor” sejatinya: bahwa di balik tawa, ada rasa takut untuk benar-benar sendiri.
Kang Solah seperti ingin berkata bahwa hidup memang absurd kadang kita harus menertawakan tragedi agar tetap waras.
Antara Parodi dan Potensi Universe
Yang menarik, film ini seperti menyiapkan sesuatu yang lebih besar.
Lewat guyonan meta, Kang Solah sesekali menyenggol proyek lain seperti Miracle in Cell No.7 dan LOL: Last One Laughing Indonesia.
Seolah Falcon Pictures sedang membangun “semesta jenaka” versi mereka sendiri tempat para hantu, pelawak, dan manusia patah hati bisa hidup berdampingan.
Apakah ini awal dari Falcon Horror-Comedy Universe? Bisa jadi.
Dan kalau iya, Kang Solah sudah menjadi pijakan awal yang cukup solid meski belum sepenuhnya menggigit.
Tawa yang Menyelamatkan
Pada akhirnya, Kang Solah from Kang Mak x Nenek Gayung bukan film yang ingin menakut-nakuti, tapi yang ingin mengingatkan kita bahwa humor bisa jadi bentuk bertahan hidup.
Dalam dunia yang makin absurd, mungkin kita memang butuh sesuatu yang sama gilanya untuk tetap tertawa.
Film ini bukan karya sempurna tapi juga tak berusaha jadi sempurna. Ia tahu dirinya hanya ingin menghibur, dan ia berhasil. @dimas




