Tabooo.id: Talk – Pernah merasa sudah bekerja keras, tetapi hasilnya tetap tertinggal dari orang lain yang punya akses lebih cepat? Di situ, kecemburuan sosial tidak muncul tiba-tiba. Sebaliknya, ia tumbuh perlahan dari jarak antara harapan dan kenyataan. Karena itu, kita perlu bertanya ulang apakah masalah ini benar-benar soal moral individu, atau justru soal sistem yang bekerja di belakangnya?
Peta Jalan Karakter Kembali Mengemuka
Pada awal April 2026, Bappenas kembali menyusun Peta Jalan Pembangunan Karakter dan Jati Diri Bangsa. Selain itu, pemerintah menempatkan agenda ini sebagai lanjutan dari program sebelumnya, termasuk Revolusi Mental pada era Presiden Joko Widodo.
Namun demikian, publik tetap menyimpan pertanyaan yang sama. Jika program ini terus bergulir, mengapa masalah sosial yang sama tetap muncul di permukaan?
Kecemburuan Sosial Lahir dari Kesenjangan
Kecemburuan sosial tidak berdiri sendiri. Sebaliknya, ia muncul ketika masyarakat melihat jarak yang semakin lebar antara harapan dan realitas.
Misalnya, ketika sebagian kelompok bergerak cepat karena akses, koneksi, dan peluang, sementara kelompok lain harus memulai dari titik yang jauh lebih rendah, maka rasa ketidakadilan mulai tumbuh. Akibatnya, emosi sosial ikut meningkat dan mudah meledak dalam berbagai bentuk.
Pertanyaan Lama yang Belum Tuntas
Sejak 1977, Mochtar Lubis pernah menggambarkan sejumlah karakter manusia Indonesia, termasuk hipokrisi dan feodalisme. Akan tetapi, satu hal penting sering terabaikan: mengapa karakter itu bisa muncul dan bertahan begitu lama?
Jika kita melihat lebih dalam, seseorang tidak selalu memilih untuk bersikap hipokrit. Justru sebaliknya, banyak orang membentuk citra tertentu karena sistem sosial menuntutnya agar tetap diterima.
Sistem dan Pengalaman Sosial yang Membentuk Karakter
Selain itu, kecemburuan sosial juga tumbuh dari pengalaman hidup yang tidak setara. Ketika akses pendidikan, ekonomi, dan peluang tidak terbagi secara merata, masyarakat mulai membandingkan diri satu sama lain.
Dengan demikian, karakter kolektif tidak hanya lahir dari individu. Sebaliknya, ia terbentuk melalui cara sistem bekerja dan bagaimana ketimpangan itu terus berulang dalam kehidupan sehari-hari.
Twist
Mungkin selama ini kita terlalu fokus pada karakter individu. Padahal, bisa jadi kita sedang hidup dalam sistem yang terus memproduksi rasa tertinggal, lalu menyebutnya sebagai masalah moral.
Dengan kata lain, selama perhatian hanya tertuju pada perilaku masyarakat, bukan pada struktur yang membentuknya, maka kecemburuan sosial akan terus dianggap kesalahan pribadi, bukan hasil dari pola yang lebih besar.
Human Impact
Ini dampaknya buat kamu rasa iri, marah, atau merasa tidak cukup sebenarnya tidak selalu datang dari dalam diri. Sebaliknya, itu bisa menjadi respons alami terhadap lingkungan yang tidak memberikan kesempatan yang sama.
Oleh karena itu, jika kondisi ini terus berlanjut, banyak orang akan terus merasa tertinggal, meskipun mereka sudah berusaha keras setiap hari.
Analisis Ringan
Di satu sisi, pembangunan karakter memang penting. Namun di sisi lain, ia tidak bisa berdiri sendiri tanpa perubahan sistem yang mendukungnya.
Selain itu, kita sering lebih cepat mengoreksi cara orang berpikir, daripada memperbaiki kondisi yang membentuk cara berpikir tersebut. Akibatnya, masalah yang sama terus berulang dalam bentuk yang berbeda.
Penutup
Jika karakter bangsa terus menjadi sorotan utama, maka pertanyaan berikutnya menjadi penting kapan kita mulai membenahi sistem yang ikut membentuk karakter itu sendiri? @dimas







