Tabooo.id: Deep – Angin laut tidak pernah peduli siapa kamu. Ia datang, menghantam, lalu pergi. Tapi bagi Lamar Mufti, setiap ombak selalu membawa tantangan yang sama seberapa jauh kamu berani jadi dirimu sendiri?
Di atas papan selancar, dengan hijab yang tetap terikat kuat, Lamar tidak sekadar menjaga keseimbangan tubuh. Ia menantang batas batas sosial, batas budaya, bahkan batas ketakutan yang sering tumbuh diam-diam.
Dan di dunia yang sering memaksa perempuan memilih antara iman atau mimpi ia justru memilih keduanya.
Tatapan Dunia yang Tidak Pernah Netral
Awalnya, Lamar hanya ingin berselancar. Namun, panggung internasional mengubah segalanya. Kini, setiap langkahnya membawa makna yang lebih besar.
“Merupakan suatu kehormatan menjadi satu-satunya perempuan berhijab di ISA,” tulisnya di Instagram.
“Tapi saya juga mewakili agama, budaya, dan negara.”
Di satu sisi, kalimat itu terdengar membanggakan. Namun di sisi lain, ia memuat tekanan yang tidak ringan.
Karena saat seseorang menjadi “yang pertama”, publik selalu memberi lebih banyak sorotan. Dan ironisnya, sorotan itu sering berubah menjadi penilaian.
Konflik yang Tidak Selalu Terlihat
Di balik ombak dan kompetisi, Lamar menghadapi konflik yang jauh lebih dalam. Ia tidak hanya berlatih teknik. Ia juga terus berdialog dengan ekspektasi.
Ekspektasi tentang bagaimana perempuan harus tampil dan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Dalam wawancara yang dikutip dari Vogue Arabia (13/04/2026), Lamar berkata:
“Saya sering menerima pesan dari perempuan yang ingin mencoba berselancar, tapi ragu. Bahkan ada yang akhirnya mendapat izin orang tua setelah melihat saya.”
Kalimat itu membuka realitas yang jarang dibicarakan.
Banyak perempuan masih harus meminta izin untuk mencoba sesuatu yang sederhana. Namun di titik ini, Lamar hadir sebagai pemicu bukan dengan ceramah, tapi dengan aksi.
Hijab: Dari Simbol Batas Jadi Simbol Kuasa
Selama ini, banyak orang melihat hijab sebagai batas. Namun Lamar mengubah cara pandang itu. Ia menjadikan hijab sebagai pernyataan.
“Olahraga seharusnya tidak membuat seseorang mengorbankan identitasnya,” tegasnya.
“Sebaliknya, olahraga harus memberdayakan.”
Dengan sikap itu, Lamar tidak menyesuaikan diri dengan standar lama. Sebaliknya, ia menciptakan standar baru.
Dan di sinilah letak keberaniannya ia tidak menunggu penerimaan, ia langsung bergerak.
Perubahan Arab Saudi: Tidak Cepat, Tapi Bergerak
Cerita Lamar tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh di tengah perubahan besar di Arab Saudi.
Dulu, ruang publik untuk perempuan sangat terbatas. Namun sekarang, ruang itu mulai terbuka meski belum sepenuhnya bebas.
Bersama Leila Zahid dan Rmas Alhazmi, Lamar ikut membangun fondasi surfing di negaranya.
Mereka tidak hanya belajar membaca ombak. Mereka juga menciptakan ruang yang sebelumnya tidak tersedia.
Menurut pengamat sosial Dr. Aisha Al-Harbi (2025):
“Perempuan Saudi hari ini tidak hanya mencari kebebasan, tapi sedang mendefinisikan ulang maknanya.”
Dengan kata lain, perubahan memang berjalan pelan. Namun arah perubahannya sudah jelas.
Tekanan: Dari Luar dan Dari Dalam
Sebagai atlet, Lamar menghadapi tekanan seperti atlet lain. Namun tekanannya datang dari dua arah sekaligus.
Pertama, tekanan eksternal publik, media, dan stereotip, Kedua, tekanan internal pertanyaan tentang identitas diri.
Apakah ia cukup modern? Atau justru terlalu berbeda?
Di titik ini, Lamar tidak hanya berselancar di laut. Ia juga menjaga keseimbangan di antara dua dunia.
Dan tentu saja, keseimbangan itu tidak pernah mudah.
Representasi yang Mengubah Arah
Kehadiran Lamar membawa efek yang lebih luas. Banyak orang tidak hanya melihatnya sebagai atlet. Mereka melihat kemungkinan baru.
Kemungkinan untuk tetap menjadi diri sendiri. Serta bermimpi tanpa harus melepas identitas. Pelatih surfing internasional Mark Reynolds (2024) pernah mengatakan:
“Yang paling menginspirasi bukan yang paling kuat, tapi yang berani berbeda.”
Lamar membuktikan itu bukan lewat kata-kata, tapi lewat keberanian yang konsisten.
Lebih dari Sekadar Olahraga
Pada akhirnya, cerita ini bukan hanya tentang surfing.
Ini tentang keberanian untuk tetap utuh di tengah tekanan. Ini tentang perempuan yang tidak menunggu izin untuk bergerak.
Setiap ombak yang ia hadapi bukan sekadar tantangan fisik. Sebaliknya, setiap ombak menjadi simbol dari batas yang ia runtuhkan.
Dan perlahan, batas itu tidak hanya runtuh untuk dirinya sendiri tapi juga untuk banyak perempuan lain.
Penutup: Pertanyaan yang Tidak Bisa Kita Hindari
Lamar Mufti sudah menunjukkan satu hal penting Bahwa identitas bukan penghalang. Bahwa mimpi tidak harus dikorbankan.
Namun sekarang, pertanyaannya bergeser ke kita Kalau laut saja menerima siapa pun tanpa syarat, lalu kenapa manusia masih sibuk menentukan siapa yang “boleh” bermimpi?. @teguh

![[Polling] Perempuan Sudah Merdeka atau Cuma Terlihat Merdeka?](https://tabooo.id/wp-content/uploads/2026/04/Polling-Perempuan-Sudah-Merdeka-atau-Cuma-Terlihat-Merdeka-350x250.jpg)




